Senin, 04 Oktober 2021

Legenda La Hila Dari Tanah Donggo Nusa Tenggara Barat

Legenda La Hila berdasarkan Tanah Donggo Nusa Tenggara Barat | TradisiKita - La Hila yaitu sebuah dongeng masyarakat Bima yang tinggal di dataran tinggi Donggo. La Hila merupakan sosok perempuan anggun jelita, yang menjadi rebutan pada laki-laki pada waktu itu. Bahkan alasannya kecantikannya menciptakan banyak laki-laki yang saling membunuh untuk memperebutkannya. Hal ini tentu tidak menciptakan bahagia La Hila yang dikenal mempunyai kebijaksanaan pekerti yang sangat baik. Kesedihan La Hila ini menciptakan final dongeng ini berakhir murung pula.

Penasaran menggunakan alur dongeng rakyat Bima mengenai Legenda La Hila ini? Yuk ketahui sekomplitnya dibawah ini :

Legenda La Hila berdasarkan Tanah Donggo Nusa Tenggara Barat

Ada sebuah dongeng di masa silam. Dongeng ini datangnya dari tanah Donggo yang tinggi. Pasalnya ada seorang gadis yang sangat anggun di Donggo Kala. Tidak ada orang yang tahu anak siapa si gadis itu. Namanya La Hila. Tapi La Hila dibesarkan oleh seorang nenek yang berjulukan Wa’i Kimpi. Dengan penuh ketabahan Wa’i Kimpi membesarkan La Hila. Dia jaga dan rawat La Hila layaknya mirip anak kandungnya sendiri. Kasih sayang Wa’i Kimpi tiada pupus untuk La Hila.

Kecantikan La Hila tiada bandingannya. Wajahnya yang bundar , putih & membersihkan. Hidungnya yg mancung. Bibirnya yg anggun dan tipis. Lehernya yg indah, bila meminum sesuatu kelihatanlah anutan air & makanannya.Apabila ingin mengeringkan rambutnya, maka disiapkanlah tujuh butir galah buat menjemur rambutnya.

Perangai La Hila relatif baik dan bersahaja. Tutur katanya sangat halus. Tingkah lakunya benar-benar sopan. Semua orang di kampung itu bahagia melaihat La Hila. Seperti ungkapan, La Hila yaitu kuncup & bunga desa itu. Bunga menurut sekian poly bunga pada kampung Kala itu.

Ada sebuah sungai yg mengalir & airnya relatif membersihkan. Sungai itulah yang menjadi daerah mandi La Hila bersama Inang Pengasuhnya. Tujuh perempuan diharapkan buat memegang rambut La Hila. Tujuh butir kelapa yang dipakai buat keramas rambut La Hila. Pokoknya mesti tujuh. Seperti tujuh lapis langit & tujuh lapis bumi.

Kecantikan & kemolekan La Hila sudah tersiar ke seantero negeri. Banyak cowok yg ingin melihat La Hila. Kabar tentang kecantikan La Hila telah tersiar hingga ke kerajaan Bima & Tanah Sanggar. Di kerajaan Bima, ada putera mahkota yang tampan berjulukan Siri Gani. Sedangkan pada kerajaan Sanggar ada putera Mahkota yg jua ganteng berjulukan Siri Dungga.

Lantaran ingin melihat La Hila, putera Mahkota Kerajaan Bima yg berjulukan Siri Gani pulang berburu ke dataran tinggi Donggo. Dia ingin sekali melihat La Hila. Pada suatu kadab pada pagi hari, La Hila sedang mandi. Dia berjalan mengikuti La Hila sampai tiba di rumahnya. Dia sampaikan keinginannya dalam Wa?I Kimpi yg sedang memasak.

? Wa?I,saya putera Mahkota Kerajaan Bima.Saya sangat mengasihi La Hila & ingin berkeluargainya. ? Siri Gani menaruh keinginannya.

? Itu asa yang baik sekali. Tapi tiruana itu akan berpulang dalam asa hati La Hila. ?

? Itulah yang ingin aku sampaikan. Apakah saya wajib menyuruh juru lamar kerajaan buat datang kemari ? Siri Gani menaruh

? Saya Tanya dulu La Hila.?

Sebentar kemudian Wa?I Kimpi pulang menanyakan pada La Hila. Dijawabanlah sang La Hila bahwa dia akan berpikir-pikir dulu.Tapi nir apalah apabila Putera Mahkota datang buat jalan-jalan kalau ada waktu. Mendengar isi hati La Hila itu senanglah hati Siri Gani. Itu pertanda bahwa terdapat yang dinantikan.

Tetapi keesokan harinya, Putera Mahkota kerajaan Sanggar yang berjulukan Siri Dungga mendatangi kediaman La Hila. Melihat kecantikan La Hila matanya tiada berkedip. Seperti halnya Siri Gani, Siri Dungga juga ingin berkeluargai La Hila. Sehabis mandi, Siri Dungga beserta para pengawalnya mendatangi kediaman La Hila. Dia memberikan tertentu keinginannya kepada La Hila. Lalu dijawabanlah sang La Hila.

? Berikan kesempatan saya untuk berpikir. Tapi tidak apa ?Apalah jika datang buat jalan-jalan dulu. ?

Mendengar jawabanan La Hila itu, senanglah hati Siri Dungga. Hatinya seperti bunga yg sedang mekar. Karena senangnya, beliau nir pernah berpikir jauhnya tanah Sanggar buat pergi pergi ke tanah Donggo.

Hati La Hila telah mulai bimbang. Susah buat dipilih di antara 2 cowok yg mencintainya. Mereka sama-sama baiknya. Sama-sama gagahnya. Sama-sama anak raja. Apabila diterima cintanya Siri Gani , beliau takut atas kemarahan Raja Sanggar. Begitu juga jika beliau terima cintanya Siri Dungga. Dia mulai takut akan terjadi peperangan pada antara 2 kerajaan itu. Dia tidak bias tidur sepanjang malam. Berpikir dan terus berpikir siapa yg harus dia terima pada antara keduanya. Keesokan harinya, dia sampaikan pada Wa?I Kimpi.

? Ibu, aku sedang susah sekali memilih di antara dua cowok itu. ?

? Ia, anakku. Saya juga berpikir hal yang sama. Saya khawatir ini akan terjadi peerangan & keributan antara 2 kerajaan. ? Ternyata Wa?I Kimpi jua berpikir yg sama seperti anaknya La Hila.

? Bagaimana Ibu, apabila 2 orang itu sama ?Sama datang.? La Hila sangat murung . Sampai-hingga ia berkeinginan buat menghilang berdasarkan tanah Donggo.

? Berpikirlah kembali anakku. Saya tergantung keputusanmu. Tapi kau harus punya pilihan. ? Demikian pesan Wa?I Kimpi pada La Hila.

Keesokan harinya sebagaimana biasa La Hila pulang mandi dengan Wa?I Kimpi dan beberapa gadis desa. Kadab sedang asyik mandi. Dia melihat ke atas di celah pohon diberingin besar . Ada dua orang cowok yg sedang bangun berhadap-hadapan & saling mengeluarkan keris. Sesaat kemudian 2 orang cowok tampan itu berkelahi. La Hila, Wa?I Kampi & beberapa gadis itu mengenal dua cowok yg sedang bertarung itu. Tiada lain yaitu Siri Dungga putera mahkota kerajaan Sanggar & Siri Gani putera mahkota kerajaan Bima.

Kadab permasalahan sengit terjadi pada antara 2 putera mahkota itu. Berteriaklah Wa?I Kampi melarang mereka berkelahi. Tapi nir diindahkan sang keduanya. Mereka tetap bertarung dan berguling-guling pada atas bukit itu. Mereka saling menikam di atas bukit itu. La Hila hanya terdiam, air matanya berlinang. Tapi nir kelihatan tangisannya. Wa?I Kimpi & beberapa gadis itu terus berteriak melarang mereka berkelahi.

Sesaat kemudian, terlihatlah sang Wa?I Kimpi mereka berdua tergeletak pada atas bukit itu. Mungkin mereka sudah meninggal di atas itu. Wa?I Kimpi memanggil penduduk kampung yg pria buat naik ke atas bukit buat melihat dan melerai perkelahian di antara 2 putera mahkota itu. Setelah itu Wa?I Kimpi dan beberapa gadis itu kembali ke kawasan permandian. Tetapi apa yang terjadi ? La Hila telah tidak ada di tempat itu. La Hila telah menghilang.

Susah dan murung hati Wa?I Kimpi kehilangan La Hila. Anak yg dia besarkan sehabis dimembuang orang & dia besarkan seperti halnya anaknya sendiri. Kini telah nir ada lagi. Wa?I Kimpi terus menerus menangis. Beberapa gadis jua turut menangis karena setiap hari mereka beserta-sama. Dicari dan terus dicari namun tidak pernah tampak. Mereka memanggil pada setiap pojok kampung. Sedangkan orang-orang yang mendaki bukit pergi melihat Siri Dungga dan Siri Gani. Mereka nir melihat dua orang putera Mahkota itu. Mereka menemukan residu darah yang lalu sebagai merah menyala di gunung itu & dua butir kerikil seperti halnya kuburan. Orang-orang itu menjadi takut menaiki bukit itu. Lantaran nir lagi melihat 2 orang yg saling menikam tersebut. Siri Dungga & Siri Gani sudah menghilang juga. Dicari & terus dicari pada setiap pohon dan mata air, tetapi tidak terdapat yg menyahut.

Setiap hari Wa?I Kimpi terus mencari La Hila. Namun nir pernah menemukannya. Setelah itu Wa?I Kimpi melantunkan senandung untuk terus mencari La Hila.

(Dimanakah wahai anakku La Hila yg bagai sekuntum bunga,

Yang cantiknya tiada terkira,

Yang bayangannya selalu timbul.)

Di bersahabat sumur daerah La Hila, Wa?I Kimpi & para gadis itu mand,. Tiba-datang tumbuh serumpun bambu. Bambu itu relatif rindang. Duduklah Wa?I Kimpi pada bersahabat pohon bambu itu. Dalam tangisannya itu, dicubitlah batang-batang bambu itu. Terkejutlah Wa?I Kimpi mendengar tangisan berdasarkan dalam bambu itu.

? Ibu?Bunda,,, jangan dicubit bambu ini. Ada aku di dalam bambu ini. ?

? Iya anakku, engkau kah La Hila ? ? Wa?I Kimpi memeluk bambu itu.

? Iya ibu, saya La Hila. Ludang keringh baik aku menghilang begini, semoga tidak terjadi keributan, peperangan alasannya memperebutkan saya. ?

Wa?I Kimpi nir sanggup menunda tangisannya. Dia terus menerus memeluk rumpun bambu itu. Akhirnya, bambu, sumur, dengan tempat tinggal kawasan tinggal La Hila terdapat hingga kini di Donggo Kala Bima. La Hila nan manis jelita telah menghilang.

Demikian Sobat tradisi, legenda si anggun La Hila dari Tanah Donggo Nusa Tenggara Barat. Jangan lupa kunjungi artikel kami lainnya perihal keindahan budaya dan tradisi Nusa Tenggara Barat .

Sumber Cerita :https://alanmalingi.Wordpress.Com/2014/01/08/la-hila/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar