Senin, 20 September 2021

Legenda Asal Undangan Danau Ranau

Legenda Asal Usul Danau Ranau TradisiKita - Danau Ranau yakni danau terbesar kedua di Pulau Sumatera sesudah Danau Toba yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Seperti halnya danau Toba, danau yang terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan ini menjadi tempat pariwisata alam dengan pemandangan yang sangat indah.

Danau Ranau dikenal dan banyak digunakan dengan banyaknya ikan sebagai akibatnya acapkali para nelayan mencari ikan disini menggunakan jenis ikan menyerupai mujair, kepor, kepiat, & harongan. Tepat di tengah danau masih ada pulau yang berjulukan Pulau Marisa. Di sana masih ada sumber air kepanasan yang tak jarang dipakai para penduduk setempat ataupun para wisatawan yang tiba ke pulau tadi, masih ada air terjun, dan penginapan.

Danau ini jua menjadi objek wisata andal dan luar biasaan menurut Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Ada 3 tempat tujuan utama bagi para pengunjung Danau Ranau, yaitu Wisma PT Pusri ( Sumatera Selatan ), Pantai Sinangkalan ( Sumatera Selatan ) dan Wisata Lombok ( Lampung ).

Danau Ranau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang menciptakan cekungan besar. Terletak pada posisi koordinat 4°51′45″LS,103°55′50″BT. Namun sebagaimana Legenda Asal Usul Danau Toba , ternyata Danau Ranau juga mempunyai legenda mengenai awal mula terbentuknya danau. Cerita asal seruan danau ranau ini berasal dari kisah rakyat yang telah ada secara turun temurun.

Legenda Asal Usul Danau Ranau

Danau Ranau Gambar : hellopalembang.Com

Menurut kisah yg berkembang selama ini, alkisah dalam zaman berlalu & silam kala pada sebuah desa yg lebat & menyuburkan pada tepi sebuah paya-paya (rawa) yang luas, tinggallah seorang tetua istiadat. Paya-paya tersebut ditumbuhi oleh pohon-pohon Reranau. Di samping itu tumbuh juga sebatang pohon Hara yg sangat akbar. Di pohon ini aneka macam burung-burung yg bersarang & di antaranya terdapat sepasang burung yg akbar sekali & sebagai pimpinan diantaranya.

Mata pencaharian penduduk desa itu yakni mencari ikan dan bercocok tanam menggunakan berladang dan menggarap sawah. Karena lebat dan menyuburkannya tempat ini, poly orang yang berdatangan dan bermukim serta mencari nafkah dengan bercocok tanam. Untuk itu, mereka membuka huma-huma gres yg masih lebat dan menyuburkan, tetapi makin lama penduduk berladang sampai ke zenit-puncak bukit & gunung-gunung bahkan hingga ke hutan larangan. Mereka selalu berpindah-pindah mencari huma gres yang masih lebat dan menyuburkan. Larangan serta aturan moral dalam berladang telah tidak diindahkan lagi sang penduduk, mereka tidak mau lagi mendengar nasihat yang dimemberikankan sang pemimpin adat.

Seiring dengan perkembangan zaman, jumlah penduduk semakin banyak dan kesibukan orang bau tanah buat mengasuh anak-anaknya makin semakin tinggi. Akibatnya bawah umur kurang diperhatikan sebagai akibatnya mereka tidak hanya bermain namun telah mulai merusak. Mereka mulai mengganggu burung-burung dan mengambil sarangnya di sekitar paya-paya dan yg hayati di pohon-pohon. Anak-anak ini menangkap burung & merogoh sarangnya buat dijadikan permainan. Melihat keadaan ini, ke 2 burung besar itu sebagai sangat marah. Mereka mulai menyerang orang-orang yang lewat serta orang yang berada di bersahabat sarangnya. Nampaknya kedua burung akbar itu melaksanakan protes atas gangguan terhadap kehidupannya.

Penduduk mulai mencoba mengusir burung tadi dengan jalan menebang pohon Hara tetapi nir berhasil, bahkan ke 2 burung itu sebagai semakin ganas. Beberapa orang setuju buat mengadukan memberikanta ini dalam tetua moral yang selama ini mereka lupakan dan memohon bantuannya buat mengusir kedua burung tadi. Setelah berbincang-bincang dan mendapat nasihat, mereka karenanya pergi. Sementara itu, tetua moral memohon petunjuk & kekuatan buat memusnahkan kedua burung yg sudah menyebabkan malapetaka bagi orang kampung.

Setelah beberapa waktu penduduk laki-laki dikumpulkan & dalam hari yg telah ditentukan menggunakan dipimpin oleh tetua norma, warga beramai-ramai pulang ke tepi paya-paya. Tidak lama kemudian, kedua burung itu tiba menyerang, tetapi tetua moral telah siap menghadapinya dengan mengerahkan segala kekuatan & kesaktiannya. Akhirnya, tetua moral mampu mengusir kedua burung ganas itu.

Kemudian atas petunjuk menurut tetua istiadat, maka penduduk karena itu berusaha buat menebang pohon Hara dan pohon Reranau. Tetapi kedua pohon itu seolah memiliki kekuatan sehingga tidak mempan ditebang. Setelah tetua moral menancapkan kapaknya, barulah penduduk beramai-ramai mampu menebangnya, pohon Hara itu karena itu tumbang. Dari pohon Hara yg ditebang itu keluarlah mata air, makin lama makin banyak yang karenanya menggenangi paya-paya tadi. Kini terbentuklah sebuah danau yang besar & latif, yg dianggap dengan Danau Ranau. Untuk menghormati jasa tetua adat, maka penduduk memmemberikannya gelar "Singa Jurudanquot; yg berarti pemimpin gagah berani & bijaksana.

Sumber kisah : http://aryawirabumi.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar