Sabtu, 02 Oktober 2021

6 Baju Etika Yogyakarta

6 Pakaian Adat Yogyakarta | TradisiKita - Yogyakarta mempunyai bermacam-macam adat istiadat yang unik dan berbeda dari tempat lainnya di Indonesia. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh Provinsi Yogyakarta yaitu pakaian tradisional atau baju adat nya.

Keunikan baju adat Yogyakarta selain dari bentuk bajunya juga atas penggunaannya. Bahwa masyarakat Yogyakarta memiliki setidaknya 6 baju adat yang dipakai sang kaum laki-laki dan wanita dewasa, remaja & anak-anak. Selain itu terdapat baju norma yang khusus digunakan dalam acara eksklusif saja disamping penggunaan baju tata cara Yogyakarta sehari-hari.

Orang jawa khususnya rakyat Yogyakarta memiliki pepatah yg menjadi aliran hidup mereka yaitu "ajining diri saka lati, ajining raga saka saliradanquot; yang berarti jiwa dan raga harus mendapat perhatian yang berfokus izin menerima penghormatan dari pihak lain. Oleh alasannya adalah yaitu itu diantara ajining raga yaitu memperhatikan budpekerti pada berpakaian. Dan memberikankut ini, TradisiKita akan mencoba merangkum 6 baju adat Yogyakarta yang perlu kita ketahui bersama :

1. Pakaian Adat Yogyakarta buat Laki-Laki Dewasa

Pada umumnya, pakaian / baju istiadat pria remaja pada Jogja yaitu mengenakan surjan serta kebawahan berupa kain batik atau yg dianggap jarik. Penggunaan Blankon (epilog kepala) jua sebagai keharusan pada waktu penggunaan sandang / baju surjan. Selain blankon, lelaki remaja Yogyakarta juga memakai ganjal kaki berupa sendal / selop.

2. Pakaian Adat Yogyakarta buat Wanita Dewasa

Wanita remaja di Yogyakarta menggunakan pakaian adat berupa kebaya dengan bawahan kain batik/jarik. Ciri khas lainnya yaitu tatanan rambut yang disanggul / konde. Bahan kain yang digunakan untuk pembuatan pakaian adat yogyakarta antara lain berasal dari materi katun, materi sutera, kain sunduri, nilon, lurik, atau bahan-bahan estetis. Teknik pembuatannya ada yang ditenun, dirajut, dibatik, dan dicelup. Sementara untuk kebaya sendiri kebanyakan menggunakan materi beludru, brokat, atau sutera.

3. Baju Adat Anak Laki-Laki Yogyakarta

Baju adat Yogyakarta yang diperuntukkan bagi anak laki-laki dikenal dengan nama kencongan. Kencongan yang dikenakan oleh anak laki-laki ini terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan baju surjan, lonthong tritik, ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Sementara untuk pakaian keseharian terdiri dari baju surjan, kain batik dengan wiru di tengah, lonthong tritik, kamus songketan, timang, serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala.

4. Pakaian Adat Yogyakarta buat Anak Wanita

Baju adat untuk anak perempuan di Yogyakarta disebut dengan Sabukwala Padintenan.  Baju adat ini berbentuk jarik / kain batik bermotif parang, ceplok, atau gringsing, baju katun, ikat pinggang kamus yang dihiasi dengan hiasan bermotif tanaman atau fauna, menggunakan lonthong tritik, serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu, burung garuda, atau merak. Dimasukkan pula penggunaan embel-embel dari subang, kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar), gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin sebagai petidak ada yang kurang. Bagi yang berambut panjang tatanan rambutnya dibentuk model kone atau disanggul.

Selain baju adat Yogyakarta yg disebutkan diatas, masih terdapat baju istiadat yg khusus digunakan sang Keraton. Pakaian Adat Yogyakarta yang khusus dipakai oleh lingkungan keraton terdiri berdasarkan pakaian abdi dalem punokawan & sandang pejabat keraton / abdi dalem keprajan .

Dalam sistem pemerintahan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat abdi dalem yg membantu Sultan pada acara operasional pada Kraton. Abdi dalem pada kraton terdiri dari dua yaitu abdi dalem keprajan & abdi dalem punokawan. Abdi dalem keprajan yaitu abdi pada yg bertugas di dinas/instansi pemerintahan sedangkan abdi dalem punokawan bertugas hanya di dejogjaku.Blogspot.Co.Id/

Berikut ini penjelasan mengenai pakaian / baju tata cara keraton Yogyakarta :

Abdi dalem yaitu semua pegawai atau karyawan keraton, yg biasanya tinggal pada lebih kurang keraton. Pakaian mereka terdiri dari dua macam, yakni Sikep Alit dan Langenarjan.

Abdi dalem yaitu semua pegawai atau karyawan keraton, yg biasanya tinggal pada lebih kurang keraton. Pakaian mereka terdiri dari dua macam, yakni Sikep Alit dan Langenarjan.

Abdi dalem yaitu seluruh pegawai atau karyawan keraton, yang umumnya tinggal di sekitar keraton. Pakaian mereka terdiri dari dua macam, yakni Sikep Alit dan Langenarjan.

Baju adat yang disebut dengan Sikep Alit terdiri dari kain batik sawitan, baju hitam dari materi laken (dengan kancing dari tembaga atau kuningan yang disepuh emas, berjumlah 7 hingga 9 buah), epilog kepala destar, keris model gayaman (diletakan di peinggang sebelah kanan belakang), selop hitam, topi pet hitam dengan pasmen emas. Pakaian model ini dikenakan untuk keperluan sehari-hari.

Secara generik pakaian Ageng adalah seperangkat sandang adat yang berupa contoh jas laken berwarna biru renta menggunakan kerah model berdiri, dan menggunakan rangkapan sutera berwarna biru tua, yg panjangnya mencapai bokong, tidak ada yg kurang dengan ornamen kancing-kancing bersepuh emas. Celananya sendiri berwarna hitam. Topi yang dikenakan terbuat menurut materi laken berwarna biru tua, menggunakan contoh bundar -panjang, dengan tinggi 8 cm.

Secara generik pakaian Ageng adalah seperangkat sandang adat yang berupa contoh jas laken berwarna biru renta menggunakan kerah model berdiri, dan menggunakan rangkapan sutera berwarna biru tua, yg panjangnya mencapai bokong, tidak ada yg kurang dengan ornamen kancing-kancing bersepuh emas. Celananya sendiri berwarna hitam. Topi yang dikenakan terbuat menurut materi laken berwarna biru tua, menggunakan contoh bundar -panjang, dengan tinggi 8 cm.

Baju adat yang dikenakan oleh pejabat keraton yang sedang dalam kiprah disebut dengan baju ageng.

Namun demikian sandang tata cara atau baju ageng ini mempunyai beberapa ornamen yang tidak sama menurut jabatan atau fungsi di Keraton, sebagaimana klarifikasi memberikankut ini :

Pakaian bupati bertitel pangeran dimemberikan plisir renda emas lugas lebar 1 cm, dipasang secara teratur pada tepi kerah. Pada tiruana bab tepi jas dimemberikan hiasan renda dengan bordiran motif bunga padi.Pakaian bupati bertitel adipati ?Song-song jene? (payung kuning) menyerupai sandang bupati bertitel pangeran, hanya masih ada sedikit hiasan bordiran dalam bab bawah kerah nir melingkar secara penuh, namun terdapat jarak kurang lebih 8 cm.Pakaian bupati bertitel adipati menyerupai pakaian adipati ?Song-song jene?. Perbedaannya terletak pada hiasan bordiran pada bab bawah kerah.Pakaian bupati bertitel temanggung menyerupai sandang adipati, dengan perbedaan pada bordiran sebelah bawah, yang panjangnya hanya 2/3 menurut ukuran bulat jas.Pakaian patih seperti pakaian tumanggung, tetapi bordiran pada bab depan panjangnya sampai tiga ? Centimeter hingga bab bawah kancing.Pakaian ketua area dan tempat (wedana) menyerupai sandang patih, tetapi dengan bordiran bab depan & bab belakang dan ujung lengan hanya 2 centimeter lebarnya dari plisir.Pakaian ketua onder area & loka (asisten wedana), menyerupai pakaian patih, namun bordiran bab depan & bab belakang dan ujung lengan hanya dua centimeter lebarnya dari plisir.Pakaian mantri polisi misalnya pakaian kepala onder area dan daerah, tetapi tana plisir pada bab depan & tanpa bordiran bunga padi dalam bab kerahnya.

  • Pakaian bupati bertitel pangeran dimemberikan plisir renda emas lugas lebar 1 cm, dipasang secara teratur di tepi kerah. Pada tiruana bab tepi jas dimemberikan hiasan renda dengan bordiran motif bunga padi.
  • Pakaian bupati bertitel adipatisong-song jene” (payung kuning) menyerupai pakaian bupati bertitel pangeran, hanya terdapat sedikit hiasan bordiran pada bab bawah kerah tidak melingkar secara penuh, tetapi ada jarak sekitar 8 cm.
  • Pakaian bupati bertitel adipati menyerupai pakaian adipati “song-song jene”. Perbedaannya terletak pada hiasan bordiran pada bab bawah kerah.
  • Pakaian bupati bertitel temanggung menyerupai pakaian adipati, dengan perbedaan pada bordiran sebelah bawah, yang panjangnya hanya 2/3 dari ukuran lingkaran jas.
  • Pakaian patih seperti pakaian tumanggung, tetapi bordiran di bab depan panjangnya hingga 3 ½ cm hingga bab bawah kancing.
  • Pakaian kepala area dan tempat (wedana) menyerupai pakaian patih, tetapi dengan bordiran bab depan dan bab belakang dan ujung lengan hanya 2 cm lebarnya dari plisir.
  • Pakaian kepala onder area dan tempat (asisten wedana), menyerupai pakaian patih, tetapi bordiran bab depan dan bab belakang dan ujung lengan hanya 2 cm lebarnya dari plisir.
  • Pakaian mantri polisi seperti pakaian kepala onder area dan daerah, tetapi tana plisir di bab depan dan tanpa bordiran bunga padi pada bab kerahnya.
Demikian Sobat Tradisi, citra singkat mengenai 6 pakaian adat Yogyakarta. Semoga memberi manfaat.

https://fitinline.Com/article/read/6-ragam-pakaian-tata cara-tradisional-yogyakarta/http://kebudayaanindonesia.Net/kebudayaan/979/pakaian-istiadat-d-i-yogyakartahttps://dejogjaku.Blogspot.Co.Id/

  1. https://fitinline.com/article/read/6-ragam-pakaian-adat-tradisional-yogyakarta/
  2. http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/979/pakaian-adat-d-i-yogyakarta
  3. https://dejogjaku.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar