Selasa, 12 Oktober 2021

4 Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat

4 Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat | TradisiKita - Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, mempunyai luas wilayah 20.153,15 km2. Terletak antara 115° 46' - 119° 5' Bujur Timur dan 8° 10' - 9 °g 5' Lintang Selatan. Adapun suku orisinil yang mendiami di Provinsi ini ialah suku sasak, suku bima dan suku sumbawa.

Masyakarat suku Sasak, Bima dan Sumbawa memiliki bermacam-macam kebudayaan yang mampu kita lihat dari kehidupan sehari-hari. Salah satu karya budaya yang sampai ketika ini masih menempel dalam kehidupan mereka artinya berupa senjata tradisional. Senjata tradisional Nusa Tenggara Barat ini dipergunakan selain menjadi indera bantu untuk bercocok tanam, berburu dan benda pusaka, dalam saat ini penggunaannya jua menjadi pertidak ada yg kurangan pada pakaian istiadat.

Penggunaan senjata tradisional Nusa Tenggara Barat tadi diatas, tentu tidak sama dengan saat-ketika awal senjata tradisional tersebut dibentuk. Pada zaman berlalu & silam, senjata tradisional tersebut dibuat menggunakan tujuan sebagai indera buat menjaga diri baik dari serangan musuh juga dari fauna ternak, & sebagian lainnya jua digunakan buat berburu hewan buat konsumsi.

Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat

Pada kesempatan ini TradisiKita akan menampilkan senjata-senjata tradisional dari Provinsi Nusa Tenggara Barat ini kepada Sobat di Nusantara, dengan tujuan untuk menambah wawasan budaya teman Nusantara dimana saja berada.

 Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat 4 Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat

Berikut penjelasan & gambar senjata tradisional Nusa Tenggara Barat yang mampu kita ketahui bersama :

1. Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tulup

Orang Indonesia mengenal tulup menjadi senjata yg digunakan untuk berburu atau menyerang lawan menurut jarak jauh. Tulup atau sumpit memang dipakai sang banyak suku yg tinggal di pedalaman Indonesia mirip di Kalimantan, Papua, Sumatra & termasuk di Nusa Tenggara Barat.

Nenek Moyang suku sasak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengenal tulup sebagai alat untuk berburu hewan di hutan. Pemburu tradisional Sasak beropini bahwa, selain sebagai senjata berburu, tulup juga dianggap sebagai benda sakral. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa berburu ialah mata pencaharian mereka sedangkan tulup ialah alat mereka mencari rezeki, untuk itu tulup perlu dihargai dan dihormati. Pensakralan terhadap tulup mereka ekspresikan dalam bentuk memmemberikan doa atau jampi-jampi pada tulup mereka. Selain untuk penghormatan dan permohonan kepada Yang Kuasa, doa dan jampi-jampi ditujukan semoga tulup sanggup menghasilkan banyak hewan buruan. Maka dari itu tidak heran jikalau oleh beberapa pemburu, tulup beserta ancar (peluru tulup) dan terontong (tempat menyimpan ancar) selalu digantung di atas tembok rumah-rumah mereka (Lalu Wiramaja et al., 1993).

Di zaman sekarang, beberapa kelompok masyarakat yang tinggal di bersahabat hutan, masih memakai tulup untuk berburu. Hutan Lombok yang lebat dan banyaknya babi serta monyet yang berkeliaran di sana menciptakan praktik berburu ini masih diminati oleh beberapa penduduk. Akan tetapi knorma dan sopan santun pemerintah propinsi yang berhubungan dengan Departemen Kehutanan melarang monyet (lutung budeng atau trachypithecus auratus kohlbruggei ) untuk dibunuh alasannya hewan dan makhluk hidup ini termasuk hewan dan makhluk hidup yang dilindungi, jumlah pemburu tradisional semakin hilang

Tulup orang Sasak mempunyai tiga komponen penting yaitu, gagang tulup, ancar (peluru tulup), dan terontong (tempat menyimpan ancar). Agar hewan cepat mati, biasanya pada ancar (peluru tulup) dioleskan racun yang berasal dari getah pohon tatar. Getah ini sangat manjur untuk membunuh binatang. Binatang mirip monyet akan mati dalam waktu ludang kecepeh kurang 15-30 menit. Sementara babi membutuhkan waktu ludang kecepeh kurang 2 hari (Wiramaja et al., 1993). Saat berburu, ketiga komponen tersebut harus dibawa alasannya ketiganya saling metidak ada yang kurangi.

Orang Sasak cukup memperringan dan sepele untuk mendapat bahan-bahan yang diharapkan jikalau ingin menciptakan tulup. Hal ini dikarenakan bahan-bahan tersebut tersedia dan tumbuh di sekitar lingkungan daerah tinggal mereka. Tulup mempunyai tiga komponen penting, yaitu gagang tulup, ancar (peluru tulup), racun tulup dan terontong (tempat menyimpan ancar).

Adapun materi pembuat tulup antara lain :

  • Kayu meranti untuk menciptakan gagang tulup
  • Pelepah pohon enau (pinang atau aren) untuk menciptakan batang dan mata ancar (peluru tulup)
  • Getah pohon tatar untuk menciptakan racun
  • Bambu untuk menciptakan terontong

dua. Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat - Keris

Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat jua mengenal aneka macam macam keris menjadi senjata tradisional. Namun, adanya dua lintasan yg dilewati budaya keris ke NTB, yaitu lintasan utara dari Bugis masuk ke NTB cuilan timur, sedangkan lintasan Barat berdasarkan Bali ke Lombok

Perbedaan keduanya antara lain dari segi bentuk. Keris Lombok secara umum berukuran besar dan panjang, yakni antara 58 centimeter sampai 71 centimeter. Sedangkan keris Sumbawa berukuran akbar & pendek, yakni antara 34 cm sampai 51 centimeter. Sementara itu keris Jawa ukuran sedang, antara 49 cm sampai 51 centimeter.

Istilah / nama Keris pada lombok jua dikenal menjadi Sampari, yaitu istilah lokal etnis Mbojo (Bima & dompu) buat Keris yang ber-teritorial di daerah pulau Sumbawa cuilan timur. Tampilan tetap mengadopsi berdasarkan muasal induk, khas jajaran keris Sulawesi. Variasi kayu, seperti umumnya memasangkan dua jenis pilihan, dalam angkup (yang seperti tubuh kapal phinisi) dan hulu menggunakan kayu kemuning, menggunakan tekstur yg ludang kecepeh padat. Lalu dalam gandar yg bercorak coklat gelap sejauh ini belum bisa saya berhasil identifikasi. Tekstur kayu nir sepadat kemuning, namun melihat tektur terdapat deretan belang mirip merujuk dalam jenis kayu yg sang komunitas Sulawesi dijuluki kayu Bawang.

Tiga. Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat - Kelewang

Senjata tradisional Nusa Tenggara Barat selanjutnya yang akan kita kenal yaitu Klewang yang merupakan pedang khas tentara khusus kerajaan Lombok. Kisaran tahun penciptaan berkisar rentang 1700 – 1800 Masehi. Sebagaimana diungkap dalam buku “Keris Lombok” karangan Bapak Ir. Lalu Djelenga. Masyarakat umum di Lombok ludang kecepeh sering menyebut Klewang. Julukan yang hampir sama bagi tiruana jenis pedang. Pasukan tentara kerap menyandang di cuilan tubuh-punggung belakang. Bentuk bilah besi terhunus dengan lengkungan khas. Ujung mata pedang meruncing pada sisi bilah cuilan yang tajam. Pamor pada mula dan akar bilah sangat kontras dengan tera motif yang kian tampil cantik. Terutama pada cuilan tengah bilah hingga ujung. Rentang panjang bilah capai 50 cm.

Warangka terbuat dari ebonit. Tidak lazim mirip umumnya materi warangka keris spesial Lombok, bersanding kayu Berora Pelet. Sedikit memmemberikan kesan tegas & garang. Namun masih bernuansa estetis dengan pemanis asesoris, segmen kemasan lempeng perak & kuningan. Ukiran motif minimalis hanya masih ada pada cuilan hulu warangka.

4. Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat - Golok

Pisau akbar / golok ini adalah salah satu senjata tradisional suku Sasak yang dari menurut Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gagang golok terbuat dari tanduk ukir berbentuk seujung singa utuh menggunakan kecermatan ukiran yang mengagumkan. Semacam mendak perak melingkar dintara gagang golok & bilahnya. Sarung golok terbuat dari kayu berukir motif tradisional setempat. Sekilas tempak terlihat kemiripan referensi ukiran menggunakan gesekan tradisional Bali. Bilah golok ditempa berdasarkan baja putih tanpa pamor yang relatif tebal. Golok tradisional Lombok protesis usang yang dibentuk khusus buat kalangan eksklusif (bukan suvernir)

Demikian Sobat Tradisi, 4 senjata tradisional Nusa Tenggara Barat yang sanggup kita kenal waktu ini. Semoga informasi mengenai 4 senjata tradisional Nusa Tenggara Barat tersebut memberi manfaat buat menambah wawasan Sobat Tradisi mengenai berbagai macam senjata tradisional pada Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar