Tampilkan postingan dengan label Pertunjukan Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertunjukan Seni. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 September 2021

Sisingaan, Kesenian Tradisional Subang Jawa Barat

1. Sejarah Sisingaan | TradisiKita - Sisingaan adalah merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Kesenian Sisingaan menampilkan 2 patung singa yang masing-masing digotong oleh 4 orang penari dengan diiringi oleh alunan dari alat musik tradisional Jawa Barat.

Biasanya diatas patung sisingaan yang digotong oleh 4 orang penari, duduk seorang anak yang akan dikhitan atau seorang tokoh yang diarak dengan menggunakan kesenian sisingaan. Kesenian ini masih terus berkembang di Jawa Barat, bahkan beberapa daerah mempunyai kesenian yang menyerupai dengan kesenian sisingaan dari Subang, diantaranya Gotong Buroq dari Cirebon serta Gotong Domba dari Garut dan Sumedang.

Pada kesempatan ini TradisiKita akan mengupas Sisingaan yang merupakan kesenian tradisional Khas Subang Jawa Barat.

1. Sejarah Sisingaan

 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Subang 1. Sejarah Sisingaan
Kesenian Sisingaan | static.ucontest.info

1. Sejarah Sisingaan

Sejarah asal seruan Sisingaan mulai muncul pada dikala kaum penjajah menguasai Subang, yakni pada masa pemerintahan Belanda tahun 1812. Kabupaten Subang pada dikala itu dikenal dengan Doble Bestuur, dan dijadikan daerah perkebunan di bawah perusahaan P & T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden).

Pada dikala Subang di bawah kekuasaan Belanda, masyarakat setempat mulai diperkenalkan dengan lambang negara Belanda yakni crown atau mahkota kerajaan. Dalam waktu yang bersamaan daerah Subang juga di bawah kekuasaan Inggris, yang memperkenalkan lambang negaranya yakni singa . Sehingga secara administratif daerah Subang terbagi dalam dua bagian, yakni secara politis dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.

Masyarakat Subang dikala itu mendapat tekanan secara politis, ekonomis, sosial, dan budaya dari pihak Belanda maupun Inggris. Namun masyarakat tidak tinggal diam, mereka melaksanakan perlawanan, perlawanan tersebut tidak hanya berupa perlawanan fisik, namun juga perlawanan yang diwujudkan dalam bentuk kesenian. Bentuk kesenian tersebut mengandung silib (yakni pembicaraan yang tidak eksklusif pada maksud dan tujuan), sindir (ironi atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan), siloka (kiasan atau melambangkan), sasmita (contoh dongeng yang mengandung arti atau pengertian dan penjelasan).

Dengan demikian masyarakat Subang bisa mengekspresikan atau mewujudkan perasaan mereka secara terselubung, melalui sindiran, perumpamaan yang terjadi atau yang menjadi kenyataan pada dikala itu. Salah satu perwujudan atau bentuk mulut masyarakat Subang, dengan membuat salah satu bentuk kesenian yang kemudian dikenal dengan nama sisingaan .

Sisingaan Tempo Dulu | ilove-subang.blogspot.com

Kesenian sisingaan merupakan bentuk ungkapan rasa ketidakpuasan, ketiddialegangan, atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada pihak penjajah. Perwujudan dari rasa ketiddialegangan tersebut digambarkan dalam bentuk sepasang sisingaan, yaitu melambangkan kaum penjajah Belanda dan Inggris. Kedua Negara penjajah tersebut menindas masyarakat Subang, yang dianggap kurang pintar dan dalam kondisi miskin, sehingga para seniman berharap suatu dikala nanti generasi muda harus bisa bangkit, mengusir penjajah dari tanah air dan masyarakat bisa menikmati kehidupan yang sejahtera.

Pengusung sisingaan biasanya dari warga masyarakat, alasannya yaitu pada dikala itu belum terbentuk kelompok atau grup kesenian sisingaan, diantara mereka masih saling meminjam sisingaan. Gerakannya pun masih sangat sederhana dan dilakukan secara spontan, namun tidak menghilangkan gerakan yang mengandung pengertian dan klarifikasi heroik, atau gerak yang melambangkan keberanian dalam menghadapi musuh.

Gerakan yang ditampilkan dikala pertunjukan sisingaan dikala itu yaitu tendangan, lompatan, mincid, dan dorong sapi. Sedangkan busana atau pakaian yang dikenakan oleh pengusung sisingaan pada dikala itu hanya mengenakan kampret, pangsi, iket menyerupai masyarakat umumnya. Sedangkan kalau yang hajatan dari masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, busana yang dikenakan antara lain baju takwa, sinjang lancar, iket. Kemudian pada sekitar tahun 1960 an, busana pengusung sisingaan mulai mengalami perkembangan dan penyesuaian, menyerupai perubahan warna yang mencolok dan materi pakaian yang cukup baik.

Busana-busana yang mengalami perkembangan dan bervariasi sanggup dilihat dari yang dikenakan oleh para penari yang ikut dalam meramaikan pertunjukan, bahkan penonton yang tertarik sanggup ikut menari di depan sisingaan secara spontan. Baik yang yang ikut dari awal atau dikala sisingaan melewati tempat mereka atau kampong mereka. Sehingga kesenian sisingaan bisa dikatakan sebagai kesenian tradisional, kesenian rakyat yang bersifat terbuka, umum, dan spontan.

Pada bulan Juli tahun 1968 kesenian sisingaan mulai dimasukkan unsure ketuk tilu dan silat. Hal ini sanggup dilihat dari penggabungan atau kerjasama waditra yakni adanya perhiasan dua buah gendang besar (gendang indung), terompet, tiga buah ketuk, dan sebuah kulanter (gendang kecil), bende (gong kecil), serta kecrek. Patung sisingaan pun mulai ada perubahan yang cukup besar dan mendasar.

Untuk mengetahui perkembangan sisingaan ada beberapa bukti pergelaran pada masa kemudian antara lain, pada awal terbentuknya sisingaan sering ditampilkan pada dikala upacara peringatan hari ulang tahun P & T Lands. Sehingga kesenian ini semakin dikenal luas, meskipun belum terbentuk kelompok resmi kesenian sisingaan.

Penyambutan Gubernur Jenderal Belanda di Perkebunan Kasomalang

Pada masa sesudah kemerdekaan, pada masa orde baru, seniman sisingaan mulai mengangkat atau menggali penilaian-penilaian budaya yang terkandung dalam kesenian sisingaan, seiring dengan kreativitas seniman dalam menuangkan inspirasinya. Kemudian mulai bermunculan kelompok-kelompok kesenian sisingaan gres dengan ciptaan-ciptaan baru, namun demikian tetap masih ada koreografer-koreografer tradisional yang masih mendasarkan pada naluri atau tradisi dalam menggarap kesenian sisingaan.

Penyebutan sisingaan kadang kala berbeda di setiap daerah/wilayah, hal ini diubahsuaikan dengan yang mereka lihat dan mereka dengar. Kawasan Subang utara menyebut sisingaan dengan istilah pergosi atau Persatuan Gotong Sisingaan. Kemudian daerah lain menyebut sisingaan dengan istilah odong-odong, citot, kuda depok, kuda ungkleuk, kukudaan, kuda singa, singa depok.

Atas prakarsa para seniman sisingaan maka pada tanggal 5 Januari tahun 1988, diselenggarakan seminar kesenian sisingaan. Hasil seminar tersebut menetapkan untuk pembakuan dan penyeragaman dalam penyebutan sisingaan. Juga adanya keputusan bahwa sepasang sisingaan yaitu melambangkan dua penjajah, dan melambangkan kekuatan, kekuasaan, kebodohan, serta kemiskinan.

Kesenian sisingaan mulai diperkenalkan ke tingkat nasional pada dikala penyambutan kedatangan Presiden Soeharto, pada dikala hari Krida Tani tahun 1968 di Balanakan. Semenjak dikala itu sisingaan mulai ditetapkan, difungsikan sebagai kesenian untuk menyambut tamu terhormat/tamu kehormatan. Untuk mengangkat kesenian sisingaan Subang, para seniman mengubah sisingaan dari bentuk helaran ke bentuk pergelaran arena.

Even lain yang semakin memunculkan sisingaan yakni dikala tahun 1971 dikala penyelenggaraan Jakarta Fair, kesenian ini dipentaskan di panggung kesenian program tersebut. Kemudian pada tahun 1972 dipentaskan di Istana Bogor, pada tahun 1973 dipentaskan di Istana Negara, tahun 1981 menjadi duta seni Indonesia di Hongkong dan menjadi juara pertama. Pada tahun 1991 sisingaan diminta oleh panitia terjun paying internasional untuk mengadakan pergelaran di Jakarta. Kemudian pemerintah daerah secara rutin menyelenggarakan festivial sisingaan setiap tahun, sehingga dikala ini kesenian sisingaan tidak hanya menjadi milik masyarakat Subang, namun sudah menjadi milik nasional.

2. Fungsi dan Makna yang Terkandung dalam Kesenian Sisingaan

Kesenian sisingaan secara garis besarnya terdiri dari 4 orang pengusung sisingaan sepasang patung sisingaan, penunggang sisingaan, waditra nayaga, dan sinden atau juru kawih.

Secara filosofis 4 orang pengusung sisingaan melambangkan masyarakat pribumi yang terjajah atau tertindas. Sepasang patung sisingaan melambangkan kedua penjajah yakni Belanda dan Inggris. Sedangkan penunggang sisingaan melambangkan generasi muda yang nantinya harus bisa mengusir penjajah.

Nayaga melambangkan masyarakat yang bergembira atau masyarakat yang berjuang dan memmemberikan motivasi/semangat kepada generasi muda untuk sanggup mengalahkan serta mengusir penjajah dari daerah mereka.

Kesenian sisingaan yang diciptakan oleh para seniman pada dikala itu, sangat sempurna dan jitu menggunakan sisingaan sebagai sarana/perwujudan/alat perjuangan, dalam melepaskan diri dari tekanan kaum penjajah. Sementara itu pihak kaum penjajah tidak merasa disindir, tidak terusik, akan tetapi malah merasa gembira melihat kesenian sisingaan, alasannya yaitu lambang negara mereka (singa) dijadikan sebagai bentuk kesenian rakyat.

Pihak penjajah hanya memahami bahwa kesenian sisingaan merupakan karya seni hasil kreativitas masyarakat secara spontan, sangat sederhana untuk sarana hiburan pada dikala ada hajatan khitanan anak. Padahal maksud masyarakat Subang tidaklah demikian, dengan menggunakan lambang kebesaran Negara mereka, kemudian ada seorang anak yang naik di atasnya dengan menjambak rambut sisingaan, merupakan salah bentuk mulut kebencian kepada kaum penjajah.

3. Perkembangan Sisingaan

Pada awal terbentuknya sisingaan tidak menyerupai sisingaan pada dikala kini ini, cikal bakal sisingaan kini yakni singa abrug. Disebut dengan singa abrug alasannya yaitu patung singa ini dimainkan dengan cara diusung, dan pengusungnya aktif menari, sedangkan singa abrug tersebut digerakkan ke sana kemari menyerupai hendak diadu. Singa abrug untuk pertama kalinya berkembang di daerah Tambakan, Kecamatan Jalancagak.

Pada zaman berlalu dan silam sisingaan atau singa abrug dibentuk dengan sangat sederhana, bab muka atau kepala sisingaan terbuat dari kayu yang ringan menyerupai kayu randu atau albasia, rambut terbuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus. Sedangkan tubuh sisingaan terbuat dari carangka (keranjang atau anyaman bambu) yang besar dan ditutupi dengan karung kadut (karung goni) atau terbuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan. Untuk usungan sisingaan terbuat dari bambu untuk bisa dipikul oleh 4 orang. Proses pembuatan sisingaan biasanya dilakuakan secara bersama-sama, secara gotong royong oleh masyarakat.

4. Pertunjukan Sisingaan

Pada umumnya pertunjukan sisingaan diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok. Setelah pemimpin kelompok memmemberikankan kata sambutan, barulah anak yang akan dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki boneka singa.

Kemudian alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu-lagu yang memberikanrama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan. Selanjutnya sejumlah 8 orang pemain akan mulai menggotong dua buah boneka singa (satu boneka digotong oleh 4 orang).

Setelah para penggotong boneka singa siap, maka sang pemimpin akan mulai memmemberikankan arahan semoga mereka mulai melaksanakan gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. Para penggotong boneka itu segera melaksanakan gerakan-gerakan akrobatis yang cukup mendebarkan.

Gerakan-gerakan tarian yang biasa dimainkan oleh para penggotong boneka singa tersebut adalah: igeul ngayun glempang, pasang/kuda-kuda, mincid, padungdung, gugulingan, bangkaret, masang, sepakan dua, langkah mengundurkan diri , kael, ewag, jeblang, depok, solor, sesenggehan, genying, putar taktak, nanggeuy singa, angkat jungjung, ngolecer, lambang, pasagi tilu, melek cau, nincak rancatan, dan kakapalan.

5. Unsur Seni Tari dalam Sisingaan

Pengusung sisingaan harus mempunyai kekompakan, keseragaman gerak, dan keluwesan dalam menari untuk memmemberikankan tampilan keindahan yang menarik. Unsur tari sisingaan terdiri dari tiga bab yakni:

1. Naekeun

Naekeun yakni gerak tari yang pertama kali dilakukan untuk mengangkat anak yang dikhitan ke atas sisingaan. Gerak tari naekeun terdiri dari beberapa gerakan antara lain, pasang yaitu bersiap dan memasang kuda-kuda pada dikala sisingaan berada di pundak.

Gobyog, yakni gerakan naik turun sisingaan kemudian berlari.

Najong, yaitu melaksanakan tendangan kaki dan meletakkan sisingaan. Silat tepak tilu, yaitu melaksanakan gerakan silat menangkis, menendang, memukul, dan mengunci.

Depok tungkul, yakni menaikkan anak yang dikhitan ke atas sisingaan. Kidung yakni melagukan kidung yang diikuti dengan tarian, menendang, dan memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri.

Ewag, yakni menyanyikan lagu kidung yang diikuti dengan gerak tarian.

Mincid, yakni gerakan memindahkan usungan sisingaan dari bahu sambil memutarkan kepala.

Solor, yakni melaksanakan gerakan maju mengundurkan diri , yang diakhiri dengan gerakan tendangan.

Mincid badag, yakni gerakan atau tarian dengan diikuti bunyi gendang yang ludang kecepeh keras dan sambil melaksanakan tendangan.

2. Helaran

Helaran yaitu pergelaran/pagelaran yang dilakukan dengan cara berkeliling, atau sesuai dengan rute jalan yang telah ditentukan. Dalam kesenian sisingaan, helaran merupakan salah satu unsur yang harus dilaksanakan, alasannya yaitu hal ini telah menjadi ketentuan. Pada dikala helaran para pengusung melaksanakan gerakan tari dengan menjaga kekompakan, saling memperhatikan gerakan satu pengusung dengan pengusung lainnya.

Gerak tari yang dilakukan dalam helaran antara lain: mincid yaitu melaksanakan gerakan menyerupai berlari kecil dan diiringi dengan musik. Mincid terbagi dua yakni mincid badag (mengangkat kaki ludang kecepeh tinggi dengan irama musik keras), mincid sedeng (gerakan kaki ringan dan irama musik bertempo sedang). Najong, yakni gerakan menendangkan kaki ke depan, ke samping sesuai dengan irama gendang. Gopar/bangkaret, yakni gerakan menendang tapi ditarik kembali sebatas lutut. Meresan, yakni berjalan kecil-kecil sesuai dengan irama musik. Mars/incek, yakni berjalan kecil-kecil seiring irama yang cepat tapi halus.

Ewag, yakni gerak tari yang diikuti oleh lagu kangsreng. Gerak jaipong, yakni gerakan yang divariasikan dengan tarian jaipong di awal. Solor, yakni gerakan yang dilakukan dengan lari, kemudian menghentakkan kaki ke tanah (nenjrag). Mincid badag/mincid ngabrag, gerakan untuk ludang kecepeh mempercepat helaran dengan menghentakkan kaki ke tanah.

3. Atraksi/demonstrasi

Atraksi atau Demonstrasi merupakan variasi gerak dan tari pada sisingaan yang dilakukan untuk ludang kecepeh menyemarakkan dan mempunyai daya tarik. Dengan demikian penonton semakin takjub, terpukau melihat penampilan ini. Gerak dan tari yang ditampilkan dalam atraksi/demonstrasi antara lain: bubuka gebrag, yakni membuka gerakan dengan cara meloncat dan menggebrak sambil mengangkat sisingaan. Gobyog, yakni gerak naik turun sisingaan, kemudian berlari.

Najong, yakni menendangkan kaki ke depan dan ke samping, sesuai dengan irama gendang. Silat tepak tilu, yakni melaksanakan gerakan silat menangkis, menendang, memukul, dan mengunci. Kidung depok, yakni gerak tari yang diakhiri dengan berlutut, dengan irama yang lambat. Cisanggean, yakni gerakan penghubung antar atraksi. Ewag/ewag depok, yakni menyanyikan lagu kidung yang diikuti dengan gerak tari. Ewag luhur, yakni menyanyikan lagu kangsreng yang diikuti dengan gerak tari dan sisingaan diangkat. Mincid sedeng, yakni gerakan kaki ringan dan irama musik bertempo sedang.

Mincid variasi, yakni gerakan memindahkan sisingaan untuk berpindah pundak. Mincid solor, yakni gerakan yang dilakukan sesudah ewag dalam lagu kangsreng dan lagu polos.

Gondang, yakni gerakan mengundurkan diri perlahan-lahan kemudian menggebrak dan menyerang sambil meloncat, kemudian telungkup.

Bukaan jaipong, yakni memadukan tari jaipong dengan gerak tari sisingaan, sehingga terlihat ludang kecepeh variatif dan atraktif.

Geblag/gendut, yakni gerakan terakhir dari mincid tari jaipong sebelum masuk ke atraksi. Atraksi, beberapa atraksi yang sering ditampilkan dalam sisingaan antara lain oray-orayan, gugunungan, melak cau, dan sebagainya.

6. Musik Pengiring Kesenian Sisingaan

Pada awal mula munculnya kesenian Sisingaan Waditra / musik pengiring yang dipakai sangat sederhana, hanya menggunakan beberapa alat musik saja (seperti beberapa angklung pentatonis berlaras salendro), namun kemudian berkembang menyerupai dikala ini.

Adapun peralatan musik pengiring kesenian sisingaan tersebut antara lain:

- 2 buah angklung galimer

- 2 buah angklung indung

- 2 buah angklung pancer

- 2 buah angklung rael

- 2 buah angklung ambrug

- 1 buah angklung engklok

- 1 buah terompet

- 2 buah dogdog lonjor

- 1 buah bedug

- 3 buah terbang

Selain musik tradisional Jawa Barat yang mengiringi sisingaan juga dinyanyikan lagu-lagu pada masa itu antara lain lagu badud samping butut, manuk hideung, sireum beureum, dan lain-lain. Sedangkan untuk lagu pembuka biasanya menampilkan lagu tunggul kawung. Apabila yang mempunyai yaitu tokoh agama/ulama, maka lagu yang disajikan biasanya lagu yang bernuansa Islami atau shalawat nabi.

Selanjutnya musik pengiring kesenian sisingaan ini terus berkembang. Sehingga dimasukan unsur waditra atau karawitan, hal ini alasannya yaitu adanya imbas serta kreativitas seniman dalam memainkan alat musik.

Waditra sangat besar lengan berkuasa dan menjadi unsur yang sangat penting pada dikala helaran/pagelaran/pementasan, sehingga menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Pengembangan waditra tidak mengubah ciri khas dalam karawitan sisingaan, alasannya yaitu para seniman masih berpegang pada tradisi dan aturan-aturan (tetekon) sisingaan.

Waditra yang dipergunakan antara lain:

  • Satu buah gendang indung yang berfungsi untuk memmemberikankan tekanan irama musik.
  • Satu buah gendang kemprang yang berfungsi untuk mengatur irama musik.
  • Dua buah kulanter yang berfungsi untuk mengatur tempo dan satu lagi dipukul diakhir kenongan.
  • Satu buah goong yang berfungsi untuk mengakhiri wiletan.
  • Satu buah kempul yang berfungsi untuk mengisi irama.
  • Tiga buah bonang atau ketuk yang berfungsi untuk mengisi ketukan.
  • Satu buah terompet yang berfungsi sebagai melodi dan mewakili lagu.
  • Satu buah kecrek berfungsi untuk mempertegas tekanan irama.

Dengan waditra atau karawitan tersebut, maka sisingaan bisa memainkan musik penca dan jaipong. Sehingga kedua jenis musik tadi dijadikan sesuai ketentuan kesenian sisingaan. Juru kawih atau sinden merupakan penyanyi yang membawakan lagu daerah Jawa Barat dalam sisingaan. Juru kawih biasanya seorang wanita yang mempunyai bunyi merdu. Sedangkan lagu-lagu yang dibawakan antara lain: kesenian sisingaan,awi ngarambat, kembang beureum, buah kawung, arang-arang, siuh, senggot, sinur, tumbila diadu boksen, kulu-kulu sadunya, gondang.

7. Video Sisingaan Subang Masa Kini

Demikian Sobat Tradisi, Informasi mengenai Sisingaan yang merupakan kesenian tradisional Khas Subang, Jawa Barat. Semoga memberi manfaat.

Sumber :

  • BPSNT Bandung
  • /search?q=sejarah-kesenian-sisingaan-asal-subang
  • ilove-subang.blogspot.com

Sabtu, 25 September 2021

Peresean, Tradisi Pukul Rotan Dari Lombok

Peresean, Tradisi Pukul Rotan menurut Lombok | Peresean yakni pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras (perisai disebut ende). Jika di Sumenep Madura dikenal tradisi Ojung (Ojhung) , maka Tradisi Peresean ini dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Pada kesempatan ini, TradisiKita akan mengenalkan tradisi Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. yg berupa pertarungan tradisional dengan memakai rotan dan temang, yg dilakukan sang rakyat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada pembaca Portal TradisiKita.

Peresean, Tradisi Pukul Rotan menurut Lombok

Tradisi Peresean suku Sasak dua. Sejarah Peresean

Sejarah Peresean pada awal mulanya dilakukan dalam rangka melatih ketangkasan masyarakat terutama perjaka suku Sasak pada mengusir para penjajah. Latar belakang Peresean yakni pelampiasan penuh amarah para raja dalam masa lampau kadab menang pada perang tanding melawan musuh-musuhnya. Selain itu, lampau Peresean pula termasuk media yg digunakan sang para pepadu (petarung) buat melatih ketangkasan, ketangguhan, & keberanian pada bertanding.

Konon, Peresean jua menjadi upacara memohon hujan bagi suku Sasak di isu terkini kemarau. Hal ini jua sejalan menggunakan tradisi Ojung pada Sumenep Madura yg mengadakan tradisi Ojung pada ekspresi dominan kering.

Kata Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. berasal dari bahasa setempat yang artinya tameng (alat pelindung atau penangkis pukulan) lawan. Alat pemukulnya dinamakan Tiga. Pertunjukan Peresean yang biasanya terbuat dari rotan. Sedangkan alat penangkisnya disebut Penonton bisa mengajukan diri sebagai akseptor peresean, & juga akseptor bisa dipilih sang wasit di antara para penonton. Setelah akseptor sudah mencukupi buat dilakukan pertandingan, maka permasalahan mampu dimulai. yang terbuat dari kulit sapi.

Wasit pinggir (pekembar sedi) mencari pasangan pepadu berdasarkan para penonton, sedangkan wasit tengah (pekembar teqaq) yang akan memimpin pertandingan.

Para pemain yang bertanding disebut Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung).. Sistem pertandingan Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. dipimpin oleh seorang wasit yang disebut Pekembar dan di samping pekembar dikenal dengan tukang laga yang disebut Pengadok.

Pepadu memegang tongkat rotan pada ajun dan perisai di tangan kiri. Kedua pepadu harus saling serang buat mendapat skor tinggi dari para juri. Pepadu akan mendapat skor tertinggi bila mampu memukul kepala lawan.

Pemenang dalam Peresean dipengaruhi berdasarkan skor yg diperoleh pada lima ronde atau salah satu pepadu sudah mengibarkan bendera putih alasannya adalah yakni berdarah. Pepadu yang berdarah akan diobati tim medis menggunakan obat sejenis minyak. Minyak tersebut jikalau dioleskan nir mengakibatkan rasa perih.

Setelah bertarung, para pepadu bersalaman & berpelukan, tandanya nir terdapat rasa dendam antara ke 2 pepadu

Sesuai perkembangan zaman, ketika ini Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. digelar untuk menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur.

Dalam pertunjukan Peresean, terdapat musik pengiring buat menyemangati para pepadu sekaligus sebagai pengiring ke 2 pepadu menari. Alat musik yang dipakai sebagai pengiring adalah alat-indera musik tradisional menurut Nusa Tenggara Barat yaitu gong, sepasang kendang, rincik atau simbal, suling dan diditpharm.Blogspot.Com

Pada pertandingan atau pertujukan tradisi Peresean di Lombok, akseptor Peresean tidak dipersiapkan sebelumnya. Akan tetapi akseptor diambil eksklusif dari para penonton. Artinya penonton saling menantang dan salah satu penonton akan kalah kalau kepala/anggotan tubuh sudah berdarah.

Penonton sanggup mengajukan diri sebagai akseptor Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur., dan juga akseptor sanggup dipilih oleh wasit di antara para penonton. Setelah akseptor sudah mencukupi untuk dilakukan pertandingan, maka pertarungan sanggup dimulai.

Pada saat ini tradisi peresean seringkali ditampilkan untuk menyabut tamu-tamu atau wisatawan mancanegara yang bekunjung ke Lombok. Dalam peresean jua dikenal sportifitas tinggi, kalah maupun menang tetap saudara ialah nir terdapat dendam sampai pada luar arena.

Nilai budaya yang terkadung pada peresean yakni pantang menyerah, kerja keras, berani bersaing, kejujuran, & berjiwa kesatria.

Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung). memegang tongkat rotan di ajun dan perisai di tangan kiri. Kedua pepadu harus saling serang untuk mendapat skor tinggi dari para juri. Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung). akan mendapat skor tertinggi kalau sanggup memukul kepala lawan.

Pemenang dalam Peresean ditentukan dari skor yang diperoleh dalam 5 ronde atau salah satu pepadu sudah mengibarkan bendera putih alasannya yakni berdarah. Aturan Peresean yakni para pepadu tidak boleh memukul anggota tubuh kepingan bawah (kaki/paha), tetapi para pepadu diperbolehkan memukul anggota tubuh kepingan atas (ketua, pundak, dan punggung). yang berdarah akan diobati tim medis dengan obat homogen minyak. Minyak tersebut kalau dioleskan tidak menimbulkan rasa perih.

https://id.Wikipedia.Org/wiki/Peresean

4. Musik Pengiring Tradisi Peresean

Dalam pertunjukan Peresean, ada musik pengiring untuk menyemangati para pepadu sekaligus sebagai pengiring kedua pepadu menari. Alat musik yang dipakai sebagai pengiring merupakan alat-alat musik tradisional dari Nusa Tenggara Barat yaitu gong, sepasang kendang, rincik atau simbal, suling dan kanjar.

Musik Pengiring Peresean | diditpharm.blogspot.com

5. Perkembangan Tradisi Peresean

Pada ketika ini tradisi Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. sering ditampilkan untuk menyabut tamu-tamu atau wisatawan mancanegara yang bekunjung ke Lombok. Dalam Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. juga dikenal sportifitas tinggi, kalah maupun menang tetap saudara artinya tidak ada dendam hingga di luar arena.

Nilai budaya yang terkadung dalam Sesuai perkembangan zaman, waktu ini peresean digelar buat menyambut tamu atau wisatawan yg berkunjung ke Lombo, Nusa Tenggara Timur. yakni pantang menyerah, kerja keras, berani bersaing, kejujuran, dan berjiwa kesatria.

Sumber :

http://budaya-indonesia.org/Peresean/

https://id.wikipedia.org/wiki/Peresean

Rabu, 22 September 2021

Arja, Teater Tradisional Khas Bali

Arja, Teater Tradisional Khas Bali | TradisiKita - Indonesia memang Unik! Keunikan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Salah satu keunikan tradisi yang ada di Indonesia yaitu kesenian yang dikenal dengan nama Arja. Seni pertunjukan Arja ini cukup dikenal di Bali.

Pada kesempatan ini kita akan mengenal seluk beluk Teater Arja dari Bali. Sebagai keliru satu destinasi wisata Indonesia, Bali memang gencar berbagi kesenian wilayah. Sehingga kesenian-kesenian tradisional menyerupai halnya Arja terus berkembang sehingga terus lestari ditengah gencarnya kemajuan teknologi pada dunia.

Arja, Teater Tradisional Khas Bali

 Keunikan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara maupun domestik Arja, Teater Tradisional Khas Bali

Arja yaitu kesenian Bali berupa teater atau drama dan tari yang merupakan salah satu kesenian yang sangat digemari oleh masyarakat Bali. Arja merupakan seni teater yang sangat kompleks sebab merupakan perpaduan dari banyak sekali jenis kesenian yang hidup di Bali, menyerupai seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumentalia, puisi, seni peran, seni pantomime dan seni busana, Sesungguhnya Arja ini perpaduan antara dua pendukung teater, yaitu gagasan yang tiba dari para pemain dengan penonton. Sehingga Arja yaitu bentuk total teater yang komunikatif .

Asal Mula Arja

Arja diduga berkembang semenjak sekitar tahun 1814, yaitu pada pemerintahan I Dewa Gde Sakti di Puri Klungkung, ketika diadakannya upacara Pelebon yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Karangasem. Upacara Pelebon besar-besaran ini dimunculi oleh banyak sekali kalangan, termasuk raja-raja seluruh Bali. Pada ketika itu atas prakarsa I Dewa Agung Mangis asal Gianyar dan Dewa Agung Jambe digelarkan untuk pertama kalinya Arja.

Tiga fase perkembangan Arja adalah:

  • Arja Doyong yaitu Arja tanpa iringan gamelan dan dimainkan secara solo atau oleh satu orang.
  • Arja Gaguntangan yaitu dengan menggunakan gamelan Gaguntangan dan jumlah pelaku ludang keringh dari satu orang.
  • Arja Gede yang merupakan arja dengan struktur baku pertunjukan kini ini, dibawakan oleh banyak pelakon antara 10 orang hingga 15 orang.

Menjelang berakhirnya kala 20 lahirlah Arja Muani, dimana tiruana pemainnya pria, sebagian memerankan wanita. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat, terutama sebab mengmunculkan lawakan segar.

Arja saat itu dikenal dengan nama Dadap & lakon yg dipertunjukkan yaitu Limbur. Dadap yaitu nama sejenis pohon & pula berarti perisai. Pohon Dadap yaitu kayu sakti, sebagai lambang pemmembersihkanan atau indera penyucian yg sine qua non pada setiap upacara pada Bali. Ceritera-ceritera Arja sangat majemuk, berdasarkan Ceritera Panji, Ceritera Rakyat, Ceritera Mahabarata, Ramayana & sebagainya berkembang sampai ceritera-ceritera keseharian,

Pada tahun 1920-an sampai 1960-an, kesenian ini menemukan kejayaannya, dimana setiap pementasannya selalu dipadati penonton. Durasi Arja sangat panjang, yaitu sekitar lima-6 jam.Saat ini Arja sudah kehilangan popularitasnya oleh drama gong ,ini karena drama gong tidak terlalu usang durasinya serta nir banyak musik dan tarian sehingga ludang keringh simpel dipahami sang kalangan rakyat.

Arti Kata Arja

Nama Arja diduga berasal dari kata Reja (bahasa Sanskerta) yang berarti "keindahandanquot;. Gamelan yang biasa digunakan mengiringi Arja disebut "Gaguntangan" yang bersuara lirih dan merdu sehingga sanggup menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari.

Ciri Khas Teater Arja

Berbeda dari kesenian tradisional Bali lainnya, ciri khas arja dalam setiap pementasannya terlihat kesenian arja ini disamping mempunyai petuah anutan kebaikan, lelucon, dagelan, tarian dan seni drama yang tidak kalah dengan kesenian bali lainnya, arja juga selalu menonjolkan nyanyian menyerupai kekawin atau kidung - kidung tradisional Bali dan juga busana yang digunakan pun sandang watak Bali komplit .

Sedangkan musik atau gamelan menjadi pengiring dalam kesenian ini disebutkan dalam babad bali, arja dalam mulanya Arja hanya memakai gamelan Geguntangan, namun kira-kira sejak beberapa tahun pada perkembangan selanjutnya Arja diiringi dengan gamelan gong kebyar.

Lakon Arja

Sumber lakon Arja yang utama yaitu kisah Panji (Malat), kemudian lahirlah sejumlah kisah menyerupai Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.

Arja juga menampilkan lakon-lakon berdasarkan kisah rakyat menyerupai Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur & Cupak Grantang dan beberapa lakon yang diangkat menurut kisah Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yg dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh primer yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh & dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing - masing terdiri dari Punta & Kartala. Hampir tiruana daerah pada Bali masih mempunyai kelompok-grup Arja yang masih aktif.

Perkembangan Arja

Kesenian Arja masih tetap dilestarikan di Bali. Disamping kesenian arja ini bersifat sakral dalam upacara yadnya sebagai warisan budaya Bali, hingga ketika ini juga pementasannya sering terlihat dalam program - program hiburan dalam perayaan hari raya, program - program tabiat besar dan juga pesta kesenian Bali yang diadakan baik di Gedung Ksirarnawa maupun di Arda Chandra Art Center Denpasar Bali setiap tahun sekali.

Video Arja Bali

DemikianSobat Tradisi, sekilas isu tentang kesenian Arja, teater tradisional Khas Bali. Semoga berguna.

Referensi :

  • http://www.babadbali.com/seni/drama/dt-arja.htm
  • /search?q=apa-itu-arja-opera-unik-khas-bali_15
  • /search?q=apa-itu-arja-opera-unik-khas-bali_15

Selasa, 14 September 2021

Tradisi Ojung (Ojhung) Dari Sumenep Madura

Tradisi Ojhung (Ojung) dari Sumenep Madura | TradisiKita - Tradisi masyarakat Indonesia memang sungguh unik. Keunikan ini justru menjadi daya tarik pariwisata dari suatu daerah. Demikian pula dengan Provinsi Jawa Timur yang mempunyai kekayaan budaya dan tradisi yang menarik wisatawan lokal maupun luar negeri. Selain objek pariwisata alam dan wisata kuliner khas Jawa Timur , ternyata provinsi Jawa Timur juga mempunyai tradisi unik berupa seni bertarung yang berasal dari kota yang juga terdapat olahraga tradisional karapan sapi ini. Tradisi bertarung yang telah dilakukan turun temurun tersebut dikenal dengan tradisi Ojung atau Ojhung yang berasal dari Batuputih, Sumenep.

Baca Juga : 6 Kesenian & Tradisi Jawa Timur

TRADISI OJUNG / OJHUNG

Sumenep merupakan kabupaten paling timur di pulau Madura dan dikenal sebagai salah satu kawasan tujuan wisata di propinsi Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Sumenep bera da di kecamatan Batuputih (Batopote). Dari sisi geografis, kecamatan Batuputih terletak di dataran tinggi. Dari sentra kota Sumenep berjeda ±20 km ke arah utara, Dilihat dari kondisi struktur tanah dan bentang alamnya yang berupa pegunungan, pastinya hal yang tampak yakni kekeringan atau kekurangan air serta tanah tadah hujan, Meskipun kenyataan ini menjadi suatu yang tak sanggup dihapuskan dari perjalanan masyarakat Batuputih menempuh kehidupan Tradisi Ojhung

OJHUNG yakni sebuah pertunjukan tradisional masyarakat Madura, khususnya kawasan Sumenep dan sekitarnya. Tradisi ojhung ini selalu dilakukan setiap demam isu kemarau panjang tiba. Awal mula tujuan dilakukan tradisi Ojhung ini yakni untuk mendatangkan hujan.  Namun alasannya yakni tradisi ini terancam punah, maka beberapa pihak pelaku pariwisata di Madura, berusaha menumbuhkan lagi tradisi Ojhung ini. Saat ini kesenian Ojhung mulai menyebar ke beberapa pelosok di Provinsi Jawa Timur.

Peralatan yang dipakai dalam tradisi permainan Ojhung sekaligus berfungsi sebagai senjata yakni tongkat rotan yang dipakai sebagai alat pukul. Alat tersebut oleh masyarakat setempat disebut lapalo atau kol-pokol . Selain itu, pemain memakai pelindung kepala (bhungkus atau bhuko) dan pembalut lengan kiri (bulen atau tangkes). Permainan diatur oleh seorang wasit yang oleh masyarakat setempat disebut bhubhuto. Dalam pengaplikasiannya, pertunjukan tersebut diiringi oleh orkes okol yang peralatan musiknya terdiri atas alat musik tradisional Jawa Timur berupa ghambang dan dhuk-dhuk.

Seni pertunjukan Ojhung ini sama dengan seni bertarung lainnya yang melibatkan 2 orang petarung dengan seorang wasit.  Tujuan utama para pemain Ojhung yakni berupaya memukul punggung lawan. Wasit akan menyatakan salah satu pemenang sehabis berhasil melukai punggung lawan atau menjatuhkan lapalo lawan. Pada pertandingan tertentu, wasit berhak menghentikan pertandingan yang menurutnya berat sebelah. Meskipun hal itu kadang dilakukan ketika kedua pemain masih saling menyerang. Tidak heran, kalau wasit juga mengalami luka-luka ketika menengahi pertandingan dan tidak heran juga kalau sebagian pendukung merasa kecewa dengan keputusan wasit. Walaupun begitu, tidak ada pemenang maupun pihak yang kalah dalam tradisi ini. Semua pulang sebagai saudara, dihentikan ada yang menyimpan dendam.

Lantaran permasalahan Ojhung ini bukan hal main-main, maka akseptor Ojhung adalah orang remaja yang mempunyai kekuatan fisik, bertubuh kebal & tentu saja memiliki keberanian buat bertarung.

Tradisi ojhung ini digelar setiap tahun untuk keselamatan desa. Masyarakat Sumenep mempercayai  kalau ritual ojhung tidak dilaksanakan biasanya seringkali ada perang saudara (atokar sataretanan) dan musibah-musibah yang lain.  Selain sebagai penolak baya, pagelaran Ojhung tersebut juga sebagai bentuk rasa syukur atas sumber air titisan K Moh Syakim yang terletak di Batuputih dimana telah berpuluh tahun  masih tetap mengalir deras tak mengenal musim.

Demikian Sobat Tradisi, Sekilas mengenai tradisi Ojung (Ojhung) pada Sumenep Madura - Jawa Timur. Semoga menambah wawasan nusantara Sobat Tradisi.