Senin, 27 Desember 2021

Mari Mengenal Tari Didong Dari Aceh

Tari Didong merupakan tari tradisional Aceh . Akan tetapi tarian ini sesungguhnya yaitu sebuah kesenian rakyat Gayo yang merupakan perpaduan unsur tari, vokal, dan sastra.

Pada awalnya didong dipakai sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui media syair. Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara- upacara adat ibarat perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya menentukan tema yang sesuai dengan upacara adat yang diselenggarakan.

Pada Kesempatan ini kita akan mengenal mengenai seluk beluk kesenian dan tari didong ini, mulai menurut sejarah tari didong, pertunjukan tari didong sampai perkembangan tarian khas Gayo Aceh ini.

Tari Didong

1. Sejarah Asal Usul & Perkembangan Tari Didong

Didong dimulai semenjak zaman Reje Linge XIII. Salah seseorang artis yg peduli dalam kesenian ini yaitu Abdul Kadir To`et. Kesenian didong ludang keringh digemari oleh warga Takengon dan Bener Meriah.

Sejarahnya, pada saat Reje Linge ke-13 memimpin, Didong merupakan media bagi penyebaran kepercayaan Islam melalui bait syair lebih kurang tahun 1511 atau kurang lebih masa ke-16 M. Para artis Didong yang diklaim menggunakan ?Ceh Didong? Tidak sekedar melantunkan syair menggunakan skor estetika semata, melainkan di dalamnya memuat skor konkret yg bertujuan semoga masyarakat yang mendengarnya bisa menjalani kehidupan sebagaimana yang sudah diajarkan sang Nabi dan tokoh aliran Islam.

Dalam perkembangannya, didong nir hanya ditampilkan pada hari-hari akbar agama Islam, melainkan pula pada upacara-upacara adat ibarat perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu & sebagainya. Para pe-didong pada mementaskannya umumnya memilih tema yg sesuai menggunakan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar dalam aturan norma perkawinan. Dengan demikian, seseorang pe-didong harus menguasai secara mendalam perihal seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat wacana norma mampu terus terpelihara. Nilai-skor yang hampir punah akan dicari pulang oleh para ceh buat keperluan kesenian didong.

Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yg keras telah ?Memporak-porandakan? Bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai wahana hiburan bagi tentara Jepang yg menduduki tanah Gayo. Hal ini memdiberikan pandangan baru bagi warga Gayo buat membuatkan didong yang syairnya nir hanya terpaku pada hal-hal religius dan tata cara-adat, tetapi jua perseteruan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa selesainya proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan menjadi wahana bagi pemerintah dalam menjembatani info sampai ke desa-desa khususnya pada menjelaskan ihwal Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 & semangat bela negara. Selain itu, didong pula digunakan buat mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna menciptakan gedung sekolah, madrasah, masjid, bahkan pula pembangunan jembatan. Tetapi, pada periode 1950-an kadab terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti sebab tidak boleh oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian gres yg dianggap saer, yg bentuknya hampir ibarat menggunakan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur mobilitas & tari. Tepukan tangan yg adalah unsur penting pada didong nir dibenarkan pada saer.

Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama kadab zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, remaja ini protesnya ditujukan kepada pemerintah yang selama sekian tahun menerapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer, sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sesungguhnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk kesenian lain yang ada di Aceh.

alat musik Aceh ibarat seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan tubuh ke depan atau ke samping.

Pertunjukan Tari Didong menurut Aceh ini tak jarang dipentaskan pada banyak sekali acara ibarat :

  • Acara penyambutan tamu daerah
  • Festival adat budaya Takengon
  • Kompetisi Kesenian didong antar desa atau antar penopangr yang ada di Takengon
  • Mengisi program di setiap instansi pemerintahan
  • Pernikahan
  • Hari besar Nasional

Catatan : Kesenian didong ludang keringh sering pada pentaskan pada bulan Agustus dalam setiap tahunnya & saat penyelenggaraannya dimalam hari sampai pukul 04.00 pagi saat setempat .

Lima. Kostum Penari Didong

Kostum atau seragam dalam kesenian didong sendiri awalnya berwarna hitam , seragam ini sering disebut dengan baju – kelop . Dulunya Seragam didong ini dibedakan melalui warna dan mempunyai arti yang berbeda - beda , warna Kuning berarti “Raja” , warna hitam “Rakyat” , warna merah “ Petuah ” , dan warna putih “Imam” , untuk ketika ini seluruh warna yang dipakai seragam didong sudah mulai membaur dan sanggup dipakai untuk setiap pentas atau program didong , sedangkan biasanya para pemain didong menggunakan atribut perhiasan berupa syal yang dililitkan di leher , dan ada yang menggunakan kopiah .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar