Tari Pho dari Aceh, Tarian Tertua di Serambi Mekar | TradisiKita - Tari Pho yaitu tari tradisional Aceh Barat. Tari ini tercipta dari sebuah legenda seorang Ibu yang menyesali maut anaknya yang di aturan mati oleh raja lantaran di fitnah telah berbuat zina/khalwat.
Tarian ini dibawakan oleh para perempuan , lampau umumnya dilakukan pada maut orang besar & raja-raja, yang didasarkan atas permohonan pada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yg murung karena ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yg diiringi ratap tangis.
Pada kesempatan ini, kita akan mengenal seluk beluk tari Pho dari Aceh yang merupakan salah satu kekayaan tari tradisional Aceh ini.
![]() |
| Tari Pho Aceh |
1. Apakah Tari Pho itu?
Tari Pho yaitu tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Aceh Barat. Perkataan Pho berasal dari kata Peuba-e po, peuba- rakyat/hamba kepada Yang Maha Kuasa (yang memiliki) contohnya Po Teu Allah, Po Teumeureuhom, Teuku Po, Ureung Po dan lain-lain.Kata ?Pho? Dalam bahasa Aceh yaitu menjadi suatu sebutan untuk panggilan kehormatan berdasarkan warga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kata ini diasumsikan dengan adjektiva lainnya, menyerupai ?Pho Teu Allah?, ?Allah Hai Po?, ?Ee Po?, menjadi sebutan buat menghormati Allah SWT yang memiliki segala makhluknya.
Selain itu juga, istilah ?Po Teu Meureuhom? Sebagai sebutan buat menghormati sultan-sultan yang sudah mangkat . Sebutan lainnya menyerupai ?Teuku Po? Dipakai menjadi sebutan buat menghormati golongan ningrat/uleebalang, ?Ureung Po Rumoh? Sebagai sebutan buat menghormati istri yang dianggap sebagai pemilik atau pewaris dari tempat tinggal didalam pemahaman kebudayaan & sejarah pada Aceh. Sedangkan sebagai wujud seni tradisi pertunjukan tari pho bisa dilakukan diberiringan antara tarian sekaligus nyanyian yg diberisi syair-syair tragedi.
Menurut beberapa asal, seni pertunjukan Tari Pho telah ada semenjak lampau, tetapi pastinya belum diketahui secara niscaya. Seni pertunjukan ini diperkirakan berkembang pada masa penjajahan Belanda atau pada kurang lebih awal kurun ke-20 jikalau menilik menurut lirik yg terdapat dalam ketika Tum Beude yang menjelaskan wacana kewafatan jagoan nasioanl Teuku Umar. Tarian ini sudah dikenal kadab belanda memasuki awal kurun ke-20 dan kemudian berhasil menduduki tempat ini sejak tahun 1890-an sampai tahun 1942 pada rangka mengejar pasukan muslimin Aceh sampai masuknya Jepang ke sana.
2. Kisah Asal Usul Tari Pho berdasarkan Aceh
Suatu Kadab pada Blang Pidie, Aceh Selatan. Si Malelang punya adik sepupu wanita yg ibu dan ayahnya telah tewas. Gadis itu dijodohkan dengan si Malelang. Untuk persiapan perayaan perkawinan buah hatinya, sejaka si Malelang kecil, sang bunda telah menanam pinang, sirih, & inai.
Tetapi, ketika tumbuh dewasa, adik sepupu si Malelang berwajah anggun sebagai akibatnya ada seorang cowok di sana yang amat sangat senang padanya.
Kadab hari perkawinan yg direncanakan mendekat, bunda si Malelang ingin mengundang tetangga, kerabat, pembesar kampung dan warganya. Sebagai mana tata cara di bab Barat dan Selatan Aceh, mengundang orang buat mengmunculi kenduri harus dengan sirih yang tersusun rapi berserta kapur dan pinang pada dalam puan.
Ibu minta si Malelang panjang pinang, setiap dipetik dijatuhkannya. Si saudara termuda sepupu datang mencari calon suaminya. Begitu dia tahu Malelang pada kebun pinang, maka beliau mencari ke kebun yang dimaksud. Namun, dalam bepergian, pada tudang keringng terjal, gadais itu terjatuh dan nir sengaja duri pada awal pahanya hingga berdarah.
Saat itu, anak muda yg amat sangat senang dalam beliau, melihat peristiwa itu, kemudian si cowok berlarian ke kampung dan menaruh rekaan kepada hulu balang kampung dan warga , bahwa si Malelang telah memperkosa si gadis, menggunakan bukti terdapat darah di pahanya.
Walhasil, si Malelang & tunangannya dijatuhi anggaran pancung oleh hulu balang. Saat hendak dihukum, datanglah mak si Malelang, dia meratap sehingga menyerupai sebuah nyanyian yg bersajak. Si mak minta pada hulu balang agar mengizinkan keduanya berkeluarga & mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam sebagaimana direncanakan lagi juga beliau sudah mengundang orang-orang. Hulu balang memenuhi seruan tadi.
Si Malelang minta ibunya membangun sambal daun encek gondok yg dalam bahasa pada sana diklaim bungong crot atau bungong yoh.
Beginilah ratapan bunda si Malelang yg malang:
"O bineuk sinyak dong di rot
kapot bungong crot pasoe lam ija
juloh juloh ie mon blang pidie
tujoh pucok jok keu taloe tima
O bineuk lon balek laen
puteh licen seuot beurata
Halo halo hai di kutidi
hai kumbang dodi oi kumbang dodidanquot;
Ibu si Malelang ini meratap seraya menari-nari, para mak lain yg melihatnya pun ikut hanyut dalam maha murung temannya, mereka ikut meratap menggunakan syair tadi & ikut menari beserta mak si Malelang. Lama kelamaan gerakan mereka teratur menyerupai sebuah tarian.
Setelah si Malelang dan sepupunya berkeluarga dan mengadakan pesta 7 hari tujuh malam, mereka dieksekusi. Setelahnya, ratapan & gerakan ibu si Malelang bersama para ibu-mak yang lain diulangi kadab mereka jangan lupa kemalangan yg menimpa si Malelang & kekasihnya. Lambat laun, syair & gerakan itu sebagai tarian.
Tiga. Fungsi & Makna Tari Pho
Berdasarkan latar belakang tari Pho ini, bahwa tarian ini merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat Aceh, yaitu masyarakat agraris, dimana dalam tarian ini tampak dengan terang gerakan-gerakan simbolis dalam mengolah sawah ladang.Gerakan para penari menghentakkan kaki ke lantai berarti bahwa tanah yang telah dibajak wajib diinjak-injak supaya rata. Kata ?Oo bineu loen balek laen? Menggambarkan bahwa tanah itu wajib seringkali sekali dibajak dan disikat.
Tepuk tangan yaitu simbolis mengusir burung & mengetam atau mengumpulkan ikatan-ikatan padi yang sudah diketam. Pesatnya perkembangan tarian Pho ini terutama semenjak berkembangnya & meningkatnya kegiatan-kegiatan kaum mak di Aceh yang disponsori sang ?Putri Phang? Istri Raja Aceh Sultan Iskandar Muda. Di dalam lagu Pho juga dianggap ?Putri? Phang atau ?Putroe Phang.
4. Perkembangan Tari Pho
Pada masa penciptaannya zaman dulu tarian Pho ini dipengaruhi oleh budaya pra-islam. Setelah islam berkembang dan mula dipahami dengan baik oleh masyarakat di Aceh Barat masa itu, tari ini sudah tidak dipertunjukkan dan dipertahankan sebagai pertunjukan ritual maut lagi lantaran dalam islam tidak membenarkan untuk menyesali hingga meraung-raung orang yang sudah meninggal, lantaran maut yaitu Sunnatullah sehingga diperlukan kesabaran setiap orang untuk menghadapi petaka yang menimpa diri dan keluarga serta kerabat bersahabat lainnya. Oleh lantaran itulah maka kemudian tarian ini hanya berfungsi sebagai pertunjukan hiburan semata. Sehingga ketika ini seiring perkembangannya Tari Pho sanggup ditampilkan pada program perkawinan, bersuka ria, memandikan pengantin, sunat rasul, turun mandi, melepas hajat dan penyambutan pembesar-pembesar serta pada waktu padi diserang hama penyakit.Tari pho secara manfaatnya pada Aceh Barat menjelma penghantar pesan yg implisit yg sangat tak jarang ditampilkan pada program manoe pucuk atau memandikan pengantin yang diberisi pesan yang implisit seseorang ibu dan keluarganya buat anaknya yang akan berkeluarga.
Lima. Pertunjukan Tari Pho dari Aceh
Tarian Pho yang berasal dari Aceh ini dibawakan oleh para wanita, lampau biasanya dilakukan pada maut orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih lantaran ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolkan pada waktu kematian, dan telah menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat.Tari Pho yg memiliki arti ?Meratok? Atau (ratapan) ini mempunyai 8 ragam mobilitas yaitu, mobilitas saleum, mobilitas bineuh, gerak tron tajak mano, gerak jak kutimang, gerak ayon aneuk, mobilitas peulot manok, gerak bungong rawatu, mobilitas tum bede. Pola lantai yg dipakai yaitu berbentuk lurus, zikzak, bulat dan belah ketupat. Pentas yang dipakai yaitu pentas arena yang sanggup dicermati sang penonton berdasarkan segala arah.
6. Iringan Musik dan Busana Penari Pho
Busana yang dipakai oleh para penari Pho yaitu baju norma Aceh . Dengan kekomplitan berupa epilog kepala dan sarung yang terbuat dari songket Aceh . Tata rias yang dipakai yaitu rias cantik.Tidak menyerupai tarian tradisional lainnya yang memakai musik iringan dari banyak sekali alat musik tradisional Aceh , tari pho diiringi dengan memakai Syair yang bernuansa sejarah, dan islami.
7. Video Tari Pho
Untuk mengenal ludang keringh jauh tentang mobilitas tari pho, kita sanggup menyimak video tari pho dibawah ini :
Demikian Sobat Tradisi, info mengenai tari pho berdasarkan Aceh, supaya berguna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar