Jumat, 17 September 2021

12 Tari Tradisional Jawa Tengah

12 Tari Tradisional Jawa Tengah | tradisikita.my.id - Provinsi Jawa Tengah mempunyai segudang tari tradisional yang terdiri dari tari klasik, tari tradisi dan tari banyak macam baru/tari modern. Kita sebagai generasi muda wajib mengetahui keanekaragamn tari tradisional dari kawasan Jawa Tengah ini, bahkan mungkin beberapa diantara kita telah melestarikan tarian ini dengan mempelajari seni tari tradisional dari penopangr -penopangr seni tari yang tersebar di nusantara.

Tari tradisional yang asal menurut Jawa Tengah ini terbagi menjadi 3 yaitu :

1. Tari Klasik

  • Tari Bedhaya
  • Tari Gambyong
  • Tari Serimpi
  • Tari Beksan Wreng
  • Tari Bondan

2. Tari Tradisional

  • Tari Kuda Lumping / Ebeg
  • Tari Kete Ogleng
  • Sintren
  • Tari Jlantur

3. Tari Kreasi Baru

  • Tari Prawiroguni
  • Tari Ronggeng
  • Tari Wira Pertiwi
  • dan masih banyak lagi tari banyak macam yang dihasilkan para koreografer Indonesia
Dan diberikut ini klarifikasi dari tari tradisional Jawa Tengah :

1. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Bedhaya

Tari Bedhaya / Bedaya yaitu tarian klasik Jawa yang dikembangkan dikalangan keraton-keraton mataram. Tari Bedhaya ditarikan oleh 7 atau 9 orang penari yang umumnya perempuan dengan gemulai dan edukatif dengan diiringi oleh iringan musik gamelan.

Jumlah penari Bedhaya berdasarkan Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta umumnya 9 orang, sedangkan jumlah penari bedhaya berdasarkan Kabupaten Mangkunegara dan Pakualaman berjumlah 7 orang penari.

Untuk mengikuti tarian Bedhaya ini, para penari wanita disyaratkan masih perawan, nir sedang menstruasi serta dilampaui menggunakan puasa menjadi kepingan menurut persyaratannya.

Tari Bedhaya yg dikenal ketika ini antara lain :

Bedaya Ketawang, yaitu tarian pusaka Kasultanan Surakarta yang biasanya dilakukan pada dikala perayaan jumenengan dalem (pelantikan) Sunan Surakarta. Tarian ini diciptakan oleh Sultan Agung, menceritakan ihwal kisah pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul serta perjanjian keduanya untuk saling menjaga kedua kerajaan.

Bedaya Anglirmendung, yaitu tarian pusaka Kadipaten Praja Mangkunegaran. Pencipta tarian Bedaya Anglirmendung ini yaitu Sri Mangkunegara (Raden Mas Said) yaitu untuk mengenang pertempuran yang dipimpinnya melawan pasukan campuran Surakarta dan VOC di Ponorogo pada tahun 1752.

Bedaya Babar Layar, yaitu tarian pusaka kesultanan Yogyakarta. Tari Bedhaya Babar Layar ini diciptakan oleh Sunan Pakubuwono. Tari Bedhaya Babar Layar bedaya Babar Layar mendeskripsikan peperangan antara pangeran pati (putera mahkota) kerajaan Kandhabuwana melawan kerajaan Ngambarkumala.

Tari Bedhaya Babar Layar - Gambar : http://budaya-indonesia.Org

dua. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Gamyong

Tari Gamyong pada awalnya merupakan tari rakyat yang dipentaskan oleh penari jalanan. Pementasan tari jalanan ini disebut dengan Tledek. Salah seorang penari tledek berjulukan Sri Gamyong cukup banyak dikenal oleh masyarakat Surakarta pada waktu itu yaitu pada zaman Sinuhun Pakubowono IV (1788 s.d 1820). Sejak itulah tarian yang ia tarikan disebut dengan tari Gamyong.

Pada awalnya, tari gambyong dipakai pada upacara ritual pertanian yang bertujuan untuk kerindangan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dewi Padi (Dewi Sri) digambarkan sebagai penari-penari yang sedang menari. Dan sekarang tari gambyong dipergunakan untuk memeriahkan program resepsi perkawinan dan menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan. Dan pihak keraton Mangkunegara Surakarta pun telah menata ulang dan membakukan gerakan tari gamyong hingga yang dikala ini kita sanggup saksikan yaitu dengan menampilkan gerakan yang  bisa menampilkan abjad tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.

Sebelum tarian gamyong dimulai biasanya diawali dengan gendhing pangkur. Para penari menggunakan kostum warna kuning dan warna hijau sebagai  simbol kemakmuran dan kerindangan.

Tiga. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Serimpi

Tari Serimpi yaitu tari klasik yang berasal menurut Jawa Tengah. Tari Serimpi ini muncul dalam zaman kerajaan Mataram saat itu sedang dipimpin oleh Sultan Agung yaitu sekitar tahun 1613 - 1646. Tari Serimpi ini dianggap sakral sebab yaitu hanya dipentaskan pada lingkungan keraton buat ritual kenegaraan dan peringatan kenaikan tahta Sultan.

Tari Serimpi dari Jawa Tengah ditampilkan menggunakan diiringi bunyi gamelan. Tari Serimpi ini terbagi dalam beberapa tari dengan tema yang bermacam-macam pula. Tarian Serimpi di Kesultanan Yogyakarta digolongkan sebagai Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, & Serimpi Genjung. Untuk Kesultanan Surakarta, Serimpi digolongkan sebagai Serimpi Anglir Mendung & Serimpi Bondan.

4. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Beksan Wireng

Tari Beksan Wireng yaitu tari yang menggambarkan perang atau latihan perang yang temanya Keprajuritan. Tari Wireng merupakan tarian untuk laki-laki dengan gerakan tari bersumber dari gerakan pencak silat . Di Yogyakarta tari Wireng disebut dengan Beksan.

Ciri-ciri tari Wireng / Beksan Wireng diantaranya :

- Para penarinya tiruana pria

- Jumlah penari selalu genap

- Terdiri berdasarkan 3 bagian, yaitu pembuka (maju beksa), inti (inti beksa) dan epilog (hengkang beksa), dimana masing - masing kepingan ditandai menggunakan berubahnya tempo gendhing pengiringnya.

Kata Wireng sendiri berasal berdasarkan istilah Wira (perwira) dan ?Aeng? Yaitu prajurit yg unggul, yg ?Aeng?, yg ?Linuwih?.

5. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Bondan

Tari Bondan yaitu jenis tari klasik berasal berdasarkan Surakarta,Jawa Tengah.Tarian ini menceritakan bahwa menyayangi bunda pada anaknya melalui menggendong bayi menggunakan payung terbuka dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Tari Bondan ini mampu dilakukan sang seseorang wanita menggunakan menggendong boneka bayi menggunakan payung teerbuka yg wajib hati-hati alasannya adalah yaitu beliau menari di atas kendi & kendi itu dilarang sampai pecah.

Tarian tari Bondan terdapat tiga jenis yaitu:

  • Tarian tari Bondan Cindogo
  • Tarian tari Bondan Mardisiwi
  • Tarian tari Bondan Pegunungan/Tani

6. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Kuda Lumping

Kuda Lumping yaitu tarian tradisional yang memakai properti berupa kuda tiruan. Kuda lumping atau pula diklaim dengan Jaranan / Jaran Kepang atau jathilan merupakan tarian tradisional dari Jawa yg menampilkan sekelompok prajurit sedang menunggang kuda.

Menurut banyak sekali asal tari kuda lumping ini mendeskripsikan kisah usaha Raden Patah, yg dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Ada jua yang mengungkapkan bahwa tarian ini mengisahkan perihal latihan perang pasukan Mataram yg dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, buat menghadapi pasukan Belanda. Dan terlepas dari berasal usulnya, tarian kuda lumping ini merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat berdasarkan gerakan-gerakan ritmis, bergerak maju, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya sebuntut kuda pada tengah peperangan.

7. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Kete / Kethek Ogleng

Tari kethek ogleng merupakan tari tradisional dari Jawa Tengah atau tepatnya berasal dari desa Tokawi,kecamatan Nawangan,Kabupaten Pacitan. Tari Kethek Ogleng tersebut sudah ada semenjak tahun 1962, yang merupakan hasil karya dari seorang petani  berumur 18 tahun yang berjulukan Sutiman. Sutiman yang sekarang mempunyai penopangr seni krido wanoro terus membuatkan tarian kethek ogleng ini.

Menurut Sutiman kata “Kethek Ogleng’’ diambil dari nama hewan yaitu kera dalam bahasa jawa “KETHEK”, Sedangkan Ogleng diambil dari gamelan yang berbunyi “gleng-gleng”

Tari Kethek Ogleng pertama kali dimainkan di tempat orang punya hajat perkawinan tepatnya simpulan tahun 1963.  Pentas tersebut terealisasi atas undangan Kepala Desa Tokawi pada Waktu itu D.Harjo Prawiro.

Penari Kethek ogleng mengenakan kostum serba putih yg ibarat Hanoman dalam dongeng pewayangan. Adapun gerakan tari ibarat hewan kethek / kera hanoman.

8. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Sintren

Sintren (atau juga dikenal dengan Lais) adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini dikenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan, dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari dongeng cinta kasih Sulasih dengan Sulandono. Baca juga : 10 Tari Tradisional dari Jawa Barat .

Kesenian Sintren asal menurut kisah Sulandono menjadi putra Ki Bahurekso Bupati Kendal yg pertama output perkawinannya menggunakan Dewi Rantamsari yg dijuluki Dewi Lanjar. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seseorang putri menurut Desa Kalisalak, tetapi hubungan asmara tadi nir menerima restu menurut Ki Bahurekso, hasilnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih menentukan menjadi penari. Meskipun demikian rendezvous di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam mistik.

Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke badan Sulasih, pada dikala itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak dikala itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari niscaya dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan). sintren jg mempunyai keunikan tersendiri yaitu terlihat dari panggung alat-alat musiknya yang terbuat dari tembikar atau gembyung dan kipas dari bambu yang knorma dan budpekerti ditabuh dengan cara tertentu mengakibatkan bunyi yg khas.

9. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Jelantur

Tari  Jlantur yaitu tari tradisional orisinil Magelang Jawa Tengah  yang dimainkan oleh 40 orang laki-laki dengan menggunakan ikat kepala gaya turki. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang, lampau merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro.

10. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Prawiroguno

Tari Prawiroguno yaitu tari tradisional dari Jawa Tengah yang  menggambarkan seorang prajurit yang sedang latihan diri dengan perkomplitan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri. Dalam tari Prawiroguno terdiri dari 6 kepingan yaitu maju beksan, beksan, sekaran, perangan, sekaran dan hengkang beksan.

Berikut video tari Prawiroguno :

11. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Ronggeng

Tari ronggeng telah berkembang di masyarakat Jawa Barat dan Jawa Tengah kemungkinan dari zaman kuno, relief di kepingan Karmawibhanga pada era ke-8 Borobudur menampilkan adegan perjalanan rombongan hiburan dengan musisi dan penari wanita. Yang niscaya tari Ronggeng ini memang berbeda dengan tarian lainnya. Gerak tarian ronggeng ludang kecepeh ekspresif bahkan mengarah ke eksotis.

Goyang, geol, gitek yaitu karakteristik khas tarian ronggeng. Dengan ciri khas inilah seni ronggeng menjadi sama sebagai seni yg sanggup menciptakan kaum lelaki berdiri libidonya, sebagai akibatnya hasilnya citra seni ronggeng sebagai sangat buruk.

Tari ronggeng sesungguhnya adalah kepingan berdasarkan upacara untuk meminta kerindangan tanah. Upacara ini dilakukan biar output pertanian rakyat melimpah ruah. Karena terkait menggunakan kerindangan inilah, gerakan pada tarian dengan penari laki-laki yg dianggap bajidor ini, seolah-olah gerakan orang yg sedang bercinta.

Pergeseran mulai terjadi di zaman kolonialis. Sejak era kolonial Portugis sampai Belanda dan Jepang, ronggeng dijadikan sebagai hiburan di kawasan perkebunan. Tak hanya bagi pekerja perkebunan, Ronggeng merupakan hiburan bagi kaum penjajah dikala itu. Walhasil, semenjak saat itulah ronggeng tak lagi sekadar sebagai ritual istiadat. Sebagai hiburan, seni, ronggeng hasilnya ludang kecepeh poly bermuatan unsur erotis, mulai menurut cara berpakaian penari, gaya tarinya, bahkan sampai perilaku di atas panggung yg ludang kecepeh memancing birahi kaum adam.

Baca juga Tari Ronggeng Bugis dari Cirebon : 10 Tari Tradisional Jawa Barat.

12. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Wira Pertiwi

Tari Wira Pertiwi merupakan tari banyak macam baru  ciptaan Bagong Kussudiardjo yang menggambarkan sosok kepahlawanan seorang prajurit putri Jawa. Semangat prajurit perempuan dalam olah keprajuritan memanah. Wujud semangat penuh dedikasi bela Negara para Srikandi Indonesia pada Tanah air dan Bangsa. Ketegasan, ketangkasan dan ketangguhan seorang prajurit tergambar dalam gerak yang dinamis.

Demikian Sobat tradisi, beberapa pola 12 tari tradisional Jawa Tengah yang wajib kita lestarikan. Semoga menambah wawasan Sobat tiruana.

Referensi :

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Bedaya
  • http://budaya-indonesia.org/Tari-Bedhaya-Babar-Layar/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Serimpi
  • http://ridwanaz.com/umum/seni-budaya/tari-gambyong-surakarta-sejarah-seni-tari-dari-surakarta-jawa-tengah/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Gambyong
  • https://jv.wikipedia.org/wiki/Tari_Wireng
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_bondan
  • /search?q=kesenian-kethek-ogleng
  • http://news.detik.com/jawatimur/2524362/kethek-ogleng-tari-legenda-kota-1001-gua/1
  • /search?q=kesenian-kethek-ogleng
  • /search?q=kesenian-kethek-ogleng
  • http://ayomenari.com/tari-ronggeng/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ronggeng
  • http://youtube.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar