Kamis, 30 September 2021

Mamaos, Seni Tembang Sunda Cianjuran

Mamaos, Seni Tembang Sunda Cianjuran | TradisiKita - Mamaos adalah satu kesenian tempat Jawa Barat yang lahir dan berkembang di Kabupaten Cianjur. Mamaos ludang kecepeh dikenal masyarakat Indonesia sebagai tembang sunda cianjuran atau kata "Cianjuran" saja.

Mamaos, sebagai seni tembang sunda Cianjuran terlahir dari Cipta, Rasa dan Karsa seorang Bupati Cianjur berjulukan R. Aria Adipati kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti yang memimpin Cianjur semenjak tahun 1834 hingga dengan tahun 1864.

Apakah Seni Mamaos Itu?

Mamaos ialah seni bunyi suku sunda yang dinyanyikan, dengan tujuan biar kita bisa bekerjasama dengan tiga hal, yaitu insan dengan alam, insan dengan insan dan insan dengan Sang Maha Pencipta.

Istilah mamaos hanya menyampaikan pada lagu-lagu yang berpolakan pupuh (tembang), sebab istilah mamaos adalah penghalusan dari kata mamaca, yaitu seni membaca buku dongeng wawacan menggunakan cara dinyanyikan.

Buku wawacan yg memakai hukum pupuh ini terdapat yg dilagukan menggunakan teknik nyanyian rancag & teknik beluk. Lagu-lagu mamaos berlaras pelog (degung), sorog (nyorog; madenda), salendro, serta mhebat & luar biasaungan.

Berdasarkan materi berasal dan sifat lagunya mamaos dikelompokkan pada beberapa wanda, yaitu: papantunan, jejemplangan, dedegungan, dan rarancagan. Sekarang dimasukkan jua jenis kakawen dan panambih menjadi wanda tersendiri.

Lagu-lagu mamaos menurut jenis tembang banyak memakai teladan pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, serta ada pada antaranya lagu berdasarkan pupuh lainnya. Lagu-lagu dalam wanda papantunan pada antaranya Papatat, Rajamantri, Mupu Kembang, Randegan, Randegan Kendor, Kaleon, Manyeuseup, Balagenyat, Putri Layar, Pangapungan, Rajah, Gelang Gading, Candrawulan, dsb.

Sementara dalam wanda jejemplangan di antaranya terdiri dari Jemplang Panganten, Jemplang, Cidadap, Jemplang Leumpang, Jemplang Titi, Jemplang Pamirig, dsb.

Wanda dedegungan pada antaranya Sinom Degung, Asmarandana Degung, Durma Degung, Dangdanggula Degung, Rumangsang Degung, Panangis Degung dan sebagainya.

Wanda rarancagan pada antaranya; Manangis, Bayubud, Sinom Polos, Kentar Cisaat, Kentar Ajun, Sinom Liwung, Asmarandana Rancag, Setra, Satria, Kulu-kulu Barat, Udan Mas, Udan Iris, Dangdanggula Pancaniti, Garutan, Porbalinggo, Erang Barong dan sebagainya.

Wanda kakawen pada antaranya: Sebrakan Sapuratina, Sebrakan Pelog, Toya Mijil, Kayu Agung, & sebagainya.

Wanda panambih di antaranya: Budak Ceurik, Toropongan, Kulu-kulu Gandrung Gunung, Renggong Gede, Panyileukan, Selabintana, Soropongan, dsb.

Kapan Seni Mamaos diklaim Tembang Sunda Cianjuran?

Seni Mamos lalu dinamakan tembang Sunda Cianjuran semenjak tahun 1930-an dan dikukuhkan tahun 1962 knorma dan etika diadakan Musyawarah Tembang Sunda sa-Pasundan di Bandung. Seni mamaos merupakan seni vokal Sunda dengan alat musik kacapi indung, kacapi rincik, suling, dan atau rebab.

Pada masa awal penciptaannya, Cianjuran merupakan revitalisasi dari seni Pantun. Kacapi dan teknik memainkannya masih terang dari seni Pantun. Begitu jua lagu-lagunya hampir tiruananya berdasarkan hidangan seni Pantun. Rumpaka lagunya pun mengambil berdasarkan dongeng Pantun Mundinglaya Dikusumah.

Pada masa pemerintahan bupati RAA. Prawiradiredja II (1864—1910) kesenian mamaos mulai menyebar ke tempat lain. Rd. Etje Madjid Natawiredja (1853—1928) ialah di antara tokoh mamaos yang berperan dalam penyebaran ini. Dia sering diundang untuk mengajarkan mamaos ke kabupaten-kabupaten di Priangan, di antaranya oleh bupati Bandung RAA. Martanagara (1893—1918) dan RAA. Wiranatakoesoemah (1920—1931 & 1935—1942). Knorma dan etika mamaos menyebar ke tempat lain dan lagu-lagu yang menggunakan teladan pupuh telah banyak, maka masyarakat di luar Cianjur (dan beberapa himpunan di Cianjur) menyebut mamaos dengan nama tembang Sunda atau Cianjuran, sebab kesenian ini khas dan berasal dari Cianjur. Demikian pula knorma dan etika radio NIROM Bandung tahun 1930-an menyiarkan kesenian ini menyebutnya dengan tembang Cianjuran.

Selain Rd. Etje Madjid Natawiredja, dikenal pula Bapak Aem dan Maing Buleng yang turut membantu penyebaran dan penyempurnaan seni mamaos di Priangan.

Pada awal mulanya, seni mamaos dinyanyikan oleh kaum pria. Baru pada perempat pertama era ke-20 mamaos bisa dipelajari oleh kaum wanita. Hal ituTerbukti dengan munculnya para juru mamaos wanita, menyerupai Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu O’oh, Ibu Resna, dan Nyi Mas Saodah.

Fungsi dan Perkembangan Seni Mamaos

Pada mulanya mamaos berfungsi sebagai musik hiburan alat silaturahmi di antara kaum menak. Tetapi mamaos sekarang, di samping masih menyerupai fungsi tiruanla, juga telah menjadi seni hiburan yang bersifat profit oleh para senimannya menyerupai kesenian. Mamaos kini sering digunakan dalam hiburan hajatan perkawinan, khitanan, dan banyak sekali keperluan hiburan atau program adat..

Pemain dan Peralatan Musik yang digunakan dalam Seni Mamaos

Peralatan musik yang di pakai dalam tembang Cianjuran atau mamaos diantaranya kecapi indung, kecapi rincik dan suling, bila ada lagu panambih biasanya kecapi induk di barengi dengan kecapi rincik yang ketiruananya termasuk dalam alat musik tradisional Jawa Barat

Adapun pemain mamaos terdiri dari empat orang dimana masing-masing mempunyai kiprah sendiri yaitu pemain kecapi indung, pemain kecapi rincik pemain suling dan vokal.

Busana yang di pakai laki-laki ialah baju taqwa, sinjang, dengan benggol atau iket di kepala sebagai aksesorisnya. Sedangkan pakaian yang di pakai oleh perempuan yaitu kebaya, sinjang, selendang dan biasanya menggunakan sanggul. Seiring perkembangan zaman, busana para pemain mamaos ini tidak menjadi patokan serta bisa diubahsuaikan dengan keperluan.

 yang lahir dan berkembang di Kabupaten Cianjur Mamaos, Seni Tembang Sunda Cianjuran

Contoh Lirik Mamaos

PAPATAT

Daweng diajar ludeung,

Pusaka dayeuh Cianjur

Kawitna ti Cibalagung

Cibalagung kantun suwung

Nya ngalih ka Pamoyanan

Pamoyanan kantun ngaran

Nya ngalih ka tebeh wetan

Badak putih tetenggerna

Dugika ayeuna pisan

SUNDA MEKAR

Cacandran para luluhur

Ciri bumi dayeuh panca tengah

Ciri dayeuh pancatengah

Lemah duhurna lemah lengkobna

Lemah padataranana

(GELENYU...)

Nagara bukti wibawa

Parlambangna congkrang

kujang papasangan

(GELENYU...)

Yasana para pujangga

Teu sulaya dinyatana

LAYAR PUTRI

Sada gugur di Kapitu

Sada gelap ngadasaran

Sada maritim lilintungan

Ka mana ngaitkeun kincir

Ka kalèr ka tojo bulan

Ka mana ngaitkeun pikir

Sugan palèr ku sabulan

Demikian Sobat Tradisi, sekilas gosip mengenai Mamaos, seni tembang sunda Cianjuran. Semoga memberi manfaat..

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Tembang_Cianjuran

gambar : kangkamal.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar