Minggu, 26 Desember 2021

Kain Songket Aceh

Kain Songket Aceh | TradisiKita - Songket merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia. Walaupun songket merupakan tradisi tenun tradisional masyarakat Melayu dan Minangkabau yang tidak hanya ada di Indonesia, namun juga terdapat di beberapa negara berbangsa Melayu pada umumnya mirip Malaysia dan Brunai, namun kain songket Indonesia telah menjadi warisan kebudayaan leluhur dengan ciri khas tersendiri.

Demikian jua menggunakan Kain Songket Aceh yg sebagai pujian warga Nangroe Aceh Darussalam. Kain songket Aceh atau Tenun Ikat Tradisional Aceh adalah kerajinan tangan yg dilakukan secara tradisional & turun menurun dengan menggunakan indera tenun tradisional berupa alat-indera yg terbuat dari kayu menggunakan menggunakan benang emas.

Hasil Tentun berupa kain songket Aceh digunakan untuk banyak sekali keperluan mirip materi pakaian adat Aceh , hiasan meja, hiasan dinding, hantaran janji nikah dan tentu saja sanggup dijadikan cinderamata khas Aceh.

 Songket merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia Kain Songket Aceh

Masa Kejayaan Songket Aceh

Keberadaan Songket Aceh pada saat ini nir terlepas dari tugas serta rakyat Aceh yang sudah mewariskan tradisi menenun terutama pembuatan Songket Aceh dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Hal itu dilakukan jua sang seseorang berjulukan Maryamun Ali atau Nyak Mu yg telah wafat dalam usia 73 tahun, tepatnya dalam tahun 2009. Rumoh Teupeuen (Rumah Tenun) milik Nyak Mu, perajin sekaligus pelestari songket Aceh legendaris ini berada di Gampong (Kampung) Siem di Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Rumah inilah yang menjadi saksi masa kejayaan Songket Aceh.

Semasa hidupnya Keseharian Maryamun memang tidak pernah jauh dari selembar kain. Dari tangan perempuan renta itu sudah terjaga sebuah tradisi Aceh. Melewati empat periode peperangan, yang disusul petaka tsunami, wanita itu sudah menjaga & mewariskan sebuah tradisi penciptaan tenun songket Aceh pada generasi yang ludang keringh muda.

Sejak mendirikan perjuangan tenun songket Aceh pada tahun 1973, Maryamun atau biasa dipanggil Nyak Mu?Nyak ialah panggilan di Aceh buat perempuan tua?Sudah sebagai pengajar bagi ratusan perempuan Aceh yang datang berdasarkan Aceh Timur, Lamno, Aceh Besar, dan Banda Aceh. Mereka mencar ilmu ke Nyak Mu pada Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, dan setelah sangat tangguh membuka usaha sendiri pada desa asalnya.

Nyak Mu tidak hanya fasih menggandakan motif tradisional, namun pula sangat andal menciptakan motif baru. Puluhan motif gres telah diciptakannya, di antaranya pintu Aceh & bungong kertah. Motif-motif tradisional & kreasi Nyak Mu itu kemudian dibukukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh tahun 1992.

Di kurun 1980-an hingga awal 1990-an, karya Nyak Mu dijual dan dipamerkan pada Jakarta, Bali, sampai Sri Lanka, Singapura, dan Malaysia. Di sejumlah tempat itu, Nyak Mu ikut berpameran atau mendemonstrasikan kepakarannya menciptakan songket Aceh. Atas usahanya, dalam tahun 1991, Nyak Mu menerima penghargaan upakarti.

Nyak Mu mengajarkan motif tradisional Aceh melalui selembar kain pusaka, warisan neneknya, almarhumah Naimah atau biasa dipanggil Nyak Naim. Selembar kain berwarna coklat tanah berukuran 50 x 50 centimeter & sudah robek ujungnya itu memberikansi motif-motif tradisional Aceh yang homogen-rata diadopsi berdasarkan bunga-bunga & kaligrafi Arab. Sedikitnya, 25 motif tradisional Aceh ditenun dengan latif di selembar kain sutra yg telah berusia ludang keringh menurut 200 tahun itu.

"Dulu tidak ada kitab . Nenek mewariskan kain ini sebagai pengganti kitab . Pesannya, kain ini wajib terus diwariskan buat anak cucu semoga tenun songket Aceh tetap lestari. Sudah ada yg menawar jutaan untuk membelinya, tetapi ini tak dijual," kenang nenek 15 cucu ini.

Di samping memberikansi perpaduan motif tadi, Nyak Mu jua menyimpan kerudung Cut Nyak Dien, sebuah kerudung hitam dengan galat satu motifnya bertuliskan Lailahaillallah serta dua kain songket renta lainnya. "Ini bukan kerudung milik Cut Nyak Dien, tetapi motif ini biasa dipakai dia sehingga dimemberikan nama kerudung Cut Nyak Dien," jelas Nyak Mu, yang menerima kepakaran menenun menurut neneknya.

Bukan hanya pewarna, dulu hampir tiruana materi buat menenun dibentuk sendiri. Nyak Mu masih ingat, neneknya mempunyai peternakan ulat sutra sendiri dan memintal sendiri benang sutra berdasarkan kepompong. Orang- orang membeli benang menurut mereka, bahkan konon, benang sutra ini dijual sampai ke India & Arab. "Tanpa materi menurut luar, kami dulu mampu bertahan. Sekarang, tiruananya tergantung dari luar, benang kami beli menurut China & India," jelasnya.

Di mata Nyak Mu, syarat di Aceh memang berubah seiring menggunakan laju zaman. Hanya satu yang tetap menempel pada Aceh, yaitu perang. "Dari dulu di Aceh selalu perang. Entah kenapa. Sekarang kami dengar telah damai, semoga tetap seperti ini, damai terus," kata Nyak Mu.

Bagi Nyak Mu, hening berarti bisa menenun kain songket dengan hening. Masih terperinci terbayang pada benak Nyak Mu, hari- hari kadab konflik masih membelenggu Aceh. Acapkali, saat menenun beserta pekerjanya terjadi kontak senjata. "Semua tiarap pada lantai, berdoa semoga tak mengenai tembakan," kenang dia.

Kampung Siem memang tak terjangkau air maritim yg marah kadab tsunami melanda Aceh, namun showroom anaknya di Kampung Laksana diterjang air. Seluruh barang, kain, dan pewarna sepenilaian sekitar Rp 50 juta hancur.

Musibah tak menghentikan langkahnya. Perempuan yg kenyang menggunakan perang itu balik bangkit. Kini, di rumahnya, alat tenun Nyak Mu pulang berderak. Sebuah gedung renta yg lain, dengan sejumlah indera tenun bukan mesin yg sebagai saksi saat kejayaan perjuangan tenun songket di masa kemudian, masih dirawatnya. Pada masa kejayaannya, Nyak Mu memiliki 60 karyawan tetap.

Pada ketika ini, kerajinan songket Aceh diteruskan sang Dpakara yg merupakan satu-satunya anak Nyak Mu Si Penjaga warisan Songket Aceh. Dpakara adalah satu dari 5 anak Nyak Mu yang bisa membuat motif kain songket Aceh, sedangkan yg lain hanya mampu menenun.

Motif Songket Aceh

Meski tidak bisa menulis dan membaca, Dpakara mengungkapkan, ibunya (Nyak Mu) artinya perempuan yang cerdas dan ingatannya sangat tajam. Hal ini dibuktikan menggunakan kreativitasnya pada membuatkan motif songket Aceh. Tercatat terdapat 50 motif songket Aceh yg pernah dibentuk Nyak Mu, pada antaranya motif Pucok Aron, Pucok Reubong, Mata Manok, Bu Kulah, Lidah Tiyong dan motif Laa Ila Haillallah. Dinas Perindustrian Aceh pernah membukukan karya-karyanya dalam 1992 silam.

Nyak Mu menyerupai lentera yg sudah menciptakan tenun Aceh begitu termasyhur. Namun, seiring menggunakan padamnya lentera itu, kejayaan tenun Aceh pun seolah ikut redup. Dpakara mengakui, sejak ibunya mangkat global, program menenun pada Siem menurun drastis. Menenun sebagai pekerjaan sampingan.

Bahkan, Rumoh Teupeuen atau Rumah Tenun yg didirikan Dinas Perindustrian Aceh pada kampung itu nir lagi aktif. Dpakara sendiri kini nir lagi menenun secara rutin. Ia hanya menyediakan materi baku bagi sejumlah rakyat yang masih menenun. Keterbatasan materi standar, mirip sutera & benang emas yang didatangkan dari luar memang menjadi rintangan. Selain itu, Dpakara juga mencicipi stamina fisiknya nir lagi seperti dulu. Ia sempat berpikir buat nir lagi menggeluti global tenun.

Setiap motif memiliki arti berbeda-beda, akan tetapi tidak tiruananya bisa diungkapkan. Motif Pucok Reubong & Awan Berarak contohnya, mempunyai arti sebagai simbol kelebat & menyuburkanan, kebersamaan, dan gotong royong. ?Motif Pucuk Rebung ini pula masih ada di tempat lain seperti Palembang, akan tetapi ialah rebung sebagai salah satu flora yg mampu dikonsumsi,? Ucapnya.

Adapun motif Bungong Jeumpa diambil menurut keindahan bunga jeumpa (cempaka) yg sebagai tanaman identitas Provinsi Aceh. Bunga ini begitu tersohor dan keindahannya juga terdapat dalam syair lagu ?Bungong Jeumpa?.

Ancaman Kepunahan Songket Aceh

Kain Songket Aceh mengalami bahaya kepunahan pada waktu ini. Hal ini ditimbulkan karena regenerasi perajin songket tidak ringan dan sepele. Jarang anak muda tertarik mengenal, bahkan menjadi perajin songket. Menenun songket dikenal poly makan waktu, kurang lebih 1 bulan menyelesaikan selembar kain ukuran 1,95 meter x 1,10 meter.

Penghasilan perajin songket pun dianggap tidak menjanjikan. Ongkos produksi tak sebanding harga jualnya, yakni modal Rp 600.000-Rp 1 juta buat menciptakan selembar kain, sedangkan harga jual Rp 1 juta-Rp dua juta per lbr. Upah buruh penghasil songket Rp 175.000-Rp 250.000 per orang per lembar.

Namun demikian seiring dengan kemajuan teknologi, dalam waktu ini banyak sekali kain songket Aceh yang diproses dengan indera tenun mesin dengan materi baku kain sintetis yg mengakibatkan harga kain songket Aceh ini ludang keringh murah.

Harga Kain Songket Aceh

Berdasarkan penelusuran penulis dalam beberapa situs jual beli mirip bukalapak.Com, blanja.Com & tokopedia.Com harga kain songket tradisional Aceh berkisar antara 1 juta sampai dua,lima juta rupiah. Sedangkan buat kain songket Aceh yang ditenun dengan alat tenun mesin dibawah 1 juta.

Demikian Sobat Tradisi, sekilas tentang kain Songket Aceh yang perlu kita ketahui & lestarikan beserta.

Referensi :

  • Nyak Mu, Menjaga Tradisi Tenun Songket Aceh Oleh : Ahmad Arif : /search?q=maryamun-nyak-mu-menjaga-tradisi-tenun
  • http://sumaterapost.com/memberikanta2/Membaca-Filosofi-Songket-Aceh-1989
  • http://travel.kompas.com/read/2016/01/22/172000027/Senja.Kala.Songket.Aceh?page=all

Tidak ada komentar:

Posting Komentar