Arja, Teater Tradisional Khas Bali | TradisiKita - Indonesia memang Unik! Keunikan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Salah satu keunikan tradisi yang ada di Indonesia yaitu kesenian yang dikenal dengan nama Arja. Seni pertunjukan Arja ini cukup dikenal di Bali.
Pada kesempatan ini kita akan mengenal seluk beluk Teater Arja dari Bali. Sebagai keliru satu destinasi wisata Indonesia, Bali memang gencar berbagi kesenian wilayah. Sehingga kesenian-kesenian tradisional menyerupai halnya Arja terus berkembang sehingga terus lestari ditengah gencarnya kemajuan teknologi pada dunia.
Arja, Teater Tradisional Khas Bali

Arja yaitu kesenian Bali berupa teater atau drama dan tari yang merupakan salah satu kesenian yang sangat digemari oleh masyarakat Bali. Arja merupakan seni teater yang sangat kompleks sebab merupakan perpaduan dari banyak sekali jenis kesenian yang hidup di Bali, menyerupai seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumentalia, puisi, seni peran, seni pantomime dan seni busana, Sesungguhnya Arja ini perpaduan antara dua pendukung teater, yaitu gagasan yang tiba dari para pemain dengan penonton. Sehingga Arja yaitu bentuk total teater yang komunikatif .
Asal Mula Arja
Arja diduga berkembang semenjak sekitar tahun 1814, yaitu pada pemerintahan I Dewa Gde Sakti di Puri Klungkung, ketika diadakannya upacara Pelebon yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Karangasem. Upacara Pelebon besar-besaran ini dimunculi oleh banyak sekali kalangan, termasuk raja-raja seluruh Bali. Pada ketika itu atas prakarsa I Dewa Agung Mangis asal Gianyar dan Dewa Agung Jambe digelarkan untuk pertama kalinya Arja.Tiga fase perkembangan Arja adalah:
- Arja Doyong yaitu Arja tanpa iringan gamelan dan dimainkan secara solo atau oleh satu orang.
- Arja Gaguntangan yaitu dengan menggunakan gamelan Gaguntangan dan jumlah pelaku ludang keringh dari satu orang.
- Arja Gede yang merupakan arja dengan struktur baku pertunjukan kini ini, dibawakan oleh banyak pelakon antara 10 orang hingga 15 orang.
Menjelang berakhirnya kala 20 lahirlah Arja Muani, dimana tiruana pemainnya pria, sebagian memerankan wanita. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat, terutama sebab mengmunculkan lawakan segar.
Arja saat itu dikenal dengan nama Dadap & lakon yg dipertunjukkan yaitu Limbur. Dadap yaitu nama sejenis pohon & pula berarti perisai. Pohon Dadap yaitu kayu sakti, sebagai lambang pemmembersihkanan atau indera penyucian yg sine qua non pada setiap upacara pada Bali. Ceritera-ceritera Arja sangat majemuk, berdasarkan Ceritera Panji, Ceritera Rakyat, Ceritera Mahabarata, Ramayana & sebagainya berkembang sampai ceritera-ceritera keseharian,
Pada tahun 1920-an sampai 1960-an, kesenian ini menemukan kejayaannya, dimana setiap pementasannya selalu dipadati penonton. Durasi Arja sangat panjang, yaitu sekitar lima-6 jam.Saat ini Arja sudah kehilangan popularitasnya oleh drama gong ,ini karena drama gong tidak terlalu usang durasinya serta nir banyak musik dan tarian sehingga ludang keringh simpel dipahami sang kalangan rakyat.
Arti Kata Arja
Nama Arja diduga berasal dari kata Reja (bahasa Sanskerta) yang berarti "keindahandanquot;. Gamelan yang biasa digunakan mengiringi Arja disebut "Gaguntangan" yang bersuara lirih dan merdu sehingga sanggup menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari.Ciri Khas Teater Arja
Berbeda dari kesenian tradisional Bali lainnya, ciri khas arja dalam setiap pementasannya terlihat kesenian arja ini disamping mempunyai petuah anutan kebaikan, lelucon, dagelan, tarian dan seni drama yang tidak kalah dengan kesenian bali lainnya, arja juga selalu menonjolkan nyanyian menyerupai kekawin atau kidung - kidung tradisional Bali dan juga busana yang digunakan pun sandang watak Bali komplit .Sedangkan musik atau gamelan menjadi pengiring dalam kesenian ini disebutkan dalam babad bali, arja dalam mulanya Arja hanya memakai gamelan Geguntangan, namun kira-kira sejak beberapa tahun pada perkembangan selanjutnya Arja diiringi dengan gamelan gong kebyar.
Lakon Arja
Sumber lakon Arja yang utama yaitu kisah Panji (Malat), kemudian lahirlah sejumlah kisah menyerupai Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat.Arja juga menampilkan lakon-lakon berdasarkan kisah rakyat menyerupai Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur & Cupak Grantang dan beberapa lakon yang diangkat menurut kisah Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yg dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh primer yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh & dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing - masing terdiri dari Punta & Kartala. Hampir tiruana daerah pada Bali masih mempunyai kelompok-grup Arja yang masih aktif.
Perkembangan Arja
Kesenian Arja masih tetap dilestarikan di Bali. Disamping kesenian arja ini bersifat sakral dalam upacara yadnya sebagai warisan budaya Bali, hingga ketika ini juga pementasannya sering terlihat dalam program - program hiburan dalam perayaan hari raya, program - program tabiat besar dan juga pesta kesenian Bali yang diadakan baik di Gedung Ksirarnawa maupun di Arda Chandra Art Center Denpasar Bali setiap tahun sekali.Video Arja Bali
DemikianSobat Tradisi, sekilas isu tentang kesenian Arja, teater tradisional Khas Bali. Semoga berguna.
Referensi :
- http://www.babadbali.com/seni/drama/dt-arja.htm
- /search?q=apa-itu-arja-opera-unik-khas-bali_15
- /search?q=apa-itu-arja-opera-unik-khas-bali_15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar