Sabtu, 09 Oktober 2021

Tari Ronggeng Gunung, Seni Karuhun Pangandaran Dan Ciamis

Tari Ronggeng Gunung, Seni Karuhun Pangandaran dan Ciamis | TradisiKita - Mendengar kata ronggeng, mungkin sebagian masyarakat Indonesia sudah bisa menggambarkannya yaitu sekumpulan penari perempuan yang menari diiringi tetabuhan khas Jawa Barat. Kesenian ini memang sangat terkenal di sekitar Provinsi Jawa Barat, namun di beberapa Kabupaten mempunyai beberapa nama yang berbeda. Barangkali Sobat Tradisi juga pernah mendengar istilah ronggeng topeng, ketuk tilu, banjet atau Ronggeng Gunung?

Ronggeng Gunung ialah sebuah tarian yang berasal dari Kabupaten Ciamis dan Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Ada sebuah legenda yang menceritakan mengenai asal usul  Kesenian ronggeng gunung ini yang lahir dari rasa ingin balas dendam dari seorang putri dari keraton Galu Pakuan Pajajaran berjulukan Dewi Siti Semboja.Disisi lainnya dalam mitologi Sunda, Dewi Samboja atau Dewi Rengganis hampir sama dengan Nyai Pohaci Sanghyang Asri yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani dan kelebat dan menyuburkana.

Tari Ronggeng Gunung dari Jawa Barat

Untuk mengenal tari ronggeng gunung menjadi warisan kebudayaan rakyat Indonesia, dibawah ini kami akan hidangkan artikel ihwal asal undangan tari ronggeng gunung yang kami rangkum berdasarkan beberapa media online.

1. Asal Usul Tari Ronggeng Gunung

Salah satu budayawan dari Cijulang - Pangandaran, melalui cakrawalamedia.Co.Id membicarakan bahwa Tari Ronggeng Gunung yg ada saat ini ternyata tertuang pada sebuah buku yang berjulukan Kitab Damar Wulan atau Kitab Aji Saka.

Hal ini diperkuat menggunakan bukti-bukti tersimpannya seperangkat pertidak terdapat yg kurangan antik Tari Ronggeng Gunung pada Keramat Jambu Handap. Kuncen Kramat Jambu Handap berjulukan Ceceng juga mengungkapkan bahwa saat itu kesenian Ronggeng Gunung dipimpin oleh Ki Raksa Dipa yg sekaligus sebagai pemain kendang pada tahun 1200 masehi. " Kesenian Ronggeng Gunung tertuang pada babad Jambu Handap yang dituangkan pada sebuah buku yang ditulis menggunakan goresan pena sunda begon sang tiga tokoh diantaranya Sabda Jaya atau Eyang Gendeng Mataram, Embah Sangupati & Embah Sutapati"

Pertidak ada yang kurangan atau alat-alat Ronggeng Gunung yang tersimpan di Kramat Jambu Handap berupa goong beunde 1 unit, bonang ketuk 3 peclon. Selain alat musik tradisional Jawa Barat tersebut, terdapat pula pertidak ada yang kurangan berupa baju atau pakaian adat yang dipakai untuk menari oleh Nyi Mas Bageum berupa dodot samping, ikeut sarung, karembong, kabaya dan sampur.

Adapun kisah rakyat yang menceritakan asal mula tari ronggeng gunung sanggup Sobat baca pada artikel bertopik legenda dan kisah rakyat dengan judul Dewi Siti Semboja  (Asal Musa Ronggeng Gunung)

 mungkin sebagian masyarakat Indonesia sudah bisa menggambarkannya yaitu sekumpulan penari Tari Ronggeng Gunung, Seni Karuhun Pangandaran dan Ciamis

2. Perkembangan Tari Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung ini terus menjadi dikenal dan banyak dipakai dan menyebar luas ke beberapa wilayah di seputar  Kabupaten Pangandaran dan Cimais, Provinsi Jawa Barat. Pada ketika memasuki periode tahun 1940-1945, banyak terjadi pergeseran penilaian-penilaian budaya dari sebelumnya. Pergeseran evaluasi ini meresap juga ke dalam kesenian ronggeng gunung, contohnya di dalam cara menghormat yang tiruanla dengan cara merapatkan tangan di kepingan dada berganti dengan cara bersalaman. Bahkan karenanya cara bersalaman ini telah banyak disalah gunakan, dimana para penari pria atau orang-orang tertentu bukan hanya bersalaman, melainkan akan bertindak ludang kecepeh jauh menyerupai mencium dan lain sebagainya. Terkadang para penari sanggup dibawa ke tempat yang sepi. Karena tidak sesuai dengan adat-istiadat, maka ditahun 1948 kesenian ronggeng gunung ini dihentikan dipertunjukkan untuk umum.

Baru ditahun 1950 kesenian ronggeng gunung ini balik dihidupkan menggunakan beberapa pembaruan, baik itu pada tarian ataupun dalam pengorganisasian sebagai akibatnya kemungkinan timbulnya hal-hal negatif tersebut mampu dihindarkan.

Desa-desa pada Ciamis selatan yg memiliki kesenian ronggeng gunung ialah di desa Panyutran, Ciparakan, Burujul & kemudian menyebar ke arah selatan, yakni pada Kawedanaan Pangandaran hingga ke Kecamatan Cijulang. Didalam beberapa generasi ronggeng gunung ini sanggup mempertahankan karakteristik-ciri spesial yg dimiliki.

Tetapi demikian ditemukan juga tarian pada bentuk yang hampir sama yg terdapat pada loka lain menyerupai dombret pada Subang, banjet di Krawang. Perbedaan masih permanen nyata. Apabila banjet dan dombret sudah banyak menggunakan lagu-lagu populer, tetapi ronggeng gunung ini permanen mempergunakan lagu-lagu yang bersifat buhun atau usang. Dombret & banjet sudah banyak dipengaruhi sang budaya dari luar Sunda, menyerupai Bugis Makasar, Lampung, Jawa, dan jua Madura melalui pergaulan diantara para nelayan.

Seperti halnya pada tarian lain sejenisnya, ronggeng gunung ini jua adalah tari hiburan dan pakaian yg dikenakan jua sinkron dengan tradisi setempat. Segi lain yang menarik pada pertunjukan ini merupakan disaat pertunjukan berlangsung, yakni dengan acapkali tampilnya para penonton dalam menemani penari ronggeng menari. Seringkah tingkah penari penonton ini membentuk geli orang-orang yg menyaksikan, sebagai akibatnya membentuk suasana berkembang menjadi riuh dan bergembira. Suasana yang ditampilkan ini menampakan karakteristik spesial berdasarkan kesenian warga , yaitu bersahabat dimana penari dan para penonton berbaur tanpa batas yg jelas.

Dimasa pemberontakan DI/TII berkecamuk pada Jawa Barat, kesenian ronggeng gunung ini hampir-hampir lenyap dikarenakan acapkali terjadinya gangguan terhadap pertunjukan yang sedang berlangsung. Setelah lalu gerombolan DI/TII ditumpas, pertunjukan ronggeng gunung ini pun timbul pulang.

3. Fungsi & Makna Tari Ronggeng Gunung

Fungsi dari tari ronggeng berfungsi sebagai tari hiburan rakyat di Jawa Barat, khususnya tempat Ciamis & Pangandaran menjadi tempat berasal undangan terlahirnya kesenian masyarakat ini. Tari ronggeng gunung umumnya digelar di laman tempat tinggal pada ketika terdapat program perkawinan, khitanan atau bahkan pada lahan (ladang), contohnya knorma & sopan santun diharapkan buat upacara membajak atau menanam padi ladang. Durasi sebuah pementasan Ronggeng Gunung umumnya memakan saat relatif lama , adakala gres selesai menjelang subuh.

Dalam perkembangannya tari ronggeng gunung bisa dibedakan sebagai dua macam, yaitu sebagai tari hiburan & tari ronggeng gunung buat program norma. Pada acara Ronggeng Gunung sebagai tarian hiburan umumnya ludang kecepeh fleksibel tanpa adanya pakem tertentu. Sebaliknya untuk program norma, tari ronggeng gunung ini dikenai pakem-pakem tertentu menyerupai urutan lagu yg dibawakan.

4. Pertunjukan Tari Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung ini dibawakan sang gerombolan / kelompok kesenian ronggeng. Orang-orang yg terkumpul dalam grup kesenian Ronggeng Gunung umumnya terdiri dari enam hingga sepuluh orang. Namun demikian, sanggup juga terjadi tukar-menukar atau meminjam pemain dari gerombolan lain. Biasanya peminjaman pemain terjadi buat memperoleh pesinden lalugu, yaitu perempuan yg telah berumur relatif lanjut, tetapi memiliki kemampuan yg sangat cantik dalam hal tarik bunyi. Dia bertugas membawakan lagu-lagu eksklusif yg tidak bisa dibawakan oleh pesinden biasa. Sedangkan, peralatan musik yg digunakan buat mengiringi tari Ronggeng Gunung artinya 3 buah ketuk, gong & kendang.

Sebagai catatan, buat sebagai seorang ronggeng dalam zaman berlalu & silam memang nir sememperringan & sepele sekarang. Beberapa syarat yang wajib dipenuhi diantaranya bentuk tubuh mengagumkan, bisa melaksanakan puasa 40 hari yang setiap berbuka puasa hanya diperkenankan makan pisang raja 2 butir, latihan nafas buat memperbaiki suara, fisik dan juga rohani yang dibimbing sang sangat menguasainya. Dan, yg umum berlaku, seorang ronggeng wajib tidak terikat perkawinan. Oleh sebab itu, seseorang penari ronggeng wajib seseorang gadis atau janda.

Ronggeng Gunung dibawakan oleh lima orang penari perempuan dengan 1 penari utama. Dalam pertunjukannya tarian ini dibawakan berbaur antara penari ronggeng dan penonton, tanpa adanya batasan yg jelas.

Lima. Kostum Penari Ronggeng Gunung

Para penari wanita pada tarian Ronggeng Gunung ini mengenakan pakaian spesial Jawa Barat buat menari. Busana perempuan tersebut terdiri menurut dodot samping, ikeut sarung, karembong, kabaya & sampur.

Para penari ronggeng gunung pula masing-masing membawa sebuah selendang sebagai properti pada menari.

6. Musik Pengiring  Tari Ronggeng Gunung

Adapun musik pengiring tari ronggeng gunung ini terdiri dari beberapa indera musik Jawa Barat yaitu gong, kendang dan bonang.

Demikian Sobat Tradisi, isu mengenai tari Ronggeng Gunung, Seni Karuhun Pangandaran dan Ciamis. Semoga memberi manfaat.

Referensi :

  • https://www.cakrawalamedia.co.id/tari-ronggeng-gunung-jadi-rebutan-kabupaten-pangandaran-dan-ciamis/
  • /search?q=tari-ronggeng-gunung-tarian-tradisional-dari-ciamis
  • /search?q=tari-ronggeng-gunung-tarian-tradisional-dari-ciamis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar