Kamis, 30 September 2021

Legenda Kerikil Belah

Legenda Batu Belah | TradisiKita - Batu Belah entah darimana asalnya, serta dimana letaknya. Namun kisah ini sudah ada dan diceritakan secara turun temurun. Beberapa kawasan mengklaim wacana adanya fenomena alam berupa watu yang terbelah, ibarat di Gayo, Aceh Tengah. Demikian juga di Langkat, Sumatera Utara atau di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. Yang manakah watu belah tersebut yang dimaksud didalam kisah rakyat atau legenda ?  Namun yang niscaya legenda watu belah ini yaitu sebuah kisah legenda masyarakat Melayu.

Dari sekian legenda mengenai Batu Belah ini, kali ini TradisiKita akan mengambil salah satu legenda watu belah yang ada dimasyarakat Aceh. Khususnya yang berada di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Untuk Sobat Tradisi yang ingin mengetahui alur kisah Legenda Batu Belah, TradisiKita akan mengisahkanya khusus untuk Sobat Tradisi tiruana. Selamat menyimak dan mengambil pesan yang tersirat yang ada dalam kisah rakyat atau Legenda Batu Belah dibawah ini :

Legenda Batu Belah (Atu Belah) Aceh

Pada jaman lampau kala, di tanah Gayo, Aceh,  hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Ladang yang mereka punyai pun hanya sepetak kecil saja sehingga hasil ladang mereka tidak bisa untuk menyambung hidup selama tiruansim, sedangkan ternak mereka pun hanya dua buntut kambing yang kurus dan sakit-sakitan. Oleh sebab itu, untuk menyambung hidup keluarganya, petani itu menjala ikan di sungai Krueng Peusangan atau memasang jerat burung di hutan. Apabila ada burung yang berhasil terjerat dalam perangkapnya, ia akan membawa burung itu untuk dijual ke kota.

Suatu kadab, terjadilah demam isu kemarau yang amat dahsyat. Sungai-sungai poly yang menjadi kemarau, sedangkan tanam-tumbuhan meranggas gersang. Begitu jua tumbuhan yang ada pada ladang petani itu. Akibatnya, ladang itu nir memdiberikan output sedikit pun. Petani ini memiliki 2 orang anak. Yang sulung berumur delapan tahun berjulukan Sulung, sedangkan adiknya Bungsu gres berumur satu tahun. Ibu mereka kadang kala membantu mencari nafkah dengan membangun periuk dari tanah liat. Sebagai seseorang anak, si Sulung ini bukan main badungnya. Ia selalu merengek minta uang, padahal dia tahu orang tuanya nir pernah mempunyai uang ludang keringh. Apabila dia disuruh buat menjaga adiknya, beliau akan sibuk bermain sendiri tanpa peduli apa yg dikerjakan adiknya. Akibatnya, adiknya pernah nyaris tenggelam di sebuah sungai.

Pada suatu hari, si Sulung diminta ayahnya untuk pulang mengembalakan kambing ke padang rumput. Agar kambing itu makan banyak & terlihat gemuk sehingga orang mau membelinya agak mahal. Besok, ayahnya akan menjualnya ke pasar karena mereka sudah nir mempunyai uang. Akan tetapi, Sulung malas menggembalakan kambingnya ke padang rumput yg jauh letaknya.

?Untuk apa aku pulang jauh-jauh, ludang keringh baik disini saja sehingga aku mampu tidur di bawah pohon ini,? Istilah si Sulung. Ia kemudian tidur di bawah pohon. Kadab si Sulung bangun, hari sudah menjelang sore. Tetapi kambing yg digembalakannya telah nir terdapat. Saat ayahnya menanyakan kambing itu kepadanya, dia mendustai ayahnya. Dia berkata bahwa kambing itu hanyut di sungai. Petani itu memarahi si Sulung dan bersedih, bagaimana beliau membeli beras besok.

Akhirnya, Petani itu tetapkan buat berangkat ke hutan buat berburu rusa, di rumah tinggal istri dan kedua anaknya, dalam ketika makan, anak yg sulung merajuk, karena pada meja tidak terdapat daging sebagai sahabat nasinya. Lantaran pada rumah memang nir terdapat persediaan lagi, maka peristiwa ini membentuk ibunya resah memikirkan bagaimana sanggup memenuhi asa anaknya yg sangat dimanjakannya itu.

Akhirnya si ibu menyuruh anaknya tadi untuk mengambil belalang yang berada pada pada lumbung. (padahal sebelumnya siayah memesan pada sang bunda jangan di buka lumbung yg diberisikan belalang itu), Kadab si anak membuka tutup lumbung, rupanya dia kurang berhati-hati, sebagai akibatnya mengakibatkan tiruana belalang itu habis berterbangan ke luar.

Sementara itu ayahnya pergi berdasarkan berburu, ia kelihatannya sedang kesal, karena tidak berhasil memperoleh sebuntut rusa pun. Kemudia dia sangat marah kadab mengetahui tiruana belalang yg sudah di kumpulkan dengan susah payah sudah lenyap hanya dalam tempo sekejap.

Kemudian, pada keadaan lupa diri si ayah menghajar isterinya sampai babak belur & menyeretnya keluar rumah. Dan kemudian tega memotong sebelah (maaf) payudara istrinya, dan memanggangnya, buat dijadikan teman nasinya. Kemudian perempuan malang yg berlumuran darah & pada kesakitan itu segera meninggalkan rumahnya.

Dalam keadaan keputusasaan si wanita tadi pergi ke hutan, pada dalam hutan tadi si mak menemukan sebongkah batu, menggunakan keputusasaan si mak meminta pada watu buat bisa menelannya, semoga penderitaan yang pada rasakanya berakhir.

Selepas itu si ibu bersyair menggunakan istilah-kata, ?Atu belah, atu bertangkup nge sawah pejaying te masa lampau,? Bila diartikan pada bahasa indonesia ?Batu Belah, watu bertangkup, telah tiba konvensi kita masa yg kemudian. ?Kata-istilah? Itu dinyanyikan berkali-kali secara lirih sekali oleh bunda yang malang itu.

Sesaat lalu, Tiba-tiba suasana berubah, cuaca yang sebelumya cerah mejadi gelap disertai menggunakan petir & angin akbar, dan dalam waktu itu pula watu bersebut terbelah sebagai dua menggunakan perlahan-lahan tanpa ragu lagi si ibu melangkahkan kakinya masuk ke tengah kepingan watu tersebut. Setelah itu watu yg terbelah sebagai dua tersebut kembali menyatu.

Si ayah dan ke 2 anaknya tersebut mencari si mak , tetapi nir menemukannya, mereka hanya menemukan beberapa helai rambut diatas sebuah watu akbar, rambut tersebut yaitu milik si bunda yang tertinggal kadab masuk kedalam atu belah.

Ia menangis keras & memanggil ibunya sampai berjanji tidak akan nakal lagi, namun penyesalan itu datangnya telah terlambat. Ibunya telah menghilang ditelan Batu Belah.

Cerita Rakyat ini yaitu kisah masyarakat yang banyak di kenal bawah umur di masyarakat gayo. Mereka menggolongkannya sebagai legenda, Karena oleh penduduk gayo insiden ini benar-sahih terjadi di tempat mereka. Untuk membuktikannya mereka bisa berkata kepada kita sebuah betu akbar yg terletak kira-kira 35 km menurut kota Takengon di Gayo.

 Namun kisah ini sudah ada dan diceritakan secara turun temurun Legenda Batu Belah

Demikian Sobat Tradisi, sebuah legenda dengan tamat kisah yang memilukan. Semoga dari legenda watu belah ini ada pesan yang tersirat yang sanggup kita ambil, sehingga mengakibatkan kita insan yang ludang keringh bijak lagi dalam mengarungi perahu kehidupan di dunia.

Sampai jumpa pada artikel mengenai legenda dan kisah rakyat lainnya.

Sumber : books.Google.Com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar