Sabtu, 02 Oktober 2021

Cerita Rakyat Bali : Era Rahu Menelan Bulan

Cerita Rakyat Bali : Kala Rahu Menelan Bulan | TradisiKita - Sobat Tradisi, mungkin sebagian dari Sobat pernah mengalami keramaian disaat terjadi gerhana bulan? Penulis yang lahir dan dibesarkan disebuah desa di Lampung Tengah, pernah mengalami keramaian orang - orang yang menabuh banyak sekali perkakas dapur knorma dan sopan santun terjadi gerhana bulan.

Sobat, hal tadi terjadi alasannya adanya mitos-mitos atau dongeng masyarakat yg menceritakan hal ikhwal terjadinya eklips bulan. Diantaranya adanya mitos adanya raksasa yg akan menelan bulan, hingga terjadilah yg disebut gerhana bulan.

Pada kesempatan ini, TradisiKita memiliki sebuah dongeng warga yg berkaitan dengan kenyataan eklips bulan ini. Cerita Mengenai Raksasa yg menelan bulan ini berasal berdasarkan Bali. Cerita warga ini diperlukan nir akan merubah persepsi kita dalam kenyataan gerhana bulan yg telah ludang kecepeh maju disentuh oleh ilmu dan teknologi. Dan dongeng warga mengenai eklips bulan ini, cukup sebagai acuan akan adanya agama rakyat Indonesia pada masa lampau yang tentu saja belum sanggup diuji kebenarannya.

Cerita Rakyat Bali : Kala Rahu Menelan Bulan

 mungkin sebagian dari Sobat pernah mengalami keramaian disaat terjadi gerhana bulan Cerita Rakyat Bali : Kala Rahu Menelan Bulan

Kisah ini terjadi knorma dan sopan santun para raksasa dan para Dewa bekerja sama mengaduk lautan susu untuk mencari “Tirtha Amertha” atau Tirtha Kamhebat dan luar biasau. Konon siapa saja yang meminum tirtha itu maka beliau akan langgeng dan abadi (tidak bisa mati). Maka sesudah tirtha itu didapatkan kemudian dibagi rata. Tugas membagi tirtha ialah Dewa Wisnu yang menyamar menjadi gadis cantik, lemah gemulai. Dalam janji diatur bahwa para Dewa duduk dibarisan depan sedangkan para Raksasa dibarisan belakang.

Syahdan ada Raksasa berjulukan ?Kala Rahu? Yg menyusup dibarisan para Dewa, dengan cara merubah wujudnya sebagai Dewa. Namun penyamarannya ini segera diketahui sang Dewa Candra atau Dewa Bulan. Maka knorma & sopan santun tiba giliran Raksasa Kala Rahu mendapat ?Tirtha Kelanggeng & kekalan?, disitulah Dewa Candra berteriak. ?Dia itu bukan Dewa, beliau adalah Raksasa Kala Rahu?. Tetapi sayang tirtha itu sudah terlanjur diminum. Maka tak ayal lagi Cakra Dewa Wisnu menebas leher Sang Kala Rahu. Maka demikianlah, alasannya lehernya telah tersentuh sang Tirtha Kelanggeng dan kekalan, sehingga nir bersentuh oleh kematian. Wajahnya tetap hayati dan melayang-layang diangkasa. Sedangkan tubuhnya mangkat , alasannya belum sempat tersentuh sang tirtha kamhebat dan luar biasau. Sejak saat itu dendamnya terhadap Dewa Bulan tidak pernah putus-putus, dia selalu mengincar dan menelan Dewa Bulan pada waktu Purnama. Tapi alasannya tubuhnya nir terdapat maka oleh rembulan ada balik kepermukaan. Begitulah setiap Sang Kala Rahu menelan Dewa Bulan terjadilah Gerhana.

Makna yg terkandung dalam mitos ini adalah, bahwa bila seseorang belum sanggup melepaskan sifat-sifat keraksasaannya maka beliau belum boleh menerima kelanggeng dan kekalan. Sang Kala Rahu yang nir sabar menunggu giliran akhirnya harus kehilangan tubuhnya. Sedangkan Dewa Candra yg menjadi target kemarahan Kala Rahu harus menanggung akibatnya. Dimana jika terjadi gerhana, maka global akan mengalami bala atau musibah.

Untuk menanggulangi hal menyerupai ini maka seorang, dibutuhkan selalu eling dan waspada. Setelah terjadinya gerhana umumnya orang-orang wikan membentuk sesajen tertentu buat mencegah sebelum bencana itu terjadi. Gerhana ludang kecepeh banyak disorot sang para ilmuan terkini sebagai peristiwa alam biasa dan nir perlu dibesar-besarkan. Tetapi bagi kalangan para pengamat supranatural & kebathinan, Gerhana bulan permanen wajib diwaspadai. Dengan kata lain hendaknya masyarakat berhati-hati, sebab insiden-insiden buruk sangat rawan terjadi.

Selain Gerhana Bulan, tanda-tanda alam yang juga dijadikan genre sang bangsa-bangsa di semua dunia ialah munculnya ?Bintang Kukus? Atau Komet berujung yg mengeluarkan asap mengepul. Biasanya kemunculan Bintang Kukus ini menjadi membuktikan jatuhnya seseorang Pemimpin suatu negara. Tetapi sebelum itu diberlalu & silami sang percekcokan-percekcokan dan pertumpahan darah. Krisis moneter atau krisis ekonomi dan krisis moral serta terjadinya keributan-keributan di suatu wilayah.

Terlepas dari mitos atau agama semacam itu hendaknya sejak dini seorang sudah menekuni dan memperdalam dan memulai menggembleng dirinya buat tidak terpengaruh sang sesuatu yang diluar dugaan. Zaman dulu knorma dan sopan santun teknologi nir secanggih kini insiden Gerhana Bulan dianggap suatu yang diluar dugaan. Tetapi kini menggunakan pesatnya kemajuan dibidang Iptek (Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi) Peristiwa Gerhana telah mampu diramalkan kemunculannya dan nir perlu ditakuti.

Tetapi meskipun begitu kepercayaan akan adanya insiden yg tidak diharapkan permanen harus diwaspadai. Purnama Tilem memmemberikan kesempatan seluas-luasnya dalam umat insan buat melaksanakan ritual pemujaan. Pengendalian & pendidikan kebijaksanaan pekerti. Hendaknya hari suci Purnama Tilem benar -betul dimanfaatkan untuk memupuk penilaian-evaluasi keimanan pada diri setiap orang. Musnahkan sifat-sifat raksasa pada diri, jangan sebagai Kala Rahu (Nuju Peteng/knorma dan sopan santun kegelapan tiba). Orang yang memberikanlmu pengetahuan hendaknya menyerupai bulan Purnama, memmemberikan kesegaran dan penjelasan bagi tiruananya.

Purnama Tilem, hari yang serupa dengan kesucian, keharmonisan, kegembiraan. Tekadkan niat untuk selalu berada dijalan yang lurus, percaya diri bahwa Sang Hyang Jagad Pratingkah, akan senantiasa membimbing umat-Nya menuju ke alam yg Sunyata (Alam kasatmata yang sesungguhnya). Alam yang tidak ada pertarungan, alam kebebasan, alam kebahagiaan Surgawi. Pastikan beliau senantiasa datang di tengah-tengah para pemuja-Nya. Lakukan pemujaan dengan setulus-tulusnya.

Dia yg dipuja turut memuja, memberkati dengan rahmat-Nya dengan senyum manis-Nya, dengan afeksi ?Nya. Dia yang ikhlas, meluluskan permohonannya menggunakan karunia kudang kecepejaksanaan. Dia yg berbakti, terberkati menggunakan karunia yang berlimpahan. Dia yg menghibur, terhibur oleh alunan musik surgawi dan kedamaian. Dia yg mendoakan kidung Perdamaian, memperoleh hadiah Shanti dihatinya, dan Prema (kasih sayang yg lapang dada) di Tri Loka.

Sumber : https://www.Facebook.Com/notes/dongeng-&-cerita-warga /raksasa-kala-rahu-menelan-bulan-kisah-eklips-menurut-bali/325977034080133/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar