Kamis, 07 Oktober 2021

Legenda Dewi Kelebat Dan Menyuburkanan, Dewi Sri Versi Jawa Tengah

Legenda Dewi Kerindangan, Dewi Sri Versi Jawa Tengah | TradisiKita - Lain di Jawa Barat, lain juga di Jawa Tengah. Sebuah legenda atau dongeng serta mitos mengenai Dewi Sri. Di Jawa Tengah pun ada kisah mengenai seorang Dewi Kerindangan yang berjulukan Dewi Sri.

Dewi Sri adalah seseorang putri dari seorang raja yang berjulukan Prabu Mahapunggung. Oleh warga petani di Jawa Tengah, Dewi Sri dianggap sebagai lambang kemakmuran & kerindangan. Dewi Sri diyakini menjadi sosok kudus yg mengatur kesejahteraan insan di bumi. Bagaimanakah kisah perihal Dewi Sri yg sangat dihormati sebagai ibu kehidupan itu? Jawabannya mampu Anda temukan dalam kisah Dewi Sri, Dewi Kerindangan diberikut ini!

Legenda Dewi Kerindangan, Dewi Sri Versi Jawa Tengah

Dahulu, di sebuah wilayah di Jawa tengah, tersebutlah seseorang raja berjulukan Prabu Sri Mahapunggung atau Bathara Srigati yg bertahta di sebuah kerajaan berjulukan Kerajaan Medang Kamulan. Bathara Srigati ialah putra Sanghyang Wisnu dan Dewi Sri Sekar atau Bathari Sri Widowati yg diutus ke bumi untuk menjaga kelestarian dunia.

Prabu Sri Mahapunggung memiliki seorang putri berjulukan Dewi Sri. Ia ialah putri sulung sang Prabu yg diyakini menjadi titisan neneknya, Bathari Sri Widowati. Selain elok dan mengagumkan, Dewi Sri merupakan seseorang putri yang cerdas, baik hati, lemah lembut, sabar, halus tutur ucapnya, luhur kecerdikan bahasanya, dan bijaksana. Dewi Sri memiliki tiga saudara termuda kandung yaitu Sadana, Wandu, dan Oya. Ia beserta adiknya, Sadana, dikenal menjadi lambang kemakmuran output bumi. Dewi Sri menjadi dewi padi, sedangkan Sadana sebagai yang kuasa output bumi lainnya ibarat umbi-umbian, kentang, sayur-sayuran, & butir-buahan. Oleh karena itu, keduanya nir pernah dipisahkan.

Suatu kadab, Sadana diminta oleh ayah dan ibunya buat berkeluargai seorang putri berjulukan Dewi Panitra, cucu Eyang Pancareshi. Tetapi, Sadana menolak lantaran nir ingin menlampaui kakaknya menggunakan alasan bahwa hal itu kerap sebagai penyebab terjadinya poly sekali kesusahan pada kemudian hari. Melihat perilaku putranya itu, Prabu Sri Mahapunggung berupaya membujuknya.

?Sadana, Putraku. Jika kau berkeluarga menggunakan Dewi Panitra, Ayah akan menobatkanmu menjadi Putra Mahkota. Kamulah yang akan menggantikan Ayah menjadi raja negeri ini,? Bujuk oleh Prabu.

Sadana hanya terdiam. Hatinya sedang galau gulana.

?Sudahlah, Putraku. Kamu tidak usah memikirkan kakakmu. Sudah menjadi kewajiban kami buat berkeluargakannya bila kelak menemukan jodohnya,? Ujar oleh Prabu.

Meskipun berkali-kali dibujuk, Sadana tetap bersikukuh menolak ijab kabul tadi.

?Maafkan Sadana, Ayahanda Prabu. Tidak sepantasnya seorang saudara termuda menlampaui kakaknya berkeluarga,? Kata Sadana.

Rupanya, perkataan Sadana itu membangun marah ayahandanya. Ia dianggap sudah berani bersikap lancang lantaran tidak patuh dalam masukan orang tua. Untung sang Ibu berhasil meredam kemarahan ayah Sadana.

Pada malam harinya, Sadana susah memejamkan mata. Pikirannya sangat rancu, sedih, & bingung. Baginya, perjodohan itu bertentangan menggunakan perinsip hidupnya. Setelah memikirkan segala resikonya, alhasil malam itu Sadana pergi meninggalkan istana secara membisu-membisu. Alangkah murkanya sang Prabu waktu mengetahui hal itu. Kemarahannya pun ia lampiaskan kepada Dewi Sri karena dianggap menjadi penyebab minggatnya Sadana. Tuduhan itu membangun sedih hati sang Putri. Lantaran merasa serba galat hidup pada istana, alhasil beliau pun ikut kabur menurut istana.

Perginya Dewi Seri menurut istana menciptakan Prabu Sri Mahapunggung semakin marah. Saking marahnya, sang Prabu mengutuk Dewi Sri sebagai ular sawah, sedangkan Sadana dikutuk sebagai burung sriti. Dewi Sri berjalan ke arah timur tanpa tujuan yg pasti, sedangkan Sadana terbang tanpa arah & tujuan.

Suatu kadab, ular sawah penjelmaan Dewi Sri datang di Dusun Wasutira. Lantaran lelah, ular sawah itu kemudian tidur melingkar pada lumbung padi milik seseorang penduduk berjulukan Kyai Brikhu. Petani itu mempunyai seorang istri berjulukan Ken Sanggi yang sedang mengandung bayi pertama mereka. Pada malam harinya, Kyai Brikhu bermimpi menerima petunjuk bahwa bayi yang dikandung istrinya ialah titisan Dewi Tiksnawati. Kelak setelah lahir, bayi itu akan dijaga oleh sebuntut ular sawah. Apabila ular sawah itu meninggal, maka bayinya pun akan mangkat .

?Oh, alangkah bahagianya hidupku bila mimpi itu kelak menjadi fenomena. Aku pun berjanji akan menjaga dan merawat ular sawah itu,? Gumam Kyai Brikhu dengan perasaan gembira.

Hari itu, persediaan beras Kyai Brikhu buat dimasak oleh istrinya sudah habis. Kadab hendak merogoh padi di lumbungnya, beliau dikejutkan sang sebuntut ular sawah yg melingkar pada atas tumpukan padinya. Petani itu pun langsung teringat dalam mimpinya.

?Mungkin ular inilah yg menjaga anakku kelak,? Gumamnya.

Kyai Brikhu pun alhasil merawat ular sawah itu menggunakan baik. Kadab istrinya sudah melahirkan seseorang anak wanita, dia kemudian meletakkan ular sawah itu pada akrab bayinya yg berada di kamar tengah di rumahnya. Sejak itulah, Kyai Brikhu beserta sang Istri merawat anak mereka beserta ular sawah itu dengan hati-hati. Setiap hari, mereka memdiberi makan ular itu menggunakan katak.

Suatu malam, Kyai Brikhu kembali bermimpi. Dalam mimpinya, ular sawah itu menolak didiberi makan katak. Ular itu minta didiberi sesajen berupa sedah ayu, yakni sirih bersama perkomplitannya, bunga, dan lampu yang wajib selalu dinyalakan. Kadab terbangun, Kyai Brikhu pun langsung menyiapkan sesaji sebagaimana usul ular sawah itu.

Sementara itu, Dewi Tiksnawati yg menitis dalam badan anak Kyai Brikhu menciptakan huru-hara pada kediaman para ilahi. Hal itu menciptakan Sang Hyang Jagadnata atau Batara Pengajar marah.

?Wahai, para tuhan! Pergilah ke bumi, diberi peristiwa alam pada bayi wilayah Dewi Tiksnawati menitis!? Titah oleh Batara Pengajar.

Para yang kuasa pun segera meluncur ke bumi. Namun, usaha mereka memdiberi bencana alam pada bayi itu gagal lantaran imbas tolak bala dari Kyai Brikhu & ular sawah. Berkali-kali para yang kuasa itu berupaya melaksanakan hal itu, namun mereka tetap saja gagal. Setelah melaksanakan penyelidikan, para yang kuasa dan Batara Guru pun mengetahui bahwa kegagalan mereka ditimbulkan oleh Dewi Sri yang setia melindungi bayi itu.

Atas perintah Batara Pengajar, para bidadari pun turun ke bumi untuk membujuk Dewi Sri izin mau sebagai bidadari pada Kahyangan.

?Wahai, Dewi Sri! Kami diutus oleh Batara Guru untuk memintamu ke Kahyangan. Sang Batara Guru akan menjadikanmu bidadari buat mekompliti kami para bidadari yang terdapat di Kahyangan,? Bujuk galat satu bidadari.

?Baiklah, para bidadari. Saya bersedia menerima usul Batara Pengajar, tapi dengan satu kondisi,? Ujar Dewi Sri.

?Apakah syarat itu, wahai Dewi Sri?? Tanya bidadari.

?Saya mohon saudara termuda saya, Sadana, yang sudah dikutuk sebagai burung sriti biar dikembalikan wujudnya sebagai manusia,? Pinta Dewi Sri.

Para bidadari pun menyanggupi usul Dewi Seri. Namun, kadab mereka hendak memenuhi usul tadi, ternyata Sadana telah dikembalikan sebagai manusia sang sosok yang sakti, yaitu Bagawan Brahmana Marhaesi, putra Sang Hyang Brahma. Bahkan, Sadana telah dinikahkan menggunakan seseorang putri berjulukan Dewi Laksmitawahni. Kelak apabila mereka telah memiliki putra, Sadana akan diangkat sebagai ilahi.

Berita ihwal Sadana lalu disampaikan pada Dewi Sri. Dewi Sri pun menyambutnya dengan perasaan bahagia. Karena keinginannya telah terkabulkan, alhasil Dewi Sri yang berwujud ular sawah itu dikembalikan ke wujud aslinya oleh para bidadari ke wujud aslinya, yakni seorang gadis yg cantik jelita.

Sementara itu, Kyai Brikhu amat terkejut karena ular sawah di petanen-nya telah lenyap. Yang dilihatnya hanya seseorang gadis cantik yang sedang duduk pada samping bayinya.

?Hai, anak gadis. Kamu siapa dan kenapa berada pada sini?? Tanya Khai Brikhu heran.

Dewi Sri pun memperkenalkan dirinya lalu menceritakan insiden yang gres saja terjadi di rumah itu. Akhirnya, Kyai Brikhu pun memahami bahwa Dewi Sri artinya putri Prabu Mahapunggung berdasarkan Kerajaan Medang Kamulan. Sesuai menggunakan janjinya, Dewi Sri pun akan segera ke Kahyangan buat dijadikan bidadari. Sebelum pulang, Dewi Sri tidak lupa berterima kasih & berpesan kepada Kyai Brikhu.

?Terima kasih, Kyai Brikhu atas segala bantuannya selama saya tinggal di tempat tinggal ini,? Ucap Dewi Sri, ?Agar sandang & pangan keluargamu selalu tercukupi, ingat buat memdiberi memdiberikan sesajen pada ruang tengah rumahmu.?

Usai berpesan, Dewi Sri pun moksa dan lalu menuju ke Kahyangan. Sepeninggal Dewi Sri, Kyai Brikhu pun eksklusif menyediakan sesajen pada ruang tengah rumahnya. Sejak itulah, orang Jawa selalu menyimpan atau memajang gambar ular pada kamar tengah tempat tinggal mereka menjadi perlambangan sosok Dewi Sri yg telah memdiberikan kemakmuran dan kerindangan pada kehidupan mereka. Tidak hanya itu, orang juga percaya bahwa apabila terdapat ular masuk ke pada rumah, itu berarti membuktikan sawahnya akan memdiberikan hasil atau rezeki yang baik. Itulah sebabnya, warga petani di Jawa amat menghargai ular sawah dengan cara memdiberinya sesaji.

* * *

Demikian Sobat Tradisi, kisah Legenda Dewi Kerindangan, Dewi Sri Versi Jawa Tengah. Pesan moral yang sanggup dipetik dari kisah di atas ialah bahwa sifat suka memaksakan kehendak ibarat Prabu Mahapunggung akan mengakibatkan tragedi alam bagi diri dan keluarganya, yaitu minggatnya Raden Sadana dan Dewi Sri dari istana.

Sumber Cerita : http://ceritarakyatnusantara.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar