Tampilkan postingan dengan label Pertarungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertarungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 September 2021

Peresean, Tradisi Pukul Rotan Dari Lombok

Peresean, Tradisi Pukul Rotan menurut Lombok | Peresean yakni pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras (perisai disebut ende). Jika di Sumenep Madura dikenal tradisi Ojung (Ojhung) , maka Tradisi Peresean ini dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Pada kesempatan ini, TradisiKita akan mengenalkan tradisi Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. yg berupa pertarungan tradisional dengan memakai rotan dan temang, yg dilakukan sang rakyat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada pembaca Portal TradisiKita.

Peresean, Tradisi Pukul Rotan menurut Lombok

Tradisi Peresean suku Sasak dua. Sejarah Peresean

Sejarah Peresean pada awal mulanya dilakukan dalam rangka melatih ketangkasan masyarakat terutama perjaka suku Sasak pada mengusir para penjajah. Latar belakang Peresean yakni pelampiasan penuh amarah para raja dalam masa lampau kadab menang pada perang tanding melawan musuh-musuhnya. Selain itu, lampau Peresean pula termasuk media yg digunakan sang para pepadu (petarung) buat melatih ketangkasan, ketangguhan, & keberanian pada bertanding.

Konon, Peresean jua menjadi upacara memohon hujan bagi suku Sasak di isu terkini kemarau. Hal ini jua sejalan menggunakan tradisi Ojung pada Sumenep Madura yg mengadakan tradisi Ojung pada ekspresi dominan kering.

Kata Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. berasal dari bahasa setempat yang artinya tameng (alat pelindung atau penangkis pukulan) lawan. Alat pemukulnya dinamakan Tiga. Pertunjukan Peresean yang biasanya terbuat dari rotan. Sedangkan alat penangkisnya disebut Penonton bisa mengajukan diri sebagai akseptor peresean, & juga akseptor bisa dipilih sang wasit di antara para penonton. Setelah akseptor sudah mencukupi buat dilakukan pertandingan, maka permasalahan mampu dimulai. yang terbuat dari kulit sapi.

Wasit pinggir (pekembar sedi) mencari pasangan pepadu berdasarkan para penonton, sedangkan wasit tengah (pekembar teqaq) yang akan memimpin pertandingan.

Para pemain yang bertanding disebut Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung).. Sistem pertandingan Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. dipimpin oleh seorang wasit yang disebut Pekembar dan di samping pekembar dikenal dengan tukang laga yang disebut Pengadok.

Pepadu memegang tongkat rotan pada ajun dan perisai di tangan kiri. Kedua pepadu harus saling serang buat mendapat skor tinggi dari para juri. Pepadu akan mendapat skor tertinggi bila mampu memukul kepala lawan.

Pemenang dalam Peresean dipengaruhi berdasarkan skor yg diperoleh pada lima ronde atau salah satu pepadu sudah mengibarkan bendera putih alasannya adalah yakni berdarah. Pepadu yang berdarah akan diobati tim medis menggunakan obat sejenis minyak. Minyak tersebut jikalau dioleskan nir mengakibatkan rasa perih.

Setelah bertarung, para pepadu bersalaman & berpelukan, tandanya nir terdapat rasa dendam antara ke 2 pepadu

Sesuai perkembangan zaman, ketika ini Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. digelar untuk menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur.

Dalam pertunjukan Peresean, terdapat musik pengiring buat menyemangati para pepadu sekaligus sebagai pengiring ke 2 pepadu menari. Alat musik yang dipakai sebagai pengiring adalah alat-indera musik tradisional menurut Nusa Tenggara Barat yaitu gong, sepasang kendang, rincik atau simbal, suling dan diditpharm.Blogspot.Com

Pada pertandingan atau pertujukan tradisi Peresean di Lombok, akseptor Peresean tidak dipersiapkan sebelumnya. Akan tetapi akseptor diambil eksklusif dari para penonton. Artinya penonton saling menantang dan salah satu penonton akan kalah kalau kepala/anggotan tubuh sudah berdarah.

Penonton sanggup mengajukan diri sebagai akseptor Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur., dan juga akseptor sanggup dipilih oleh wasit di antara para penonton. Setelah akseptor sudah mencukupi untuk dilakukan pertandingan, maka pertarungan sanggup dimulai.

Pada saat ini tradisi peresean seringkali ditampilkan untuk menyabut tamu-tamu atau wisatawan mancanegara yang bekunjung ke Lombok. Dalam peresean jua dikenal sportifitas tinggi, kalah maupun menang tetap saudara ialah nir terdapat dendam sampai pada luar arena.

Nilai budaya yang terkadung pada peresean yakni pantang menyerah, kerja keras, berani bersaing, kejujuran, & berjiwa kesatria.

Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung). memegang tongkat rotan di ajun dan perisai di tangan kiri. Kedua pepadu harus saling serang untuk mendapat skor tinggi dari para juri. Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung). akan mendapat skor tertinggi kalau sanggup memukul kepala lawan.

Pemenang dalam Peresean ditentukan dari skor yang diperoleh dalam 5 ronde atau salah satu pepadu sudah mengibarkan bendera putih alasannya yakni berdarah. Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung). yang berdarah akan diobati tim medis dengan obat homogen minyak. Minyak tersebut kalau dioleskan tidak menimbulkan rasa perih.

https://id.Wikipedia.Org/wiki/Peresean

4. Musik Pengiring Tradisi Peresean

Dalam pertunjukan Peresean, ada musik pengiring untuk menyemangati para pepadu sekaligus sebagai pengiring kedua pepadu menari. Alat musik yang dipakai sebagai pengiring merupakan alat-alat musik tradisional dari Nusa Tenggara Barat yaitu gong, sepasang kendang, rincik atau simbal, suling dan kanjar.

Musik Pengiring Peresean | diditpharm.blogspot.com

5. Perkembangan Tradisi Peresean

Pada ketika ini tradisi Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. sering ditampilkan untuk menyabut tamu-tamu atau wisatawan mancanegara yang bekunjung ke Lombok. Dalam Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. juga dikenal sportifitas tinggi, kalah maupun menang tetap saudara artinya tidak ada dendam hingga di luar arena.

Nilai budaya yang terkadung dalam Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. yakni pantang menyerah, kerja keras, berani bersaing, kejujuran, dan berjiwa kesatria.

Sumber :

http://budaya-indonesia.org/Peresean/

https://id.wikipedia.org/wiki/Peresean

Selasa, 14 September 2021

Tradisi Ojung (Ojhung) Dari Sumenep Madura

Tradisi Ojhung (Ojung) dari Sumenep Madura | TradisiKita - Tradisi masyarakat Indonesia memang sungguh unik. Keunikan ini justru menjadi daya tarik pariwisata dari suatu daerah. Demikian pula dengan Provinsi Jawa Timur yang mempunyai kekayaan budaya dan tradisi yang menarik wisatawan lokal maupun luar negeri. Selain objek pariwisata alam dan wisata kuliner khas Jawa Timur , ternyata provinsi Jawa Timur juga mempunyai tradisi unik berupa seni bertarung yang berasal dari kota yang juga terdapat olahraga tradisional karapan sapi ini. Tradisi bertarung yang telah dilakukan turun temurun tersebut dikenal dengan tradisi Ojung atau Ojhung yang berasal dari Batuputih, Sumenep.

Baca Juga : 6 Kesenian & Tradisi Jawa Timur

TRADISI OJUNG / OJHUNG

Sumenep merupakan kabupaten paling timur di pulau Madura dan dikenal sebagai salah satu kawasan tujuan wisata di propinsi Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Sumenep bera da di kecamatan Batuputih (Batopote). Dari sisi geografis, kecamatan Batuputih terletak di dataran tinggi. Dari sentra kota Sumenep berjeda ±20 km ke arah utara, Dilihat dari kondisi struktur tanah dan bentang alamnya yang berupa pegunungan, pastinya hal yang tampak yakni kekeringan atau kekurangan air serta tanah tadah hujan, Meskipun kenyataan ini menjadi suatu yang tak sanggup dihapuskan dari perjalanan masyarakat Batuputih menempuh kehidupan Tradisi Ojhung

OJHUNG yakni sebuah pertunjukan tradisional masyarakat Madura, khususnya kawasan Sumenep dan sekitarnya. Tradisi ojhung ini selalu dilakukan setiap demam isu kemarau panjang tiba. Awal mula tujuan dilakukan tradisi Ojhung ini yakni untuk mendatangkan hujan.  Namun alasannya yakni tradisi ini terancam punah, maka beberapa pihak pelaku pariwisata di Madura, berusaha menumbuhkan lagi tradisi Ojhung ini. Saat ini kesenian Ojhung mulai menyebar ke beberapa pelosok di Provinsi Jawa Timur.

Peralatan yang dipakai dalam tradisi permainan Ojhung sekaligus berfungsi sebagai senjata yakni tongkat rotan yang dipakai sebagai alat pukul. Alat tersebut oleh masyarakat setempat disebut lapalo atau kol-pokol . Selain itu, pemain memakai pelindung kepala (bhungkus atau bhuko) dan pembalut lengan kiri (bulen atau tangkes). Permainan diatur oleh seorang wasit yang oleh masyarakat setempat disebut bhubhuto. Dalam pengaplikasiannya, pertunjukan tersebut diiringi oleh orkes okol yang peralatan musiknya terdiri atas alat musik tradisional Jawa Timur berupa ghambang dan dhuk-dhuk.

Seni pertunjukan Ojhung ini sama dengan seni bertarung lainnya yang melibatkan 2 orang petarung dengan seorang wasit.  Tujuan utama para pemain Ojhung yakni berupaya memukul punggung lawan. Wasit akan menyatakan salah satu pemenang sehabis berhasil melukai punggung lawan atau menjatuhkan lapalo lawan. Pada pertandingan tertentu, wasit berhak menghentikan pertandingan yang menurutnya berat sebelah. Meskipun hal itu kadang dilakukan ketika kedua pemain masih saling menyerang. Tidak heran, kalau wasit juga mengalami luka-luka ketika menengahi pertandingan dan tidak heran juga kalau sebagian pendukung merasa kecewa dengan keputusan wasit. Walaupun begitu, tidak ada pemenang maupun pihak yang kalah dalam tradisi ini. Semua pulang sebagai saudara, dihentikan ada yang menyimpan dendam.

Lantaran permasalahan Ojhung ini bukan hal main-main, maka akseptor Ojhung adalah orang remaja yang mempunyai kekuatan fisik, bertubuh kebal & tentu saja memiliki keberanian buat bertarung.

Tradisi ojhung ini digelar setiap tahun untuk keselamatan desa. Masyarakat Sumenep mempercayai  kalau ritual ojhung tidak dilaksanakan biasanya seringkali ada perang saudara (atokar sataretanan) dan musibah-musibah yang lain.  Selain sebagai penolak baya, pagelaran Ojhung tersebut juga sebagai bentuk rasa syukur atas sumber air titisan K Moh Syakim yang terletak di Batuputih dimana telah berpuluh tahun  masih tetap mengalir deras tak mengenal musim.

Demikian Sobat Tradisi, Sekilas mengenai tradisi Ojung (Ojhung) pada Sumenep Madura - Jawa Timur. Semoga menambah wawasan nusantara Sobat Tradisi.