Jumat, 31 Desember 2021

Tari Ronggeng Buyung Dari Indramayu Jawa Barat

Tari Ronggeng Buyung dari Indramayu Jawa Barat | TradisiKita - Kita sanggup menemui beberapa seni tari di Jawa Barat yang unik dan mempunyai ciri khas setiap daerahnya. Pada kesempatan yang kemudian kita sudah mengenal tari ronggeng gunung . Kali ini kita akan mengenal tarian dari Indramayu, Jawa Barat. Tarian tersebut dikenal dengan nama Tari Ronggeng Buyung.

Indramayu sendiri merupakan salah satu Kabupaten pada Provinsi Jawa Barat yg daerahnya dilewati oleh Jalur Pantura. Walaupun Indramayu berada di Jawa Barat yang notabene yakni tanah Pasundan yg berbudaya dan berbahasa Sunda, namun sebagian besar penduduk Indramayu mempergunakan Bahasa Jawa Cirebon dialek Indramayu, masyarakat setempat menyebutnya dengan Basa Dermayon, yakni dialek Bahasa Jawa Cirebon yg hampir serupa menggunakan Bahasa Jawa Cirebon yg digunakan di wilayah pusat Keraton Cirebon pada Kota Cirebon, dalam Bahasa Jawa Cirebon dialek Indramayu tata bahasanya terbagi sebagai 2 yakni Basa Besiken (dipergunakan buat berbicara pada tatanan resmi dan menghormati versus bicara) & Basa Ngoko (dipergunakan sehari-hari pada pergaulan). Di serpihan selatan dan barat daya kabupaten ini, beberapa wilayah menggunakan bahasa Sunda, mengingat sejarah kabupaten Indramayu yang dulu pernah masuk kedalam daerah Kerajaan Galuh dan Sumedang Larang di Wilayah Selatan, sebagai akibatnya menghipnotis masyarakatnya berbahasa Sunda Khas Indramayu yang disebut Sunda Parean.

Kembali ke topik tradisi kita yaitu Tari Ronggeng Buyung. Pada kesempatan ini kita akan mengenal bagaimana & menyerupai apakah tari ronggeng buyung ini? Mari kita cari tahu bersama dalam artikel dibawah ini.

Tari Ronggeng Buyung

Ronggeng buyung sesungguhnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional menggunakan tampilan seorang atau ludang keringh penari. Biasanya dikompliti dengan gamelan & nyanyian atau kawih pengiring. Penari utamanya yakni seorang wanita yg dikompliti menggunakan sebuah selendang. Fungsi selendang, selain buat kekomplitan pada menari, jua sanggup digunakan untuk "menggaet" versus (umumnya pria) buat menari bersama menggunakan cara mengalungkan ke lehernya.

Tari Ronggeng Buyung dari Indramayu Jawa Barat Tari Ronggeng Buyung dari Indramayu Jawa Barat

Asal Usul Tari Ronggeng Buyung

Kesenian ini dinamakan ronggeng buyung konon lantaran salah satu waditra yang dipakai untuk mengiringinya yakni buyung, yaitu alat untuk mengambil air. Selain itu, ada pula yang mengira bahwa kata buyung artinya anak, lantaran penarinya atau ronggengnya yakni anak-anak.

Kesenian ronggeng buyung ini jua dikenal sang rakyat Indramayu dengan sebutan sintren. Kata sintren konon dari menurut kosa kata Belanda ?Sinyo Trenen?, ?Sinyo? Berarti ?Pemuda? & ?Trenen? Berarti ?Latihan?. Jadi, secara harafiah sintren sanggup dikartikan sebagai kesenian loka cowok latihan. Pada saat penjajahan Belanda, kesenian sintren digunakan sang para cowok buat menaruh pesan-pesan bisnis pada menghadapi pasukan Belanda.

Sebagai catatan, ada pula yang berasumsi bahwa kesenian ronggeng buyung atau sintren ini bukan murni berasal dari Indramayu, melainkan merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah sekitar Pantai Utara Jawa Tengah, menyerupai Brebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan. Namun, dalam perkembangan selanjutnya menyebar ke kawasan Indramayu, Kuningan, Cirebon dan Cilacap dengan banyak sekali ciri dan keunikannya sendiri-sendiri.

Pemain Ronggeng Buyung

Orang-orang yang terhimpun dalam kelompok kesenian ronggeng buyung biasanya terdiri dari enam hingga sepuluh orang. Namun demikian, sanggup pula terjadi tukar-menukar atau meminjam pemain dari kelompok lain. Biasanya peminjaman pemain terjadi untuk memperoleh pesinden lalugu, yaitu wanita yang sudah berumur agak lanjut, tetapi mempunyai kemampuan yang sangat mengagumkan dalam hal tarik suara. Dia bertugas membawakan lagu-lagu tertentu yang tidak sanggup dibawakan oleh pesinden biasa.

Salah satu karakteristik khas ronggeng buyung yang tidak selaras dengan ronggeng-ronggeng lainnya yakni sintren atau penarinya haruslah seseorang gadis yg berusia lebih kurang 9-11 tahun atau belum bernah mengalami menstruasi. Hal ini disebabkan karena gadis yang masih ?Suci? Dianggap sanggup dengan mudah mengalami trance (kerasukan/nir sadar) bila sedang menari ketidak seimbang gadis-gadis yg telah mengalami menstruasi.

Peralatan Permainan

Peralatan yang dipakai untuk mengiringi kesenian ronggeng buyung yakni seperangkat waditra ( indera musik tradisional Jawa Barat ) yang terdiri dari: dua buah ketipung, sebuah kendang kecil, tiga buah ketuk, kecrek, goong, tutuka, dua buah buyung/juru/klenting (wadah untuk mengambil air), dan dikala ini dikompliti pula dengan gitar listrik.

Selain waditra, perkomplitan lain yang dipakai dalam tari ronggeng buyung ini adalah: sebuah kurungan ayam yang ditutup dengan kain batik untuk menutupi penari dikala berganti busana, dlupok (tempat membakar kemenyan), kemenyan, bunga-bungaan, minyak wangi, bunga yang diuntai, dan pakaian penari yang menyerupai dengan pakaian penari tari srimpi komplit dengan kacamata hitam.

Pertunjukan Ronggeng Buyung

Pertunjukan ronggeng buyung diawali dengan mengadakan upacara tertentu yang dipimpin oleh pemimpin kelompok (dalang) untuk mengundang roh-roh halus semoga mau memasuki badan penari. Untuk itu, perlu disediakan kemenyan, tempat pembakaran kemenyan, bunga-bungaan, dan minyak wangi. Selanjutnya, alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu yang diberirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan.

Setelah itu, sang penari memasuki arena pertunjukan menggunakan masih mengenakan pakaian biasa atau sandang sehari-hari. Kemudian, sang pemimpin grup (dalang) dia disuruh berjongkok lalu ditutup menggunakan menggunakan kurungan ayam yg telah dilapisi kain batik. Pada dikala penari sudah berada pada pada kurungan, oleh sinden diiringi waditra menyanyikan lagi pemujaan yg berbahasa Jawa Indramayu, lirik sinden tari ronggeng buyung tersebut menjadi diberikut:

Turun-turun sintren

Wintrene widhadhari

Widhadhari tumuruno

Aja suwen mindho dalem

Dalem sampun kangelan

Setelah dalang menyatakan bahwa oleh penari sudah dalam keadaan trance, maka kurungan pun segera dibuka. Selanjutnya, oleh penari yang telah berganti pakaian menggunakan pakaian penari srimpi komplit dengan kacamata hitam mulai menari sembari diiringi dengan lagu Sulasi, yg liriknya menjadi diberikut:

Sulasi Silandana

Menyan kang ngundang yang kuasa

Ala yang kuasa dening sukma

Widhadhari tumuruno

Kemudian, dilanjutkan dengan lagu Tambak-tambak Pawon yg liriknya sebagai diberikut:

Tambak-tambak pawon

Aku kena udang kuwali

Mung jaran mungsapi

Njaluk prawan sing angka siji

Setelah lagu Tambak-tambak Pawon terselesaikan, para penonton mulai nyawu (nyawer) oleh sintren menggunakan melemparkan saputangan, baju, atau kain lainnya yang diberisi uang alakadarnya sambil meminta pemain buat menyanyikan lagu-lagu yg diinginkannya yang kebanyakan yakni lagu dangdut. Sebagai catatan, dalam saat penonton melemparkan sesuatu ke arah sintren, oleh dalang senantiasa berada di belakangnya karena sang sintren akan tertentu terdorong ke belakang dan pingsan. Dan, buat menyadarkannya pulang, sang dalang lalu mengarahkan asap kemenyan berdasarkan dlupok ke arah hidung sintren semoga beliau balik menari lagi.

Lagu yang dibawakan dalam dikala dimulai program nyawer ini yakni lagu Ayo Ngewer-ngewer Puntren yg liriknya sebagai diberikut:

Ayo ngewer-ngewer putren

Sing dikewer rujake bae

Ayo nyawer-nyawer sintren

Sing disawer panjoke bae

Jika penonton yang nyawer sudah mulai sepi, sang dalang menyuruh sintren berhenti menari kemudian berjongkok buat selanjutnya ditutup kembali dengan kurungan ayam. Beberapa dikala kemudian kurungan dibuka & sang sintren pulang mengenakan pakaian sehari-hari, namun masih pada keadaan tidak sadar. Untuk menyadarkanya pulang, oleh dalang mengarahkan asap kemenyan berdasarkan dlupok ke arah hidung sintren semoga ia siuman. Dan, dengan siumannya oleh sintren, maka pertunjukan ronggeng buyung pun berakhir.

Nilai Budaya Tari Ronggeng Buyung

Seni sebagai lisan jiwa insan sudah barang tentu mengandung skor estadab, termasuk kesenian tradisional ronggeng buyung yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Indramayu. Namun demikian, jikalau dicermati secara mendalam ronggeng buyung tidak hanya mengandung skor estadab semata, tetapi ada skor-skor lain yang pada gilirannya sanggup dijadikan sebagai pola dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-skor itu antara lain yakni kerja sama, kekompakan, dan ketertiban. Nilai kolaborasi terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para penlampaunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang sanggup berjalan secara lancar. (pepeng)

Demikian Sobat Tradisi, Tari Ronggeng Buyung dari Indramayu Jawa Barat. Semoga berguna membuka wawasan Sobat perihal kebudayaan Indonesia.

Sumber:

Purnama, Yuzar, dkk,. 2004. Budaya Tradisional dalam Masyarakat Indramayu. Bandung: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah & Nilai Tradisional Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar