Kembali berjumpa dengan kami team - Kali ini kami bagikan artikel tentang Materi Perkembangan Psikis Remaja khusus untuk Konselor Sekolah, Guru BP, Guru BK, Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling dan Sosiologi
Dalam Materi Perkembangan Psikis Remaja yang akan dibahas kali ini mengenai Perkembangan sosial remaja, Karakteristik Penyesuaian Sosial Remaja, Faktor-faktor yang mensugesti perkembangan sosial, Pengaruh perkembangan Sosial Terhadap Tingkah Laku, Perbedaan individual dalam Perkembangan Sosial, Upaya Pengembangan Hubungan Sosial remaja danImplikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Selamat Membaca !!

Perkembangan Psikis Remaja
1. Perkembangan sosial remaja.
Pada masa remaja berkembang “Sosial cognition” yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat, maupun perasaannya. Pemahaman ini mendorong remaja menjalin hubungan sosial dengan yang lebih karab dengan mereka, terutama sahabat sebaya, baik melalui jalinan persahabatan maupun percintaan.Remaja adalahtingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam pembiasaan diri terhadap lingkungannya, remaja telah memperhatikan dan mengenal banyak sekali norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarga. Remaja menghadapi banyak sekali lingkungan, bukan saja bergaul dengan banyak sekali kelompok umur.
Dalam hubungan persahabatan, remaja menentukan sahabat yang mempunyai kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut minat, sikap, dan nilai kepribadian. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, alasannya ialah disamping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip anutan adanya kebutuhan masa depan untuk menentukan sahabat hidup. Pada masa remaja juga berkembang sikapconformityyaitu kecenderungan untuk mengalah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,kebiasaan, kegemaran, atau cita-cita orang lain.
Perkembangan perilaku konformitas dalam remaja bisa menampakan dampak yg positif maupun negatif bagi dirinya. Apabila grup teman sebaya yang diikuti atau diimitasi itu menampilkan sikap dan sikap yang secara moral kepercayaan bisa dipertanggungjawabkan, contohnya grup yg taat kepercayaan , berbudi pekerti luhur, kreatif pada mengembangkan bakat, rajin belajar, aktif berorganisasi, maka kemungkinan besar remaja tadi akan menampilkan eksklusif yg baik.
Sebaliknya, bila kelompoknya itu menampilkan sikap & perilaku malsuai atau melecehkan nilai-nilai moral, maka sangat dimungkinkan remaja akan menampilkan sikap menyerupai kelompoknya itu. Contohnya, nir sedikit remaja yg mengidap narkotika & s3ks bebas, alasannya adalah merupakan mereka bergaul menggunakan grup sebaya yg yang sudah biasa melaksanakan hal tersebut. Karena itu mereka perlu didampingi supaya mempunyai kemampuan pembiasaan sosial baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun warga .
Kehidupan sosial pada jenjang remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Seseorang remaja bisa mengalami sikap interaksi sosial yg bersifat tertutup sehubungan dengan duduk perkara yg dialami remaja. Keadaan atau insiden ini sang Erik Erickson (dalam Letfon,1982:281) dinyatakan bahwa anak sudah sanggup mengalami krisis bukti diri. Proses pembentukan identitas diri & konsep diri seseorang ialah sesuatu yang kompleks. Konsep diri anak nir hanya terbentuk berdasarkan bagaimana anak percaya perihal eksistensi dirinya sendiri, tetapi pula terbentuk dari bagaimana orang lain percaya wacana kebeadaan dirinya. Banyak remaja yg amat percaya dalam gerombolan mereka pada menemukan jati dirinya. Dalam hal ini Erickson berpendapat bahwa inovasi jati diri seorang didorong sang impak sosiokultural.
Pergaulan remaja bayak diwujudkan dalam bentuk gerombolan , baik gerombolan mini maupun akbar. Dalam menetapkan pilihan grup yang diikuti, didasari sang banyak sekali penimbangan, menyerupai moral sosial ekonomi, minat & kesamaan bakat, dan kemampuan. Baik di dalam grup kecil maupun gerombolan besar , duduk kasus generik yang dihadapi remaja dan paling rumit ialah faktor pembiasaan diri. Di dalam grup akbar akan terjadi persaingan berat, masing-masing individu bersaing buat tampil menonjol, menerangkan akuratnya.
Nilai positif dalam kehidupan gerombolan ialah tipe anggota gerombolan berguru berorgansasi, menentukan pemimpin, & mematuhi aturan grup, Sekalipun pada hal-hal eksklusif tindakan suatu grup kurang memperhatikan kebiasaan generik yg berlaku di pada warga , alasannya adalah merupakan yg lebih diperhatikan merupakan keutuhan kelompoknya. Di dalam mempertahankan dan melawan ?Agresi? Grup lainlebih dijiwai keutuhan kelompoknya tanpa memperdulikan objektifitas kebenaran.
Alexander A. Schneiders (Dalam Syamsu Yusuf. 2002:1999) menyebutkan katakteristik pembiasaan sosial remaja menjadi berikut:
Lingkungan keluarga
- Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga.
- Menerima otoritas orang renta dan mau mantaati peraturan yang ditetapkan orang tua.
- Menerima tanggung jawab dan batasan-batasa (norma ) keluarga.
- Berusaha untuk membantu anggota keluarga, sebagai individu maupun kelompok dalam mencapai tujuannya.
Lingkungan Sekolah
- Bersikap respek dan mau mendapatkan peraturan sekolah.
- Berpartisipasi aktif dalam aktivitas sekolah.
- Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah.
- Bersikap hormat dan patuh terhadap guru dan semua personil sekolah.
- Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan- tujuannya.
Lingkungan masyarakat
- Mengakui dan respek terhak-hak orang lain.
- Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain.
- Bersikap simpati dan altruistis terhadap kesejahteraan orang lain.
- Bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan masyarakat.
Tiga. Faktor-faktor yang mensugesti perkembangan sosial
Perkembangan sosial insan ditentukan oleh beberapa faktor, yakni keluarga, kematangan individu, status sosial ekonomi famili, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan intelegensi.
A. Keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang menerangkan imbas terhadap banyak sekali aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan famili merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku kebiasaan-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa sikap kehidupan budaya anak.
Proses pendidikan yg bertujuan menyebarkan kepribadian anak lebih poly dipengaruhi sang famili. Pola pergaulan dan bagaimana kebiasaan dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yg lebih luas ditetapkan dan diarahkan sang famili.
B. Kematangan
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik & psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan mendapatkan pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual & emosional.Disamping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan. Dengan demikian,buat mampu bersosialisasi dengan baik diharapkan kematangan fisik sebagai akibatnya setiap orang fisiknya sudah bisa menjalankan manfaatnya menggunakan baik.
C. Status sosial ekonomi
Kehidupan sosial poly ditentukan oleh syarat atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang remaja, bukan sebagai anak yang independen, akan namun akan dicermati dalam konteknya yg utuh pada keluarga anak itu ?Dia anak siapa?. Secara nir pribadi pada pergaulan sosial anak, rakyat dankelompokknya akan memperhitungkan kebiasaan yg berlaku pada dalam famili. Dari pihak remaja itu sendiri, perilakunya akan poly memperhatikan kondisi normatif yang sudah ditanamkan sang keluarganya.
Sehubungan dengan hal itu, pada kehidupan sosial anak akan senantiasa ?Menjaga? Status sosial sosial keluarganya. Dalam hal tertentu maksud menjaga status sosial keluarganya itu mengakibatnya menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yg tidak tepat. Hal ini bisa menjadikan lebih jauh, yaitu anak sebagai ?Terisolasi? Berdasarkan kelompoknya. Akibat lain lain mereka akan menciptakan kelompok elit menggunakan normanya.
D. Pendidikan
Pendidikan adalah proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan menjadi proses pengoperasiannya ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan sosial anak pada pada warga dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan pada hal arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak ditentukan sang kehidupan keluarga, warga & kelembagaan. Penanaman norma sikap yang sahih secara sengaja diberikan pada akseptor didik yg berguru pada kelembagaanpendidikan.
Kepada akseptor didik bukan saja dikenalkan pada norma- kebiasaan lingkungan dekat, namun dikenalkan pada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antar bangsa. Etik pergaulan dan pendidikan moral diajarkan secara terprogram menggunakan tujuan buat menciptakan perilaku kehidupan bermasyarakat & bernegara.
E. Mental, emosi, dan intelegensi.
Kemampuan berpikir banyak menghipnotis kemampuan belajar, memecahkanmasalah & berbahasa. Anak yg berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh alasannya adalah ialah itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, & pengendalian emosional secara seimbang sangat memilih keberhasilan dalam perkembangan sosial remaja. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain adalah kapital utama pada kehidupan sosial & pada hal ini akan menggunakan mudah dicapai oleh remaja yg berkemampuan intelektual tinggi.
4. Pengaruh perkembangan Sosial Terhadap Tingkah Laku.
Dalam perkembangan sosial, remaja sanggup memikirkan ihwal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang tak jarang menunjuk ke penilaian diri & kritik menurut hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil evaluasi tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bahkan seringkali terlihat perjuangan seorang buat menyembunyikannya. Dengan refleksi diri, interaksi dengan situasi lingkungan sering nir sepenuhnya diterima, karena merupakan lingkungan tidak senantiasa sejalan dengan konsep dirinya yg tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk tingkah laku sehari-hari.
Pikiran remaja acapkali ditentukan oleh pandangan baru-inspirasi menurut teori-teori yang mengakibatkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan menggunakan teori yg diikuti atau diharapkan. Sikap kritis ini juga ditunjukkan pada hal yg sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sebagai akibatnya rapikan cara, moral norma yg berlaku di lingkungan keluarga tak jarang terasa terjadi terdapat pertentangan dengan sikap kritis yan tampak dalam perilakunya. Kemampuan abstraksi menyebabkan kemampuan mempermasalahkan fenomena dan insiden-insiden dengan keadaan bagaimana yg semestinya dari alam pikirannya. Situasi ini akhirnya mampu mengakibatkan perasaan nir puas dan putus harapan.
5. Perbedaan individual pada Perkembangan Sosial
Bergaul dengan sesamma insan (sosialisasi) dilakukan setiap orang, baik secara individual juga kelompok. Dilihat berdasarkan poly sekali aspek, masih ada perbedaan individual insan, yg hal itu tampak juga pada perkembangan sosialnya. Sesuai dengan teori komprehensif perihal perkembangan sosial yg dikembangkan sang Ericson (Dalam Sunarto . 2002:135) dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya setiap manusia menempuh langkah yg berlainan satu menggunakan yang lain.
Manusia hayati dalam kesatuan budaya yg utuh, alam, & kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang diperlukan manusia. Namun sinkron talenta & minat, kemampuan, & latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok sosial yang beraneka ragam. Remaja yang telah mulai membuatkan kehidupan bermasyarakat, maka sudah memeriksa pola-pola sosial yang sinkron menggunakan kepribadiannya.
6. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial remaja danImplikasinya pada Penyelenggaraan Pendidikan.
Remaja pada mencari identitas diri memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya merekabelum tahu benar ihwal kebiasaan-norma sosial yg berlaku di pada kehidupan warga . Keduanya bisa menyebabkan hubungan sosial yg kurang harmonis, sebab artinya ia (mereka) sukar buat menerima kebiasaan sesuai dengan kondisi dalam gerombolan atau warga . Sikap menentang dan perilaku canggung pada pergaulan akan merugikan ke 2 belah pihak. Kesepakatan norma kehidupan remaja yang berbeda dengan grup lain, mungkin grup remaja lain, gerombolan dewasa, dan kelompok anak-anak, akan mengakibatkan sikap sosial yang kurang atau tidak bisa diterima sang umum. Tidak sedikit sikap yang hiperbola akan (over acting) muncul.
Itulah kiranya yang bisa kami bagikan mengenai Materi Perkembangan Psikis Remaja, semoga bermanfaat untuk semua kalangan. Terima Kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar