Jumat, 31 Desember 2021

Tedhak Siten : Ritual Adab Turun Tanah Bagi Bayi

Tedhak Siten merupakan salah satu budbahasa dan tradisi masyarakat Jawa  (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta). Tradisi Tedhak Siten (Tedak Siten) juga dikenal sebagai ritualturun tanah pertama kali bagi bayi.  Istilah dari Tedhak Siten sendiri berasal dari dua kata yaitu Tedhak yang berarti kaki atau langkah dan Siten yang berasal dari kata Siti yang artinya tanah. Jadi, tedhak siten merupakan sebuah program budbahasa dimana seorang anak yang berumur tujuh lapan (7 x 35 hari atau 245 hari) akan dituntun oleh ibunya untuk berjalan menapak diatas tanah.

Pada kesempatan ini TradisiKita akan mengupas tradisi Tedak Siten / Tedhak Siten yang dilakukan sang lebih banyak didominasi masyarakat Jawa.

1. Tujuan Tradisi Tedhak Siten

Salah satu tujuan tedhak siten yaitu sebagai bentuk rasa syukur alasannya yaitu sang anak akan mulai mencar ilmu berjalan. Selain itu, upacara ini merupakan salah satu upaya memperkenalkan anak kepada alam sekitar dan juga ibu pertiwi. Hal ini juga merupakan perwujudan  dari salah satu pepatah Jawa yang berbunyi “Ibu Pertiwi Bopo Angkoso” (Bumi yaitu ibu dan langit yaitu Bapak).

Dua. Tahapan Tradisi Tedhak Siten

Dalam pengaplikasian ritual atau tradisi Tedhak Siten biasanya dimunculi oleh keluarga inti (ayah, ibu, kakek dan nenek) serta kerabat keluarga lainnya.

Pada dalam dasarnya prosesi tedhak siten ini terdiri berdasarkan 7 tahapan, yaitu :

Tahap 1

Pada tahap ini, oleh anak akan dituntun oleh oleh Ibu untuk berjalan diatas 7 jadah (makanan yg terbuat berdasarkan beras ketan yang dicampur menggunakan garam dan kelapa yang lalu dikukus, dihaluskan dan dicetak) dengan 7 warna tidak selaras yaitu putih, merah, hijau, kuning, biru, coklat, & ungu.

Warna-warna berdasarkan jadah tersebut merupakan simbol menurut warna-warna kehidupan. Pengaturan jadah tadi dimulai berdasarkan yg berwarna gelap hingga berwarna terang (putih) menjadi simbol bahwa akan terdapat jalan keluar yg terang berdasarkan setiap duduk kasus yang menghadang.

Sementara jumlah 7 mengacu dalam bahasa Jawa Pitu yang berarti pitu atau pertolongan, dimana dalam bepergian oleh anak pada setiap tahap kehidupannya kelak, semoga selalu mendapat pertolongan berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.

Tahap 2

Sang anak akan dituntun buat menaiki tangga yg terbuat dari tebu. Pemilihan tebu yg dianggap sebagai abreviasi menurut antudang keringng kalbu atau mantapnya hati adalah bentuk harapan semoga oleh anak memiliki ketetapan hati pada menjalani setiap termin kehidupannya kelak, dimana setiap anak tangga yg dilalui merupakan simbol dari tahapan kehidupan.

Tahap 3

Anak dituntun buat berjalan diatas tanah atau tumpukan pasir dimana oleh anak akan mengais (ceker-ceker) tanah dengan ke 2 kakinya. Hal ini merupakan simbol menurut harapan semoga oleh anak ketika sudah cerdik balig relatif logika nanti sanggup mengais rejeki buat memenuhi kebutuhannya.

Tahap 4

Anak dimasukkan pada kurungan ayam, dimana pada dalam kurungan tadi telah disediakan banyak sekali benda menyerupai kitab , uang, mainan, kuliner dan berbagai benda lainnya. Benda yg dipilih sang oleh anak adalah citra dari potensi anak yg diperlukan akan membantu orang renta buat sanggup mengasah potensi tadi menggunakan baik.

Sang anak yg berusia sekitar 8 bulan dianggap masih mempunyai insting atau insting yang belum tertutupi oleh hal-hal lain, & dalam saat yg sama mereka sudah bisa merespon dunia luar menggunakan baik. Hal inilah yang menciptakan sang anak akan menentukan benda yg sinkron dengan insting mereka, yg dianggap menjadi potensi yg terdapat pada diri mereka.

Tahap 5

Pemdiberian uang logam yg telah dicampurkan menggunakan aneka macam jenis bunga & beras kuning oleh sang ayah dan kakek sebagai simbol asa semoga oleh anak nantinya memiliki rejeki berlimpah tetapi tetap bersifat senang memberi

Tahap 6

Sang anak dimandikan dengan air yang dicampur menggunakan kembang setaman sebagai simbol asa semoga sang anak akan membawa nama harum bagi famili

Tahap 7

Anak dipakaikan baju yang cantik & membersihkan dengan harapan semoga anak akan menjalani hayati yang baik nantinya.

Seluruh tahapan upacara beserta tiruana aspek yang terdapat didalamnya mempunyai arti filosofis yang mengakibatkan upacara menarik buat dipandang & pastinya menjadi keliru satu bukti kekayaan budaya Jawa.

Demikian Sobat Tradisi, info tentang Tedhak Siten sebagi ritual budbahasa turun tanah bagi bayi dalam warga Jawa. Semoga berkhasiat.

Referensi :

1.  /search?q=raihans-tedak-siten-adat-jawa

2. https://www.nyonyamelly.com/blogs/news/tedhak-siten-tradisi-jawa-yang-penuh-warna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar