Kamis, 30 September 2021

Tari Legong Bali Sejarah Dan Pertunjukannya

Tari Legong Bali | TradisiKita - Bali mempunyai banyak kesenian yang dikenal dan banyak dipakai hingga ke mancanegara. Salah satunya tari Legong. Sobat bisa menemukan banyak sekali isu mengenai tari legong Bali di sini.

Legong adalah sebuah tarian klasik Bali yg mempunyai perbendaharaan mobilitas yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring, yg syahdan adalah imbas menurut Gambuh Jawa Timur.

Tari Legong Bali

 mempunyai banyak kesenian yang dikenal dan banyak dipakai hingga ke mancanegara Tari Legong Bali Sejarah dan Pertunjukannya
Tari Legong

1. Tentang Tari Legong Bali

Tari Legong merupakan salah satu tari klasik dari Pulau Dewata Bali dimana mempunyai perbendaharaan gerak tari yang sangat kompleks.

Kata Legong berasal dari kata "Leg" yang artinya lentur atau luwes yang kemudian diartikan sebagai gerakan tari yang gemulai.Selanjutnya kata tersebut di atas dikombinasikan dengan kata "gong" yang artinya gamelan, sehingga menjadi "Legong" yang mengandung arti gerakan yang sangat terikat (terutama dialegtuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Sebutan Legong Kraton yaitu merupakan perkembangannya kemudian.

Tari Legong adalah tarian klasik dari Pulau Dewata yg dibawakan oleh dua orang gadis atau ludang kecepeh dengan membawa properti berupa kipas.

Dua. Sejarah Tari Legong Bali

Menurut Babad Dalem Sukawati, sebuah riwayat renta desa Sukawati, Gianyar, tari Legong diciptakan menurut mimpi I Dewa Agung Made Karna, yaitu raja Sukawati yang bertakhta pada kisaran tahun 1775-1825 M.

I Dewa Agung Made Karna sedang melaksanakan tapa pada pura Jogan Agung Ketewel erat desa Sukawati. Dalam semadinya dia bermimpi melihat bidadari sedang menari di Surga. Mereka menari dengan pakaian latif & menggunakan hiasan ketua dari emas.

Knorma & adab sadar dari mimpinya, I Dewa Agung Made Karna memerintahkan kepeda Bendesa Ketewel (ketua desa) buat membuat beberapa topeng dan membuat suatu tarian yang menyerupai dengan impiannya. Tidak usang setelah itu, Bendesa Ketewel berhasil membuat sembilan butir topengnya diragakan sang 2 orang penari Sang Hyang & yg kini telah memakai ilmu tari yg pasti diduga sudah diciptakan ketika itu.

Beberapa lama sesudah terciptanya Sang Hyang Legong, sebuah gerombolan kesenian yg dipimpin I Gusti Jelantik & Blahbatuh mempertunjukan tari Nandir yang gayanya hampir sama dengan tari Sang Hyang Legong, kecuali penari 2 anak pria yg nir menggunakan topeng. I Dewa Agung Manggis segera memerintahkan dua orang artis menurut Sukawati buat menata tari Nadir agar bisa diperagakan sang belum dewasa wanita. Sejaka dikala itulah tari Legong Klasik diciptakan sampai sekarang.

Tiga. Fungsi dan Makna Tari Legong Bali

Tari Legong sarat akan penilaian dan pengertian & klarifikasi yang tersimpan dalam setiap gerakannya. Nilai sakral pertunjukan Legong tersimpan di dalam gerak tarinya sendiri. Sebelum tarian dimulai, kedua penari Legong duduk pada bangku di muka gamelan, berayun ke arah kiri & ke kanan, menjadi peniruan tari kerawuhan.

Tari Legong masih erat hubungannya menggunakan kepercayaan , baik berdasarkan segi sejarah maupun pertunjukannya. Dalam hal ini, sama dengan tari Sang Hyang. Nilai keagamaan dan agama yang diasosiasikan menggunakan tari Legong adalah kebudayaan keraton Hindu Jawa. Kebudayaan tadi amat berbeda sifatnya jika dibandingkan menggunakan kebudayaan pra-Hindu pada Bali yg ekspresinya terungkap dalam tari Sang Hyang. Pada saat ini kekerabatan tari Legong dengan kepercayaan Hindu sangat beda sifatnya. Tari Legong tidak lagi adalah manifestasi dari leluhur, menyerupai halnya Sang Hyang, tetapi dipertunjukan buat hiburan para leluhur. Dengan kata lain, tari Legong dipentaskan untuk menghibur para leluhuryang turun dari kahyangan, termasuk para raja yg datang dalam upacara odalan yg datangnya setiap 210 hari.

Seperti kesenian istana lainnya, tari Legong dijadikan suatu tradisi menjadi bazar yg mencerminkan kekayaan dan kemampuan para raja dalam zaman lampau. Para petugas istana berusaha memperoleh wanita-perempuan yg paling elok & berbakat lalu dilatih buat dijadikan penari Legong, & banyak di antaranya sebagai abdi keraton.

4. Pertunjukan Tari Legong Bali

a. Tempat Pertunjukan Tari Legong

Di dalam proses perubahan Sang Hyang menjadi Legong melalui Gambuh, terjadilah satu proses sekularisasi walaupun Legong masih bersifat ritual. Legong tidak lagi dipentaskan di jeroan pura, tetapi pada sebuah kalangan, baik di dalam maupun di luar halaman pura.

Kalangan berbentuk segi empat panjang pada atas tanah, dengan ukuran panjang delapan meter dan lebar enam meter. Kalangan dikelilingi oleh bambu yang dihiasi dengan janur. Dindingnya dibuat rendah sebagai akibatnya penonton bisa melihat sambil duduk di atas tanah. Penonton sanggup melihat menurut 3 jurusan.

Adapun gamelan yg mengiringi pertunjukan tari legong diletakkan dalam satu sisi yang berlawanan dengan tampilnya Legong itu. Meskipun kalangan nir lagi dibuat di jeroan pura, loka pertunjukannya perlu dikebersihankan dengan suatu upacara oleh seorang pemangku (penghulu kepercayaan ) yang menghaturkan sesajen dan doa-doa buat keselamatan pementasan tari Legong.

Kalangan diatur sesuai menggunakan arah spiritual dalam kepercayaan Hindu, yaitu Legong tampil menurut arah utara yang mendeskripsikan lini sakral berdasarkan Gunung Agung. Gamelan pengiringnya yg terletak di belakang penari-penari Legong berfungsi menjadi latar belakang pertunjukan tadi.

B. Pertunjukan dan Gerak Tarian Legong Bali

Pada motif gerak tari (karana) Legong memang bermuara kepada dasar gerak tari Gambuh, yang memang telah mempunyai tata krama menari yang ketat, termuat dalam lontar Panititaling Pagambuhan, yakni mengenai dasar-dasar tari yakni agem, posisi gerak dasar yang tergantung dari perannya, ada banyak jenis agem. Kemudian Abah Tangkis, gerakan peralihan dari agem satu ke agem yang lainnya, ada tiga jenis Abah tangkis. Dasar selanjutnya yaitu Tandang, yakni cara berjalan dan bergeraknya si penari, dari sini akan dikenal motif gerak menyerupai ngelikas, nyeleog, nyelendo, nyeregseg, kemudian tandang nayog, tandang niltil, nayung dan agem nyamir. Untuk metidak ada yang kurangi dikenal pula dasar tari yakni Tangkep, yang memuat seluruh dasar-dasar ekspresi, mulai dari gerakan mata, ada yang namanya dedeling, manis carengu, kemudian gerakan leher ada yang disebut Gulu Wangsul, Ngilen, Ngurat daun, ngeliyet, ngotak pundak bahkan termasuk gerakan jemari, yaitu nyelering, girah, nredeh dan termasuk pula hukum menggunakan kipas; nyekel, nyingkel dan ngaliput. Ciri yang sangat berpengaruh dalam tari Legong yaitu gerakan mata penarinya yang membuat tarian tersebut menjadi hidup dengan lisan yang sangat memukau oleh penarinya.

Struktur tari Legong secara spesifik adalah

  • Pepeson
  • Bapang
  • Ngengkog
  • Ngaras
  • Pepeson muanin oleg
  • Ngipuk.
Sedangkan secara umumnya struktur tari Legong terdiri dari

  • Papeson
  • Pangawak
  • Pengecet
  • Pakaad.

Keterampilan dalam membawakan tari Legong, kesesuaiannya menggunakan dominasi jalinan wiraga, wirama & wirasa yg baik, sesuai menggunakan patokan agem, tandang, dan tangkep.

C. Macam-macam tari Legong Bali

Legong Lasem (Kraton)

Tarian yg baku ditarikan sang 2 orang Legong & seorang condong. Condong tampil pertama kali, kemudian menyusul dua Legong yg menarikan Legong lasem. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton. Tari ini mengambil dasar menurut cabang dongeng Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri), yaitu perihal keinginan raja (adipati) Lasem (kini masuk Kabupaten Rembang) buat meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha (Kadiri), tetapi beliau berbuat tidak terpuji dengan menculiknya. Sang putri menolak pinangan oleh adipati alasannya adalah yaitu dia telah terikat sang Raden Panji menurut Kahuripan. Mengetahui adiknya diculik, raja Kadiri, yg adalah saudara tertua menurut sang putri Rangkesari, menyatakan perang & berangkat ke Lasem. Sebelum berperang, adipati Lasem wajib menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri namun kemudian meninggal dalam pertempuran melawan raja Daha.Awal tari Legong mulai timbul pada pertengahan kurun ke-17. Pada ketika itu Bali dipelintah sang beberapa Raja. Puri yaitu salah satu tempat buat menciptakan tabuh & tari gres & mementaskannya dalam Zaman itu. Menurut lontar Dewa Agung Karna, putra raja pertama kerajaan Sukawati dalam pertengahan kurun ke-17, beliau melihata bayangan bidadari menari. Dari sinilah diciptakan tari Legong. Gaya tari Legong kini yang menyerupai ditarikan sang 2 atau tiga penari prempuan pada pertunjukan dimana-mana selesainya kurun ke-20. Cerita tari Legong diambil berdasarkan gambuh (drama tari yang mengambil tema dari Malat, sastra klasik yg menceritakan perihal perjanjian Panji, hero Jawa).

Legong Jobog

Tarian ini, menyerupai biasa, dimainkan sepasang legong. Kisah yg diambil yaitu menurut cuplikan Ramayana, ihwal persaingan 2 bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yg memperebutkan ajimat berdasarkan ayahnya. Karena ajimat itu dimenghilangkan ke danau ajaib, keduanya bertarung sampai masuk ke dalam danau. Tanpa disadari, keduanya beralih menjadi monyet & pertempuran tidak ada hasilnya.

Legong Legod Bawa

Tari ini merogoh kisah persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu tatkala mencari membisu-diam lingga Dewa Syiwa.

Legong Kuntul

Legong ini menceritakan sepasang kuntul yang asyik bercengkerama.

Legong Smaradahana

Legong Sudarsana

Legong Playon

Legong Untung Surapati

Legong Andir (Nadir)

Mengambil dongeng semacam Calonarang yg adalah ciri khas tari Legong di desa Tista (Tabanan).

Sang Hyang Legong atau Topeng Legong

Mengambil dongeng semacam Calonarang yang merupakan ciri khas di pura Pajegan Agung (Ketewel). Tari Legong asal Ketewel itu biasa dianggap tari Legong topeng, alasannya adalah yaitu penarinya wajib menggunakan topeng yang dipenahan menggunakan gigi. Berbeda menggunakan tari Legong keraton yang kini dikenal gemulai, energik, tapi mengentak, gerakan tari legong topeng jauh menurut kesan mengentak.

Gerakan para penari Legong topeng terkesan sangat gemulai, kalem, tanpa satupun gerakan cepat. Semua memberikanrama teratur. Lantaran lakonnya bidadari, yang mendeskripsikan gerakan bidadari di kahyangan, terang Mangku Widia. Mangku Widia menambahkan, kemunculan Legong topeng bermula berdasarkan seorang Ksatria pada Puri Sukawati berjulukan I Dewa Agung Anom Karna. Ia mendapat pandangan baru knorma & adab bersemadi pada Pura Payogan Agung Ketewel. Sang ksatria kabarnya menerima perintah berdasarkan Hyang Pasupati, buat membuat sebuah tarian menggunakan abjad topeng yang sudah ada.

5. Musik Pengiring Tari Legong

Tari Legong disajikan dengan diiringi musik pengiring berupa gamelan Bali yang terdiri dari beberapa alat musik tradisional Bali .

6. Busana / Pakaian Penari Legong Bali

Busana khas legong yang berwarna cerah (merah, hijau, ungu) menggunakan lukisan daun-daun dan hiasan bunga-bunga emas pada kepala yang bergoyang mengikuti setiap gerakan dan getaran pundak penari disederhanakan dengan dominasi rona hitam-putih.

7. Perkembangan Tari Legong Bali

Sejak kurun ke-19 tampak terdapat pergeseran: Legong berpindah dari istana ke desa. Wanita-perempuan yang pernah mengalami latihan pada istana kembali ke desa dan mengajarkan tari Legong kepada generasi memberikankutnya. Banyak sakeha (gerombolan ) Legong terbentuk, khususnya di loka Gianyar dang Badung. Guru-pengajar tari Legong pula poly bermunculan, khususnya menurut desa Saba, Bedulu, Peliatan, Klandis, & Sukawati. Murid-pelajar dan anak didik didatangkan menurut semua Bali buat mengusut tari Legong, lalu mengembangkannya balik ke desa-desa. Legong menjadi belahan primer setiap upacara odalan di desa-desa.

Dalam perkembangan selanjutnya, tari Legong bukan lagi merupakan kesenian istana, melainkan sebagai milik rakyat umum. Pengaruh istana makin lama makin melemah semenjak jatuhnya Bali ke tangan Belanda pada 1906-1908 M. Di desa, sekarang Legong dipergelarkan jikalau dibutuhkan buat kepentingan upacara keagamaan. Leluhurnya, Sang Hyang, dipentaskan bekerjasama menggunakan agama animisme. Adapun nenek moyangnya yg lain, yaitu Gambuh mengungkapkan artikulasi idea berdasarkan Majapahit. Pada mulanya Legong jua berafiliasi dengan agama Hindu istana yang tinggi penilaiannya, namun kini bekerjasama dengan kepercayaan Hindu Dharma yg ludang kecepeh bersifat sekuler. Tari Legong masih ditarikan oleh anak gadis berdasarkan desa tertentu pada sebuah kalangan yang sudah diupacarai sehubungan menggunakan upacara keagamaan. Kalangan acapkali-tak jarang dibentuk di luar halaman loka persembahyangan walaupun masih diorientasikan dengan dua arah kaja dan kelod sebagai arah yg menakutkan pada agama orang-orang Bali. Yang paling utama yaitu Legong dipersembahkan menjadi hiburan bagi rakyat yang berpartisipasi pada upacara keagamaan.

8. Video Tari Legong Bali

Berikut ini kami tampilkan sebuah video tari legong keraton yang diambil dari situs youtube.com

Demikian Sobat Tradisi, informasi tentang tari legong bali sejarah dan pertunjukannya. Semoga memberi manfaat menambah wawasan tradisi Sobat Nusantara.

Referensi :

http://kebudayaanindonesia.Net/kebudayaan/893/tari-legong

http://www.Babadbali.Com/seni/drama/dt-legong.Htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar